Sketsa News
Home Citizen-Jurnalism, News Kisah Penjual Cilok Misterius yang Buka Lapak Jam 12 Malam

Kisah Penjual Cilok Misterius yang Buka Lapak Jam 12 Malam

Sketsanews.com – Sebelum penggerebegan teroris ada kisah menarik, seorang pedagang cilok yang misterius dan berjualan mendekati tengah malam di Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi.

 

ilustrasi-penjual-cilok-sketsa
Ilustrasi : Penjualan Cilok Misterius di berjualan saat tengah malam di seputar kontrakan terduga teroris

Laman Tribunnews mengkisahkan, Beberapa warga mencurigai kuat ada peranan sejumlah intel Densus 88 Polri sebelum penggerebekan terduga teroris terkait gerakan ISIS, Ali (Uighur, Tiongkok) alias Abu Nash’ab alias Fariz Kusuma (27), di rumah kontrakan Kampung Dukuh Jaya, RT 005/RW 009, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, Rabu (23/12/2015) sore.

Supriyadi (35), pemilik warung kelontong di samping kontrakan Ali mencurigai seorang tukang cilok sebagai intel Densus 88 Polri karena kejanggalan cara berdagangnya. “Janggal dan ngaco banget dagangnya. Saya yakin itu intel Densus. Nah, ini buktinya setelah sudah dapat targetnya, dia nggak dagang lagi,” kata Supriyadi saat ditemui di lokasi, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (24/12/2015) malam.

Menurutnya, si pedagang cilok menjajakan dagangan dengan gerobak. Ia berperawakan kurus, kecil, berkulit hitam kelam dan berambut tipis.
Ia juga kerap mengenakan kaos hitam lusuh. Namun, tas selempang yang dikenakan di tubuhnya terlihat bagus dan mahal. “Paling usianya 35 tahunan. Dari potongannya nggak kelihatan kalau dia intel,” ujarnya.

Si tukang cilok tersebut juga kerap ‘memarkir’ gerobak dagangannya atau mangkal tepat di depan kontrakan yang dihuni Ali selama sepekan terakhir. Namun, ia hanya datang berjualan ciloknya satu hingga dua jam menjelang tengah malam pukul 24.00 WIB.

“Dia dagang cuma sejam dua jam. Sehabis mangkal, dia jalan ke belakang gang ini. Padahal, tengah malam di belakang warung dan kontrakan ini sudah sepi dan gelap, nggak ada orang yang beli,” ungkapnya.

Selain itu, si tukang cilok juga kerap ‘tidak nyambung’ kala diajak bicara oleh warga yang membeli dagangannya. “Saya pernah beli ciloknya Rp 2 ribu, eh malah nggak dimasukkan ke plastik. Dia bilang biar ngirit. Ngaco banget dagangnya. Eh, dia malah pernah tanya ke anak-anak di sini, ‘Kok lampu kontrakan yang di atas nggak pernah hidup’. Kan aneh tuh orang, diajak ngobrol nggak nyambung malah nanya kontrakan tempatnya Ali yang ditangkap kemarin,” paparnya.

“Makanya saya dan anak-anak di sini curiga dia intel Densus. Pernah sama anak-anak muda di sini, kita cecar dia intel bukan. Eh dia ngeles, katanya bukan, bukan,” sambungnya.

Joko (51), warga yang rumahnya berhadapan dengan kontrakan yang dihuni oleh Ali justru pernah mendapati si tukang cilok tersebut membawa pistol di saku celananya. Bukan saya aja yang lihat, anak-anak di sini juga pernah lihat, ‘Kok tukang cilok jualannya bawa pistol’. Saya sendiri lihatnya pas dia duduk di situ. Nah, pas duduk saya lihat kepala pistolnya nongol dan sedikit berkilau. Saya yakin itu FN, nggak mungkin glock,” beber Ali.

Selain tukang cilok yang dicurigai, Supriyadi juga mencurigai dua pria yang mendatanginya beberapa jam sebelum Tim Densus 88 Polri melakukan penangkapan terhadap Ali pada Rabu sore.

Menurutnya, mulanya sekitar pukul 14.00 WIB, ada seorang pria berpakaian serba hitam dengan perawakan sedang dan kulit hitam, mendatanginya di warung.
Pria tersebut mencari kamar kontrakan kosong untuk ditempati. Kontrakan yang ditunjuknya merupakan kontrakan yang sama ditempati oleh Alli.
“Jam 2, ada seorang pakai kaos hitam dan celana bahan hitam. Dia nanya, apa ada kontrakan yang kosong. Saya jawab, ada tuh di atas, dekat yang ditangkap itu,” kata Supriyadi.

Namun, pada pukul 16.00 WIB, pria tersebut datang kembali bersama temannya dengan perawakan dan pakaian yang sama. Kali ini, keduanya menanyakan tempat tinggal Ketua RT. Dan Supriyadi memberitahukan nama dan tempat tinggal Ketua RT-nya itu.

“Nggak lama mereka sudah bawa Ketua RT di sini, Pak Marki, ke kontrakan ini. Lalu, nggak lama, banyak polisi pakai seragam Densus pada berdatangan dan dobrak pintu kontrakan nomor 6 di atas pakai besi. Mereka di dalam ada satu jam. Setelah itu sebagian polisi Densus itu pada turun dan bilang ke saya supaya tutup warung, katanya berbahaya. Saya tanya kasus apa, dia bilang kasus narkoba,” ujarnya.

“Pas polisi pada ramai dan minta warga menjauh, saya lihat orang yang cari kontrakan dan Ketua RT itu ada di kumpulan Densus, dia juga yang larang warga mendekat,” sambungnya.

 

(in)

%d blogger menyukai ini: