Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Jangan Perpanjang Aksi Teror

Jangan Perpanjang Aksi Teror

Sketsanews.com – Ledakan bom dan penembakan terjadi di kawasan sekitar gedung Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, pada tanggal 14 Januari 2016 pukul 10.45WIB. Ledakan pertama terjadi di pos polisi lalu lintas di depan gedung Sarinah. Beberapa menit setelah ledakan di pos polisi itu, dua orang yang diduga sebagai pelaku ikut bergabung dalam kerumunan orang.

Bom Sarinah
Bom Sarinah

Tak berapa lama kemudian, dua lelaki beransel merah itu keluar dari kerumunan dan menghampiri polisi. Satu di antara lelaki itu mengeluarkan senjata laras panjang. Lalu, seperti dalam adegan aksi teroris, ia membidikkan senjata ke arah polisi. Polisi itu ditembak, lalu jatuh. Massa berhamburan, satu lelaki lain menyelinap dan mengeluarkan senjata genggam. Ia bergerak ke arah mobil polisi dan menghampiri polisi lain.

Itulah salah satu penggalan adegan yang terjadi di peristiwa ledakan yang terjadi di gerai kopi Starbucks dan pos polisi di depan Sarinah di kawasan Thamrin. Aksi pelaku tersebut tertangkap kamera seorang fotografer sebuah media yang sedang berada di lokasi. Aksi teror serangan bom dan baku tembak antara teroris dengan polisi yang terjadi sekitar pukul 10.55 WIB itu berlangsung hingga tengah hari. Tercatat sedikitnya ada lebih dari 26 korban akibat peristiwa itu, 8 di antaranya meninggal. Dua orang warga negara asing, dan empat diantaranya adalah pelaku penyerangan.

Peristiwa yang terjadi di jantung ibu kota negara itu mendapat perhatian dari berbagai kalangan, baik dalam maupun luar negeri.

Polisi ganteng. Netizen
Polisi ganteng. Netizen

Aksi para personil kepolisian di republik ini dalam melumpuhkan teroris terekam kamera dengan jelas. Bahkan aksi salah satu personil polisi ganteng asal Aceh, Kompol Teuku Arsya Khadafi, yang melumpuhkan teroris juga sempat menjadi trending topic teratas di media sosial.

Kejadian ini sangat memperihatinkan dan menunjukkan negeri kita belum aman dari ancaman terorisme. Kita semua sepakat menolak segala bentuk teror yang terjadi di negeri ini. Dalam bentuk apapun baik teror yang berupa perbuatan, ucapan, maupun tulisan.

Peristiwa itu sebagiaan kalangan banyak yang mengaitkan dengan kinerja intelijen. Pihak intelijen dinilai gagal mengantisipasi gerakan teroris. Dikarenakan tiga jam sebelum kejadian, Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS), mengeluarkan warning kepada warganya untuk menjauhi kawasan tersebut. Namun informasi tersebut, nampaknya tidak ditindak lanjuti oleh aparat terkait. Hal itu tentu mangundang pertanyaan kritis, apakah memang hal itu sengaja dibiarkan?

Diduga salah satu pelaku Bom Sarinah
Diduga salah satu pelaku Bom Sarinah

Salah satu pelaku pengeboman dan penembakan merupakan residivis kasus terorisme. Dengan demikian, seharusnya masuk radar intelejen dalam pergerakannya. Namun, pihak intelejen membuat statement yang membingungkan, disisi lain tidak mau dianggap kecolongan, namun disisi lain mereka mengaku tahu pergerakan teroris itu, tetapi mengapa tak mampu mencegah secara dini.

Aksi yang dikecam oleh banyak kalangan itu, tentunya ada sebab yang melatar belakanginya. “Tidak ada asap tanpa api,” itulah kata pepatah.

Sebagaimana yang diberitakan oleh media sebelumnya. Pada bulan yang lalu, Densus 88 gencar melakukan penangkapan terhadap orang orang yang di curigai sebagai teroris. Diduga, aksi itu merupakan aksi balasan kelompok tersebut terhadap Densus 88 Anti Teror yang oleh sebagian kalangan dinilai melakukan penangkapan yang tidak standar dan penuh misteri.

Tentunya kita masih ingat Densus 88 yang melakukan penangkapan terhadap orang yang masih terduga teroris dengan cara tembak ditempat, ditabrak, ditendang, diseret didepan anak dan istri. Bahkan surat penangkapan diserahkan keluarga setelah terduga teroris di bawa dan disel. Karena perlakuan itu tentu akan memunculkan aksi balas dendam oleh anak maupun dari pihak kelompoknya. Yang akhirnya menimbulkan aksi balas dendam yang tiada berujung. Sampai kapan kita akan berhenti menyaksikan aksi saling meneror.

Email kedubes AS. Netizen
Email kedubes AS. Netizen

Apakah kita akan memperpanjang aksi saling balas dendam di negeri ini? Kita harus hentikan aksi saling teror, baik yang dilakukan oleh aparat maupun kelompok tertentu.

Kita juga menyayangkan aksi kelompok yang mengklaim ingin mendirikan Khilafah Islamiyah itu, dilakukan secara membabi buta dan serampangan dengan menembak kepada orang orang sipil yang tak bersalah. Karena hal itu tidak “nyambung” dengan tujuan yang mereka inginkan.

Kita sebagai insan yang mempunyai rasa kemanusiaan, turut menyayangkan aksi tersebut. Akan lebih menyayat hati, jika kejadian dan aksi yang memakan korban tidak sedikit tersebut sengaja diciptakan untuk kepentingan tertentu. Karena muncul dugaan di sebagian kalangan, kejadian itu untuk menutupi kasus korupsi yang menjerat pejabat negeri ini, atau sengaja dimanfaatkan untuk menyudutkan kelompok atau agama tertentu.

Bahkan muncul juga dugaan, kejadian itu sebagai proyek penggalian dana asing dengan mengangkat isu terorisme. Karena selama ini, aliran dana ke satuan polisi Densus 88 ini tidak transparan. Dari mana dan kemana dana tersebut, publik belum banyak yang tahu. Jika hal itu benar, maka sungguh sangat amat kita sayangkan. (Ki)

%d blogger menyukai ini: