Sketsa News
Home Berita Terkini, Citizen-Jurnalism, Headlines, News Penjelasan Dedi Mulyadi, Pembelaan FPI “Campur Racun,” Habib Rizieq Berbuntut ke Kepolisian

Penjelasan Dedi Mulyadi, Pembelaan FPI “Campur Racun,” Habib Rizieq Berbuntut ke Kepolisian

Sketsanews.com – Pelesetan salam sampurasun menjadi campur racun, Rizieq Syihab, Ketua Front Pembela Islam Habib  dilaporkan oleh Denda Alamsyah dari organisasi massa Angkatan Muda Siliwangi (AMS).

Habib Rizieq diaporkan Polisi oleh AMS gegara merubah sampurasun menjadi campur racun | Foto @wartadotco

“Tentu saja Kepolisian Daerah Jawa Barat akan melihat persyaratan-persyaratan formal maupun material dari perkara yang dilaporkan oleh saudara Denda Alamsyah tadi,” kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Polisi Sulistyo Pudjo, dalam wawancaranya dengan BBC.

“Kemudian saksi-saksi akan kita panggil, kemudian bukti digital karena ada di Facebook, ada di YouTube, maupun saksi-saksi yang mendengarkan pada waktu Bapak Habib Rizieq diundang di acara di Purwakarta tersebut,” kata lanjut Kombes Polisi Sulistyo Pudjo.

“Ini mengenai rasa ya. Jadi kalau sampurasun itu kata yang bermakna sangat baik tapi ke campur racun bermakna tidak baik. Dan ini bisa menimbulkan ketersinggungan kelompok masyarakat, yaitu masyarakat Sunda,” jelas Sulistyo.

 

Pembelaan dari FPI

Menurutnya, ceramah Habib Rizieq isinya hanya ingin menyelamatkan umat Islam Purwakarta dari berbagai hal yang mengarahkan pada perusakan akidah. “Kami punya bukti rekaman ceramah yang utuh, kemudian video berdurasi 43 detik yang dianggap melecehkan itu bisa saja diedit dan dengan sengaja poinnya diarahkan kedalam fitnah besar,” kata Kyai Kohar kepada

Ia menjelaskan, yang dipermasalahkan sebenarnya itu adalah upaya Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang sedang mengkampanyekan salam ‘sampurasun’ sebagai ganti ‘assalamualaikum’. Itu yang dianggap sedang meracuni akidah umat Islam. Karena itulah, para ulama di Purwakarta menilai tindakan Bupati yang sedang meracuni akidah itu dikatakan sebagai ‘campur racun’.

“Kata-kata ‘campur racun’ sendiri itu keluar dari para ulama Purwakarta dalam diskusi sebelum ceramah Habib Rizieq, saya jadi saksinya karena ikut disitu,” ungkapnya.

Jadi, kata dia, ajakan dari Bupati Dedi yang mengkampanyekan ‘sampurasun’ untuk menggeser ‘assalamuaikum’ itu adalah racun yang bisa meracuni akidah umat Islam, sehingga muncullah kata-kata dari para ulama Purwakarta yaitu ‘campur racun’ itu.

“Jadi bukan plesetan ‘sampurasun’ jadi ‘campur racun’ dalam konteks menghina sapaan sunda, bukan itu. Maksudnya kampanye Bupati Dedi yang mengkampenyekan ‘sampurasun’ sebagai pengganti ‘assalamualaikum’ yang diperintahkan Allah dan RasulNya itulah yang dianggap para ulama Purwakarta sebagai racun akidah,” jelasnya dalam rilis di SuaraIslam.

*** Salah satu komentar pedas dari Fans Page Facebook Front Pembela Islam

Salam ‘sampurasun’ sendiri itu tidak ada masalah. “Selama budaya tidak melanggar akidah dan syariat itu baik-baik saja,” ucapnya.

Menurut Wakil Sekretaris DPP FPI Bidang Dakwah Habib Salim Alatas yang akrab disapa Habib Selon yang dikonfirmasi, Rabu oleh Detik (25/11/2015) apa yang disampaikan Rizieq adalah dakwah.

“Laporan itu nggak usah ditanggapi, itu dalam dakwah menunjukkan penerangan kepada masyarakat,” jelas Selon.

Ucapan Rizieq yang disoal terkait dakwah pada 15 November lalu di Purwakarta dan sudah tersebar di YouTube videonya. Lalu apakah FPI akan meminta maaf?

“Minta maaf sama siapa? Apa Gubernur Jawa Barat merasa rugi atau merasa tersinggung?” tutup dia.

 

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi |Kang Dedi Mulyadi @DediMulyadi71

Makna Sampurasun menurut Penjelasan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi

“Berasal dari kalimat “sampurna ning ingsun” yang memiliki makna “sempurnakan diri Anda”,” jelas Dedi kepada Detik, Rabu (25/11/2015).

Berikut Catatan Kecil tentang Makna “Sampurasun” Kang Dedi Mulyadi  @DediMulyadi71 pemilik akun resmi bupati Purwakata

Berasal dari kalimat “sampurna ning ingsun” yang memiliki makna “sempurnakan diri Anda”. Kesempurnaan diri adalah tugas kemanusiaan yang meliputi penyempurnaan pandangan, penyempurnaan pendengaran, penyempurnaan penghisapan, penyempurnaan pengucapan, yang kesemuanya bermuara dalam kebeningan hati. Pancaran kebeningan hati akan mewujudkan sifat kasih sayang hidup manusia, maka orang Sunda menyebutnya sebagai ajaran Siliwangi; silih asah, silih asih, silih asuh.

Ketajaman indrawi orang sunda dalam memaknai sampurasun melahirkan karakter waspada permana tinggal (ceuli kajaga ku runguna, panon kajaga ku awasna, irung kajaga ku angseuna, letah kajaga ku ucapna, yang bermuara pada hate kajaga ku ikhlasna). Waspada permana tinggal bukanlah sikap curiga pada seluruh keadaan, tetapi merupakan manifestasi dari perilaku sosok sunda yang deudeuhan, welasan, asihan, nulung sunda yang deudeuhan, welasan, asihan, nulung kanu butuh, nalang kanu susah, nganteur kanu sieun, nyaangan kanu poekeun (selalu bersikap tolong menolong terhadap sesama hidup).

Sikap ini melahirkan budaya gotong royong yang dilandasi oleh semangat sareundeuk saigel, sabobot sapihanean, ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salogak. Sistem komunalitas yang bermuara pada kesamaan titik penggerak (museur/berpusat) pada yang maha Tunggal Penguasa Seluruh Kesemestaan.

Memusatkan seluruh energi kemanusiaan pada Kemahatunggalan Allah Penguasa Alam Semesta melahirkan karakter hilangnya sifat peng-aku-an dalam diri orang sunda. Hirup kudu sasampeuran, awak ukur sasampayan, sariring riring dumadi, sarengkak saparipolah sadaya kersaning Gusti Nu Maha Suci (Tak ada sedikitpun pengakuan dan keakuan dalam diri). Sifat totalitas ini melahirkan sosok yang bernama Rawayan Jati Ki Sunda.

(in)

%d blogger menyukai ini: