Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, Internasional, News Petinggi Raksasa IT Ini Lebih Pilih Sekolah Tradisional untuk Sekolah Anaknya

Petinggi Raksasa IT Ini Lebih Pilih Sekolah Tradisional untuk Sekolah Anaknya

Sosial

Sketsanews.com – Biasanya kita sering menyangka bahwa pekerjaan orang-orang yang berkecimpung di dunia IT dan teknologi  lebih menyukai menyekolahkan anak-anaknya juga di sekolah modern yang penuh teknologi. Namun, ternyata pandangan tersebut ditepis dengan fakta bahwa para petinggi yang berkiprah di perusahaan raksasa IT seperti  google, Apple, Yahoo sampai E-bay mengirim anak-anaknya ke sekolah yang tidak ada fasilitas komputernya.

waldorf_school-sketsanews

Kabar ini tentu saja memicu pertanyaan, apa sebab mereka tidak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang full teknologi dan memiliki fasiltas computer sebagai sarana belajar murid-muridnya.

Waldorf  School of  The Peninsula  – USA,  adalah sekolah yang memiliki fokus kepada aktifitas fisik, kreativitas dan kemampuan keterampilan tangan para murid. Anak-anak tak diajarkan bagaimana menggunakan computer atau tablet tetapi mereka dibiasakan mencatat dengan kertas dan pulpen, menggunakan jarum rajut, atau lem kertas untuk prakarya mereka dan juga dibiarkan bermain dengan alam sekitarnya.

Guru-guru Waldorf percaya bahwa computer justru akan menghambat kemampuan bergerak, berfikir kreatif, berinteraksi dengan manusia, hingga kepekaan dan kemampuan anak memperhatikan pelajaran.

Pemikiran ini tentu saja tidak serta merta di Amini oleh seluruh lembaga pendidikan yang ada,bahkan banyak yang mengkritiknya. Namun, justru pembelaan dilakukan oleh orang tua murid yang juga anaknya bersekolah di Waldorf ini. Salah satunya adalah  Alan Eagle orang tua murid yang anaknya  bersekolah  disana dan juga bekerja di perusahaan Google mengatakan,”Anak-anak saya baik-baik saja,meskipun tak tahu bagaimana caranya menggunakan Google. Anak saya yang lain yang saat ini duduk dikelas 2 SMP, juga baru saat ini dikenalkan pada computer.”

Sekolah Waldorf memang masih mempertahankan tradisi sekolah mereka yang tanpa laptop dan teknologi canggih. Semua serba menggunakan peralatan biasa seperti kapur, papan tulis kapur, dan dinding kayu.

Metode belajarnya pun mempertahankan tradisi yang sudah terbukti berhasil membangun potensi anak-anak didiknya. Belajarpun sangat menyenangkan dan berkesan, seperti belajar merajut atau bermain menjawab kata di kelas bahasa. (Bataranews)

%d blogger menyukai ini: