Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Hasil Investigasi Jatuhnya AirAsia QZ8501, Berikut Rekomendasinya

Hasil Investigasi Jatuhnya AirAsia QZ8501, Berikut Rekomendasinya

Sketsanews.com – Pelaksana tugas (Plt) Kasubkom Investigasi Kecelakaan Transportasi Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo menyampaikan beberapa rekomendasi hasil investigasi kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di perairan Selat Karimata 28 Desember 2014 lalu.

Bangkai badan pesawat AirAsia QZ8501 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta
Bangkai badan pesawat AirAsia QZ8501 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta

Sebagaimana dilansir dari tribunnews.com, menurutnya, rekomendasi diberikan kepada sejumlah pihak antara lain Indonesia AirAsia, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Airbus, Federal Aviation Administratif dan European Aviation Safety Administration (EASA).

KNKT secara khusus merekomendasikan kepada Indonesia AirAsia dan Airbus. Untuk Indonesia AirAsia, KNKT meminta agar membuat prosedur komunikasi antara pilot dan co-pilot. Terutama saat pesawat sudah terbang di atas ketinggian 10 ribu kaki‎.

“Yang kedua‎, para pilotnya harus dilatih bagaimana mengambil alih kendali dari satu pilot ke pilot lainnya saat terbang dalam keadaan kritis,” kata Nurcahyo dalam konferensi pers di kantor KNKT, Jakarta Pusat, Selasa (1/12/2015).

Dia mengatakan, Indonesia AirAsia ,pascakejadia telah melakukan 51 tindakan perbaikan. Hal itu sebagai upaya dalam rangka memperbaiki keadaan pesawat yang ada.

“Namun demikian ada hal yang masih kami tambahkan, yaitu agar dibuatkan prosedur untuk pilot tadi. Prosedur itu tadinya belum ada. Jadi kita minta untuk dibuat. Sehingga nantinya kalau prosedur itu belum ada, ya pilotnya tidak bisa ikut,” katanya.

Selanjutnya KNKT juga memberikan rekomendasi kepada perusahaan pembuat pesawat Airbus. Perusahaan asal Perancis itu diminta membuat suatu metode pencegahan kepada pilot. Tujuannya, agar saat terbang pilot tidak melakukan improvisasi penanganan masalah pada pesawat di luar prosedur yang semestinya.

“Kepada Airbus kita minta agar dibuat metode pencegahan kepada pilot untuk tidak berimprovisasi di luar prosedur,” ujar Cahyo.

Rekomendasi itu diminta KNKT, mengingat pilot berinisiatif melakukan penanganan yang berbeda di luar prosedur
terhadap gangguan keempat setelah 3 gangguan awal pada Rudder Travel Limiter (RTL) pesawati AirAsia QZ8501 muncul.

Dari penanganan berbeda pada gangguan keempat itu mengakibatkan arus listrik ke Flight Augmentation Computer (FAC) terputus. Padahal FAC itu mengatur 7 komponen penting lainnya dalam pesawat. Termasuk RTL.

Akibat terputusnya aliran listrik pada FAC, maka RTL menjadi mati dan auto-pilot ‎serta auto-thrust tidak berfungsi. Dari sini mengakibatkan rangkaian kejadian lainnya sebelum pesawat
nahas itu jatuh ke laut.

“Kami juga minta kepada Airbus, agar semua pilot Airbus di seluruh dunia diajari upset recovery training (pelatihan memperbaiki kondisi pesawat yang tidak wajar). Artinya (dengan pelatihan itu), pesawat yang dalam kondisi posisi atau sikap yang tidak wajar bisa dikembalikan (ke level normal) oleh pilotnya,” kata Cahyo.

Diberitakan sebelumnya, pesawat Airbus A320 yang dioperasikan oleh PT Indonesia AirAsia berangkat dari Bandar Udara Juanda, Surabaya pada pukul 05.35 WIB, 28 Desember 2014, menuju Bandar Udara Changi, Singapura dengan ketinggian jelajah 32.000 kaki di atas permukaan air laut.

Pesawat itu mengangkut 162 orang, yang terdiri dari dua pilot, empat awak kabin dan 156 penumpang termasuk seorang engineer. (Fg)

%d blogger menyukai ini: