Sketsa News
Home News Menangkal Aksi Teroris

Menangkal Aksi Teroris

aksi-teroris-kembali-mengancam-deradikalisasi-dinilai-gagal-cU3mhOMiNr

Sketsanews.com – Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk mengungkapkan radikalisme tidak identik dengan terorisme. Sebab, terorisme bersifat ancaman, kekerasan untuk mencapai tujuan politik, religius, adanya pemaksaan dan intimidasi. Sementara radikalisme berasal dari kata akar.

Melansir Okezone.com, Hamdi mengatakan, “Seseorang yang berpikir sampai ke akar-akarnya itu radikal. Gerakan revolusioner, sampai bongkar ke akar-akarnya sampai rezim itu juga radikal,” ujarnya di Kampus UI Depok, Senin (1/2/2016).

Menururnya terorisme adalah gerakan yang merongrong negara. Dalam gerakan terorisme, kekerasan adalah alat untuk mencapai tujuan. “Ada gerakan rongrong negara. Terorisme gerakan rongrong keabsahan negara. Mereka menyulut juga, dibilang radikal marah, situs diblokir marah,” tegas Hamdi.

Untuk kelompok radikal sampai kepada aksi terorisme, melewati jalan yang panjang. Perlu konteks sosial, grup atau kelompok kecil, dan proses individu. “Orang-orang yang kerap melakukan terorisme pasti isi kepalanya radikal. Bagaimana proses orang menjadi radikal, kalau sudah radikal ketemu kelompok yang pas, konteks sosial pas, individu pas bisa jadi melakukan aksi teror,” paparnya.

Penangkalnya adalah dengan deradikalisasi menghilangkan apa yang ada pada pola pikir mereka menyetop terorisme. Caranya dapat dengan keras dan lembut. “Cukup proses soft diajak bertani biar lupa, atau hard diisolasi di sel. Ada orang yang merasa ideologi agamanya terancam, enggak bisa jadi muslim yang baik, privasi terancam. Dan orang-orang yang jadikan jihad sebagai justifikasi lakukan kekerasan, itu yang antarkan mereka lakukan kekerasan. Percaya pada kekerasan jihad,” tandasnya. (Su)

%d blogger menyukai ini: