Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, Hidup Sehat, News Mengapa Anak Bisa Tak Mudah Sakit Meski Tak Imunisasi?

Mengapa Anak Bisa Tak Mudah Sakit Meski Tak Imunisasi?

Sketsanews.com – Orang tua boleh saja beranggapan bahwa anaknya bisa tetap sehat tak mudah sakit meski tidak diimunisasi. Tapi sebenarnya dibalik hal tersebut ada penjelasan ilmiahnya di mana vaksin tetap berperan menjaga kesehatan anak yang tak diimunisasi.

imun
Sebagaimana dilansir detikhealth.com, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Profesor Dr dr Bambang Supriyatno, SpA (K), menjelaskan dalam sebuah populasi masyarakat, program imunisasi bisa menciptakan sebuah fenomena yang disebut ‘herd immunity’. Sederhananya ketika anggota suatu kelompok banyak yang divaksin, maka penyakit menjadi tidak mudah menular di antara individu dan prevalensinya rendah. Oleh karena itu angka kesakitan mereka yang tak divaksin juga bisa jadi rendah.

“Ada yang namanya herd immunity untuk vaksin. Jadi misalnya gini kalau cakupan untuk vaksin pneumonia mencapai 85 persen populasi, maka 15 persen yang tidak diimunisasi akan ikut terbantu,” kata dr Bambang kepada detikHealth, Sabtu (30/1/2016).

Efek herd immunity ini namun diingatkan oleh dr Bambang hanya bisa terjadi bila tingkat jumlah orang yang diimunisasi dalam satu kelompok cukup atau lebih. Ketika semakin banyak orang beranggapan bahwa tanpa vaksin pun bisa sehat sehingga berujung pada cakupan imunisasi yang menurun drastis, maka penyakit akan kembali bermunculan.

Contoh nyata dari hal ini bisa dilihat dari kasus kemunculan campak air yang memengaruhi 80 dari 350 anak sekolah dasar di Brunswick North West, kota Moreland, Victoria, Australia. Diketahui masyarakat kota mulai ramai menolak vaksin dan laporan dinas setempat menyebut cakupan imunisasi anak hanya mencapai 75 persen. Padahal untuk campak cakupan yang dianjurkan adalah 95 persen dari populasi.

“Kalau dibalik hanya 15 persen saja yang diimunisasi, ya nggak ada gunanya untuk yang lain. Jadi cuma melindungi diri sendiri,” pungkas dr Bambang.

(Jp/detikhealth)

%d blogger menyukai ini: