Sketsa News
Home News Fpi Robohkan Mushola Mbah Min yang Janjikan Syurga di Cilacap

Fpi Robohkan Mushola Mbah Min yang Janjikan Syurga di Cilacap

Sketsanews.com –  Ulah Mukmin Sadimin (53) alias Mbah Min yang sesat berbuntut dirobohkannya mushola Al Barokah di padepokan miliknya oleh FPI setelah melalui mediasi di Polsek Nusawungu pada Senin (30/11/2015) lalu. Mbah Min yang menyimpan 2 “selir,” juga tobat.

Warta Banyumas yang dihimpun oleh PojokSatu mewartakan, sebelum modusnya terbongkar, warga di daerah itu tak melihat gelagat kurang baik dari padepokan yang dipimpin oleh Mbah Min. Tak kelihatan ajaran-ajaran yang menyimpang. Namun baru-baru ini terkuak bahwa para murid di padepokannya dijanjikan surga milik Mukmin Sadimin.

Itulah yang membuat dua orang murid wanitanya rela hidup bersama sang guru di padepokan itu tanpa ikatan yang sah. Di luar itu, Mbah Min sudah punya dua orang istri yang dinikahinya secara sah.

Terungkapnya aksi Mbah Min membuat resah warga. Terutama organisasi masyarakat Front Pembela Islam (FPI) Cilacap. Mereka mendesak Mbah Min tobat dan segera angkat kaki dari Desa Karang Tawang.

Karena desakan FPI, digelarlah mediasi di Mapolsek Nusawungu, Senin (30/11) lalu. Mbah Min yang hadir didampingi dua istrinya akhirnya setuju untuk angkat kaki dari padepokan.

Usai mediasi itu, Mbah Min yang ditemui Radar Banyumas (grup JPNN) mengaku sudah tobat. Dia ingin hidup normal dan kembali ke desa. Sebelumnya dia bersama istri-istrinya memang hidup terpisah dari warga lainnya di lahan milik TNI di Desa Karangtawang.

“Ya saya sudah mengaku kesalahan saya dan saya ingin hiidup normal. Soal gubug nanti saya akan bongkar sendiri. Sedang mushola saya serahkan kepada yang berwajib. Dan saya berjanji tidak akan melakukannya lagi,” kata dia.

Meski sesuai kesepakatan dan tidak dilarang aparat, aksi FPI membongkar musala Mbah Min tetap disayangkan Kepala Desa Karang Tawang Sadir. Pasalnya, dia tidak diberitahu lebih dulu akan aksi tersebut.

Dia sebenarnya berharap jika memang akan dibongkar harusnya ada koordinasi dengan desa. Sehingga desa bisa membantu merobohkan dan menjaga material bangunanya tidak rusak.

“Sebab tidak diberitahu. Tahu-tahu katanya sudah di robohkan. Sehingga saya tidak tahu prosedurnya sudah benar atau belum,” kata dia, dikutip dari JPNN.

 

(in)

%d blogger menyukai ini: