Sketsa News
Home News, Opini Pedas! KSAU : Buat Sayap Aja Tidak Bisa! Apalagi Helikopter Kepresidenan

Pedas! KSAU : Buat Sayap Aja Tidak Bisa! Apalagi Helikopter Kepresidenan

Sketsanews.com – Ini Marsekal menghina Industri dalam negeri. Komentar? twit Didik J Rachbini lewat akun twitter @DJRachbini pada 17.34 – 28 Nov 2015 dengan cuplikan dari berita yang dipublikasikan okezone.

ksau-pt-di-buat-sayap-gak-bisa-apalagi-helikopter

“Sekarang kan wartawan sudah pintar-pintar, coba saja lihat PT DI itu seperti apa. Jangan semua suruh beli dari PT DI, ini politisasi. Kalau nanti helikopter (EC 275 Coungar) ada apa-apa bagaimana? Siapa yang mau disalahkan?” ujar Marsekal TNI Agus Supriatna saat dikonfirmasi awak media, Jumat (27/11/2015).

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna menegaskan pihaknya tetap memilih helikopter AW-101 dalam rangka memberi pelayanan terhadap kepala negara serta tamu negara. Ia menyingkirkan EC-725 bikinan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) lantaran sudah melalui proses kajian.

Mantan Kasum TNI itu lantas mengingat pengalaman prajurit matra udara saat memesan helikopter Super Puma pada rencana strategis (renstra) 2009-2014. Saat itu, TNI AU baru menerima sembilan dari 16 unit helikopter Super Puma yang dipesan.

“16 unit Super Puma yang dipesan, tetapi TNI AU hanya menerima sembilan helikopter. Sementara pengiriman tidak tepat waktu sehingga mengganggu proses operasional,” imbuhnya.

Sebab itu, TNI AU kini terkesan cuek terhadap PT DI untuk memproduksi sisanya. Bahkan, Agus menganggap bahwa PT DI tidak mampu memproduksi alutsista udara.

“Saya rasa bikin sayap saja (PT DI) tidak bisa,” pungkasnya.

 

Harga Helikopter AgustaWestland AW 101 Rp 288 miliar

Salah satu situs mengenai industri penerbangan dunia, Prime Industries bahkan menyebut, helikopter Jokowi ini adalah yang termahal saat ini. Dikutip dari situs tersebut, Kamis (26/11/2015), AgustaWestland AW 101 dibanderol dengan harga US$ 21 juta atau sekitar Rp 288 miliar (Kurs: Rp 13.732/dolar).

Helikopter lebar yang cukup menampung hingga 30 penupang ini bisa menempuh kecepatan hingga 309 km per jam. Dijadwalkan, helikopter ini nakal tiba di Indonesia pada April 2016, dikutip dari Liputan6.

 

Rencana Strategis (Renstra) TNI-AU 2015-2019

Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsma Dwi Badarmantyo mengatakan, hingga tahun 2019, ditargetkan TNI-AU akan mengelola 6 helicopter VVIP ini dan sudah masuk dalam Rencana Strategis (Renstra) TNI-AU 2015-2019.

Helikopter kepresidenan jenis Agusta Westland AW-101 ini akan dioperasikan oleh Skuadron Udara 45 VVIP, yang berpangkalan di Lanud Halim. Saat ini, Skuadron 45 mengoperasikan helikopter kepresidenan jenis Super Puma buatan Perancis yang dirakit di PT Dirgantara Indonesia tahun 1980-an.

Selama ini, Skuadron Udara 45 yang dibentuk sejak tahun 2011 mengoperasikan lima helikopter Super Puma. Mereka sebelumnya tergabung dalam Skuadron Udara 17 VVIP yang mengoperasikan pesawat fixed wing dan rotary wing (helikopter).‎

 

Tanggapan Jokowi

Terkait ha‎l itu, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengaku tidak tahu perihal pengadaan dan dana yang dibutuhkan untuk membeli helikopter baru tersebut.

“Coba ditanyakan ke Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU). (Soal dana) Enggak ngerti, tanyakan ke KSAU,” kata Jokowi di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (28/11/2015).

Dia menjelaskan, keputusan untuk melakukan pembelian merupakan tanggung jawab KSAU. Oleh karena itu, dia pun melimpahkan pada Marsekal Madya Agus Supriatna untuk menjelaskan persoalan tersebut, dikutip dari Liputan6.

(in)

%d blogger menyukai ini: