Sketsa News
Home Berita Terkini, Citizen-Jurnalism, Headlines, News, Opini Mengubah Cara Berkomunikasi atau Menemui Senjakala

Mengubah Cara Berkomunikasi atau Menemui Senjakala

Sketsanews.com – Perubahan adalah keniscayaan. Semua bidang kehidupan bakal mengalami dan menjadi dasar pembentukan serta perubahan peradaban.

Demikian pula halnya dengan industri media. Perkembangan teknologi informasi yang menautkan orang-orang di seluruh dunia dalam masyarakat jejaring lewat media baru (new media) telah mengubah cara orang-orang dalam bermedia.

 

Jika pada era sebelumnya publik berlaku sebagai konsumen media, di era ini masyarakat umum juga berperan sebagai produsen media. Lewat berbagai perangkat teknologi yang terhubung dalam jaringan internet, sebagian orang bisa memproduksi konten media dan mendistribusikannya lewat beragam pelantar media sosial.

Jika pada masa sebelumnya opini publik dibentuk dengan logika komunikasi one to many seperti dipraktikkan dalam industri media konvensional dengan pola komunikasi massa, sekarang tidak lagi begitu. Saat ini opini publik ditentukan dengan cara berkomunikasi many to many lewat beragam pelantar media sosial tadi.

Ini membuat polemik kematian industri media tidak lagi relevan jika masih berkutat pada pembahasan ihwal bentuk medium, analog (cetak) atau digital. Karena industri media dengan medium digital (online) pun sebagian gulung tikar, sebagian lagi sulit bertahan, apalagi berkompetisi.

Inti persoalannya ada pada logika komunikasi yang dipakai. Jika masih menggunakan pola komunikasi massa (one to many), harapan hidup media itu relatif kecil. Sebab, saat ini orang-orang terhubung dengan pola komunikasi yang terdemasifikasi (many to many).

Dampak teoretis

Hal ini, tentu saja, turut pula membuat sejumlah teori yang terkait dengan praktik industri media massa cenderung tidak lagi relevan. Misalnya teori “agenda-setting”.

Teori “agenda-setting” oleh McCombs dan Shaw (1972; 1976; 1993) dan risetnya diawali dari tradisi panjang yang dimulai oleh McCombs dan Shaw’s pada tahun 1972. Penelitian ini dilakukan pada pemilihan presiden Amerika Serikat pada 1968.

Penelitian dilakukan dengan menghubungkan isu-isu utama yang dipilih media dan isu-isu oleh publik. Berdasarkan riset itu, McCombs dan Shaw menyimpulkan bahwa isu-isu utama yang menjadi perhatian pers selama masa kampanye memengaruhi evaluasi yang dilakukan calon pemilih terhadap isu-isu mana yang lebih penting (Nabi & Oliver, 2009:84).

Juga teori “media framing” dengan pokok pemikirannya ialah tentang proses di mana konstruksi dan tekanan terhadap sebuah pesan data memengaruhi interpretasi penerima atau khalayak. Ini juga tentang perspektif psikologi di mana “media framing” kemungkinan bisa mengaktivasi kognisi-kognisi tertentu dalam benak atau pikiran penonton ataupun khalayak.

Premisnya seperti metafora gambar dalam sebuah bingkai untuk menjelaskan bagaimana cara bingkai tersebut mengorganisasi informasi serta menyediakan perspektif melalui pesan tertentu agar penerima atau khalayak mengerti tentang subyek persoalan (Nabi & Oliver, 2009:85).

Termasuk pula teori “priming” yang pokok pemikirannya adalah tentang efek dalam studi tentang pengaruh media yang terjadi pada khalayak yang terkait dengan efek kognitif dan bagian dari revolusi kognitif pada perkembangan ilmu-ilmu sosial (Nabi & Oliver, 2009:86)

“Priming” terkait dengan “framing” dalam upaya menjelaskan tentang “agenda-setting”. Premis efek ini terkait dengan tindakan tertentu yang akan dilakukan setelah khalayak terpapar isu tertentu yang diangkat media setelah yang bersangkutan mengingat informasi serupa tentang hal tersebut yang sebelumnya juga dipublikasikan.

Dalam konteks media baru seperti inilah, teori “agenda-setting”, berikut “framing” dan “priming” sudah cenderung tidak lagi relevan. Sebab, syarat utama dapat dipraktikkannya teori “agenda-setting” ialah keberadaan media atau institusi pers secara formal. Teori “agenda-setting” juga memerlukan pemisahan antara konsumen dan produsen media.

Sementara di era media baru, batasan antara konsumen dan produsen tidak ada lagi. Teori “agenda-setting” adalah tentang memainkan peranan penting dalam cara bagaimana media memengaruhi penonton atau khalayak. Sementara pada era media baru dengan fokus pada media sosial, keberadaan institusi pers relatif tidak lagi dibutuhkan.

Istilah konsumen media pun telah bergeser menjadi pengguna media. Sebab, saat ini setiap orang dengan akses pada dunia internet bisa melakukan pengunggahan konten, mendistribusikannya, dan melihat efek yang terjadi pada dirinya. Perihal kecenderungan tidak lagi relevannya teori “agenda-setting” dalam melakukan perihal tentang itu di tanah media sosial dapat sedikit tergambarkan pada kutipan berikut:

“Agenda-setting” membutuhkan waktu tertentu untuk keperluan penyerapan agenda media sebelum menjadi agenda publik. Namun, dalam komunitas daring (online) dengan pola komunikasi instan yang juga terbuka untuk diskusi, agenda publik mungkin tidak ada. Sejumlah ilmuwan atau sarjana yang masih beranggapan bahwa teori “agenda-setting” masih berpotensi dalam realitas media baru, memperkenalkan konsep bernama “agenda melding”.

“Agenda melding” tentang kesepakatan pada bagaimana orang-orang merespons terhadap media secara tatap muka dengan sejumlah kelompok terasosiasi. Sekalipun konsep baru itu juga cenderung tidak menjawab pertanyaan secara keseluruhan.

Perdebatan-perdebatan ini cenderung melemahkan kemampuan media untuk mengusulkan dan melakukan transfer agenda media ke agenda publik. Saat proses transfer ini tidak terjadi, teori “agenda-setting” tidak lagi berfungsi.

Melalui sintesis pemikiran dari komunitas ilmiah dan lewat diskusi kritis, hasil karya ini akan menunjukkan bahwa memang sesungguhnya teori tersebut (“agenda-setting”) sudah tidak lagi berfungsi dalam hubungannya dengan media baru (utwente.nl).

Sementara “media framing” dan “priming” juga memiliki kemungkinan besar untuk tidak lagi bisa ditemukan dalam atmosfer media baru dengan tekanan khusus pada media sosial. Terdistribusinya konten, pendapat, dan sebagainya yang bisa berubah dengan cepat dalam jagat internet membuat pembingkaian terhadap suatu isu dan melakukan penilaian atas efek “priming” terhadapnya menjadi relatif sulit dilakukan,

Berdasarkan sejumlah pokok pemikiran dan premis yang terdapat dalam teori “agenda-setting”, salah satu implikasi secara konseptual terkait penelitian yang hendak dilakukan dalam ranah media baru ialah lahirnya konsep “agenda melding” yang digagas McCombs pada 2004.

Konsep ini berfokus pada agenda-agenda personal dari seorang individu yang dihadapkan pada komunitas atau kelompok afiliasi mereka. Ini didasarkan atas hipotesis bahwa saat seorang individu bergabung dalam kelompok tertentu, mereka membaurkan agenda mereka dengan agenda kelompok. Dengan kata lain, seseorang bergabung dengan kelompok dengan mengadopsi agenda kelompok. Namun, masih terjadi transfer hal-hal yang menjadi ciri khas (utwente.nl).

Opini publik saat ini dibentuk dengan pola komunikasi yang terdemasifikasi, tidak lagi dengan pola komunikasi massa. Jadi, media yang masih bertahan dengan pola komunikasi massa (one to many), kemungkinan besar ia bakal menemui senjakala.

SumberINDUSTRI MEDIA : Mengubah Cara Berkomunikasi atau Menemui Senjakala – INGKI RINALDI

(in)

%d blogger menyukai ini: