Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News BNPT Gandeng Mantan Teroris

BNPT Gandeng Mantan Teroris

antief86f1a8-0651-4f77-a92a-da6fd4aa01d9_169
Sketsanews.com – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus melakukan tindakan pencegahan paham radikalisme. BNPT pun menggandeng para mantan teroris dalam upayanya.

Melansir Detik.com, Kepala BNPT Komjen Saud Usman mengatakan, “Kita datangkan mantan teroris. Kemudian juga kegiatan rehabilitasi. Mereka bilang kafir, kita kasih wawasan kebangsaan. Kita sama-sama turun,” ujarnya dalam rakor antisipasi Konflik SARA dan bahaya terorisme di Ibukota Negara.

Rakor tersebut diselenggarakan di Hotel Royal Kuningan, Setiabudi, Jaksel, Sabtu (12/12/2015). Hadir dalam rakor yang diinisiasi DPD RI itu sejumlah pemangku kepentingan di Jakarta seperti Wagub DKI Djarot Syaiful Hidayat.

Dengan menggunakan langkah persuasif kepada mantan teroris, Saud bermaksud agar mereka tidak memberikan pengaruh buruk kepada masyarakat lain di Indonesia. BNPT berusaha memberikan solusi kepada mantan teroris tersebut.

Dia menambahkan, “Makanya untuk menangani masalah ini kita bentuk mantan kombatan Afghanistan, ISIS, Filipina dan GAM. Kita diskusi, kita cari solusinya. Terutama pekerjaan. Bagaimana cari solusi agar mereka ada pekerjaan. Kalau kita biarkan mereka bakal ada masalah terus,” papar Saud.

BNPT pun menggunakan pendekatan secara halus dalam penanggulangan terorisme dengan melibatkan babinkamtibnas dan siskamling. Dengan hal ini, Saud berharap agar BNPT dapat menjaga masyarakat agar tidak terpengaruh paham radikalisme yang akan menyebabkan aksi-aksi teror.

Dia mengungkapkan, “Ciri-ciri teroris, dia cenderung eksklusif. Cenderung mengkafirkan orang lain. Nah ini perlu dilakukan pendekatan. Artinya apa? Polri dibantu TNI. Pendekatan kultur dan budaya,” ucap perwira Polri yang pernah bertugas di Poso itu.

Langkah lainnya adalah dengan melakukan rehabilitasi di mana BNPT mencoba mengubah mindset radikalisme ataupun jihad. Selain itu, pakar dan ulama juga dilibatkan dalam penanggulangan teror.

Saud menjelaskan, “Kemudian kegiatan resosialisasi. Pekerjaan pelatihan di penjara agar begitu keluar bisa dapat kegiatan. Kalau kita nggak paham agama kita akan mudah terpengaruh. IT juga jadi salah satu cara (masuknya terorisme). Kalau dulu rekrut lewat pengajian. Kalau sekarang bisa akses lewat media sosial,” jelasnya.

Jenderal bintang tiga itu pun mengatakan bahwa simpatisan kelompok radikalisme adalah yang paling besar berpotensi menjadi teroris. Seperti kelompok Santoso di Poso. Ia juga menyebut, akar aksi teror di Indonesia mayoritas datang karena masalah sosial.

Dia menerangkan, “Kebencian, dendam, kemiskinan, kesenjangan sosial, kebijakan yang tidak mendukung mereka. Ini masalahnya. Ini harus bersinergi. Inilah yang selama ini jadi masalah. Konsep kita sering dianggap barat kita pro terorisme. Padahal ini cara kami, cara bangsa kami. Kita harus merapatkan barisan, saling membantu kita bersama-sama supaya nggak terpengaruh,” terang Saud.

Salah satu masalah yang kini dihadapi oleh BNPT adalah adanya keterlibatan asing yang berujung pada kegiatan terorisme. Senada dengan BIN dan Polri, BNPT juga mengidentifikasi lebih dari seratus WNI yang bergabung dengan ISIS baru kembali ke Indonesia.

Saud memaparkan, “Problem kita saat ini banyak bantuan asing langsung masuk ke masyarakat yang lalu bergabung ke terorisme. Nah gimana nyitanya. Padahal udah jadi masjid dan pondok pesantren. Ya makanya kalau bisa kita lakukan silahturahim,” tukasnya. (Su)

%d blogger menyukai ini: