Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, Internasional, News Uji Coba Nuklir Korea utara

Uji Coba Nuklir Korea utara

Sketsanews.com – Korea Utara (korut) meluncurkan roket jarak jauh meski dapat kecaman dari berbagai negara. Minggu (7/2/2016) waktu setempat, negara itu berhasil meluncurkan roket pembawa satelitnya ke orbit Bumi.

kore

Korea Utara menyatakan bahwa peluncuran satelit yang diberi nama Kwangmyongsong-4 itu sukses secara keseluruhan. Nama Kwangmyongsong merupakan modifikasi dari mendiang pemimpin Korea Utara Kim Jong Il. Peluncuran diperintahkan langsung oleh Kim Jong-un, pemimpin Korut penerus Kim Jong Il.seperti diberitakan Lewat televisi nasional korea utara Yonhap Rabu 6 Februari 2016.

Roket diluncurkan pada sekitar pukul 9.30 pagi waktu Seoul atau sekitar pukul 8.30 WIB dengan arah lontar ke selatan, sebagaimana direncanakan. Lintasan roket tersebut di langit tertangkap oleh kamera Televisi Jepang Fuji.

Roket tersebut tampaknya diluncurkan dari markas di barat laut negara tersebut dan melewati bagian selatan Pulau Okinawa, Jepang.

Komando Strategis Amerika Serikat mendeteksi adanya sebuah rudal di luar angkasa. Dalam sebuah pernyataan, Komando strategis AS menyatakan, bahwa rudal milik Korut terdekteksi pada 06:29 CST (01:29 GMT). Hasil pelacakkan menunjukkan peluncuran rudal tersebut dilakukan di sebelah selatan Laut Kuning.

“NORAD bertekad untuk memastikan tidak ada rudal yang mengancam Amerika Utara,” bunyi lanjutan pernyataan tersebut merujuk pada Pusat AS Lacak Rudal

Departemen Pengembangan Luar Angkasa Nasional Korea Utara (NADA) menyebut peluncuran tersebut dilakukan sebagai upaya meningkatkan ilmu pengatahuan, teknologi, ekonomi, dan kemampuan pertahanan negara.

Korea Utara juga mengumumkan bahwa pihaknya untuk pertama kali sukses melakukan uji bom hidrogen.

“Uji coba bom hidrogen pertama republik ini telah berhasil dilakukan pada pukul 10.00 tanggal 6 Januari 2016, sesuai dengan tekad Partai Buruh,” demikian berita televisi negara itu saat mengumumkan hal tersebut.

“Dengan keberhasilan sempurna dan bersejarah dari uji coba bom-H, kita telah bergabung dengan kelompok negara-negara nuklir canggih,” kata penyi

Kantor berita nasional korea utara KCNA pada Jumat malam mengatakan uji nuklir keempat Pyongyang adalah peristiwa besar, yang memberikan Korea Utara kekuatan cukup besar untuk mengamankan perbatasannya terhadap pasukan berbahaya, termasuk Amerika Serikat.

kor

Korea Utara membela uji nuklir terbarunya, dengan menyebutkan jatuhnya Saddam Hussein di Irak dan Moamer Gaddafi di Libya karena mengabaikan senjata nuklir.

Korea Utara membela uji nuklir terbarunya, dengan menyebutkan nasib Saddam Hussein di Irak dan Moamer Gaddafi di Libya menunjukkan yang terjadi jika negara mengabaikan pembuatan senjata nuklir. Saddam Hussein di Irak dan Gaddafi di Libya tidak dapat menghindari kehancuran setelah dasar pengembangan nuklir mereka dirampas dan mereka menghentikan kegiatan nuklir mereka,” kata sebuah komentar dikutip KCNA.

Komentar itu menyebutkan bahwa kedua pemimpin Negara itu telah membuat kesalahan, karena menyerah terhadap tekanan negara Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk perubahan rezim.

Peluncuran roket itu menuai kecaman dari banyak pihak, termasuk negara tetangga seperti Korea Selatan dan Jepang, serta sekutu kedua negara tersebut, Amerika Serikat. Negara-negara tersebut menilai, peluncuran satelit hanyalah kedok. Mereka menuding peluncuran roket sebenarnya adalah uji coba rudal balistik antar-benua. Selain itu, Korea Utara nekat melakukan peluncuran kendati masih disanksi PBB menyusul uji coba bom nuklir beberapa waktu lalu.

Seperti dikutip Reuters, Amerika Serikat mengatakan bakal membahas masalah ini dengan Dewan Keamanan PBB dan mengambil langkah yang dipandang perlu terhadap Korea Utara, demikian disampaikan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry.

Sementara itu, Presiden Korea Selatan Park Geun Hye menyebut peluncuran itu sebagai aksi provokasi yang tak termaafkan.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe juga menyebut peluncuran itu “amat tak bisa diterima”, apalagi setelah Korut melakukan uji coba nuklir bulan januari lalu. Sebelumnya, Jepang berencana menembak jatuh roket Korut, namun kenyataannya, pemerintah negara matahari terbit tidak membuktikan niatnya.

Ia mengatakan uji coba itu adalah “ancaman serius terhadap keamanan negara kami dan sangat tidak bisa ditolerir. Kami sangat menentangnya.” Dia mengatakan Jepang akan merespons keras, termasuk dengan sekutu-sekutunya di PBB.

Menteri pertahanan Jepang mengatakan ia sudah mengeluarkan perintah untuk menembak jatuh rudal apa pun yang bisa kemungkinan jatuh di wilayah Jepang.

Seperti dilansir dari Xinhua, Minggu (7/2/2016). Israel-AS Gelar Latgab Pertahanan Rudal Balistik. Pasukan pertahanan Israel, IDF mengatakan, Israel dan Amerika Serikat (AS) akan mengadakan latihan bersama akhir bulan ini dengan fokus pada pelatihan pertahanan rudal balistik.

Menurut militer Israel, latihan ini sebagai bagian dari “kemitraan lama” dan telah dilakukan sejak akhir 2014. Latihan ini mencakup siklus pelatihan rutin untuk meningkatkan kerja sama antara tentara Israel dan AS. Latihan ini terakhir dilakukan di Israel selatan pada Oktober 2015 dan berfokus pada kemampuan udara.

“Latihan lima hari ini bertajuk Juniper Cobra 2016. Latihan ini merupakan bagian dari siklus pelatihan rutin dengan fokus pada pertahanan rudal balistik,” jelas IDF.

Amerika Serikat menempatkan 28 ribu tentara bersiaga tinggi di sepanjang perbatasan Korea Selatan, termasuk Batalion Kimia 23, barisan terdepan dalam menghalau ancaman serangan kimia, biologi dan nuklir.

“Kami berlatih lebih keras di sini daripada di unit lain dan kami melakukan itu karena kami harus selalu siap. Hanya kami yang bisa melakukan itu, sehingga kami selalu berlatih, dan ancaman ini sangat nyata,” ujar Letkol Adam W. Hilburgh, komandan batalion yang terbesar di bidangnya dalam militer AS dikutip CNN.

Sementara itu Cina, yang notabene memiliki hubungan dekat dengan Korut melalui Kementerian Luar Negerinya, memilih tidak bereaksi berlebihan. Mereka hanya menyatakan penyesalan atas keputusan Korut, serta meminta semua pihak untuk menahan diri agar tidak memicu naiknya ketegangan di kawasan tersebut.

AS menekan Tiongkok untuk membujuk korut untuk menghentikan program nuklir nya.

Cina butuh kawasan yang stabil untuk memantapkan reformasi internal, pembangunan ekonomi yang baik, dan menaikkan posisi diplomasinya ke lingkungan internasional. Jika Cina berhubungan langsung dengan negara liberalism, yang dikhawatirkan adalah runtuhnya sistem yang dibangun Cina sendiri, karena gap antara pembangunan di negara liberalisme dan komunisme, seperti terjadinya migrasi ke negara yang lebih mapan dan sejahtera secara ekonomi. Tentu Cina tidak ingin hal ini terjadi dan lebih enak menyandang sebagai negara “pendonor” ke Korea Utara dan mengamankan kepentingan ekonominya.

Analisa

Para pengamat percaya bahwa Pyongyang tengah mengembangkan senjata nuklir yang bisa mencapai Amerika Serikat

Peristiwa tersebut, menandakan sebuah langkah maju yangmenakjubkan dalam pengembangan senjata nuklir negara itu, yang nota bene terkena sanksi embargo ekonomi dan militer dari Dewan keamanan PBB.

Uji nuklir keempat Pyongyang adalah peristiwa besar, yang memberikan Korea Utara kekuatan cukup besar untuk mengamankan perbatasannya terhadap pasukan berbahaya, termasuk Amerika Serikat.

Setelah korea utara melakukan uji nuklirnya, Amerika Serikat (AS) dan Israel gelar Latgab Pertahanan Rudal Balistik. Menurut pasukan pertahanan Israel IDF, latihan bersama akhir bulan ini fokus pada pelatihan pertahanan rudal balistik.

Menurut militer Israel, latihan ini sebagai bagian dari “kemitraan lama” dan telah dilakukan sejak akhir 2014. Latihan ini mencakup siklus pelatihan rutin untuk meningkatkan kerja sama antara tentara Israel dan AS. Latihan ini terakhir dilakukan di Israel selatan pada Oktober 2015 dan berfokus pada kemampuan udara, Seperti dilansir dari Xinhua, Minggu (7/2/2016)

Namun, Latihan lima hari yang bertajuk Juniper Cobra 2016 ini diduga merupakan bentuk ketakutan “Negara Superpower” itu terhadap korea utara.

Amerika Serikat juga menempatkan 28 ribu tentara bersiaga tinggi di sepanjang perbatasan Korea Selatan, termasuk Batalion Kimia 23, barisan terdepan dalam menghalau ancaman serangan kimia, biologi dan nuklir.

Anggota Kelompok Penasihat Pertahanan dan Perdagangan AS, Lawrence Ward mengatakan sanksi baru yang akan dijatuhkan Amerika Serikat (AS) terhadap Korea Utara (Korut) sebagai respons atas klaim uji coba senjata nuklir jenis bom hidrogen, dinilai tidak akan mempan. Sebab, Rezim Kim Jong-un benar-benar sudah mengisolasi diri dari masyarakat internasional.

”Hal ini sulit untuk melihat bagaimana AS memperketat sanksi yang lebih lanjut dengan membatasi tindakan seseorang untuk Korut atau yang terkait orang asing dalam lingkup yurisdiksi,” kata Ward, kepada Sputnik yang dilansir Kamis (14/1/2016).

Ward mencatat, bahwa AS telah kesulitan untuk menentukan apakah sanksi yang dijatuhkan terhadap Korut di masa lalu telah efektif atau tidak, mengingat Pyongyang sudah terisolasi.

”Hampir seluruh dunia telah memperlakukan Korut sama dengan bagaimana AS memperlakukannya, Korut telah terus mengambil langkah-langkah untuk mengisolasi diri dari setiap dan semua sekutunya,” ujar Ward.

Kantor berita KCNA juga menyebutkan keadaan dunia saat ini serupa dengan hukum alam, dengan hanya yang terkuat yang akan menang. “Sejarah membuktikan bahwa ancaman kuat nuklir menjadi pedang berharga terhadap serbuan, yang membuat putus asa,” kata tanggapan dalam siaran itu.

Korea utara mengambil pelajaran dari rezim Saddam Hussein di Irak dan Gaddafi di Libya yang mengalami kehancuran, setelah dasar pengembangan nuklir mereka dirampas dan mereka menghentikan kegiatan nuklir mereka.

Sementara itu pengamat internasional LIPI, Adriana Elisabeth dalam siaran BBC mengatakan, Uji coba senjata nuklir oleh Korea Utara sebenarnya merupakan salah satu upaya untuk menunjukkan diri sebagai negara besar dan powerful, serta tidak disepelekan. Korut ini memang berbeda dengan negara lain di dunia, dengan sistem politik berbeda dengan negara lain, tertutup politik yang pasif dan otoriter.

Kesimpulan

Dunia begitu ketakutan dengan sikap Korea utara yang melakukan berbagai uji coba kemampuan persenjataan. Negara yang terkena embargo ekonomi dan militer dari dewan keamanan PBB itu mampu bangkit dan menunjukkan existensinya.

Negara pemegang gelar “superpower “seperti Amerika Serikat pun merasa terancam dengan Korea utara. Alasan mengapa AS ingin menghambat kepemilikan senjata nuklir Korea Utara adalah:

Pertama, untuk mencegah proliferasi senjata nuklir. Kedua, menghapus ancaman terhadap AS.

Konsep gagasan AS untuk non-proliferasi nuklir belakangan ini meningkat sampai termasuk pencegahan penyebarluasan senjata pemusnah massal WMD (weapons of mass destruction).

Setelah serangan 11 September di Amerika dan perang terhadap teror menjadi prioritas, pencegahan proliferasi WMD menjadi isu penting dalam agenda keamanan nasional AS. Yaitu, kalau senjata nuklir atau senjata bio kimia jatuh ke tangan teroris , maka serangan mereka itu akan menjadi ancaman keamanan amat serius. Perolehaan senjata nuklir oleh Korea Utara dimana AS telah menamakannya sebagai negara pendukung teror, bisa dianggap Wahington sebagai ancaman keamanan serius.

Apalagi, dengan memperbaiki kemampuan peluncuran rudal mereka, yang dilengkapi dengan jarak lebih jauh dan kemampuan untuk mengangkut nuklir atau senjata kimia dan bio, ancaman itu dipandang oleh AS sangat serius dan krisis.

Sanksi baru Amerika kepada Korut Dinilai Tidak lagi Bakal Mempan, mengingat Korea Utara sudah mengambil langkah-langkah untuk mengisolasi diri dari setiap dan semua sekutunya.

Dari uji coba nuklir tersebut masyarakat Dunia terhenyak dengan kekuatan militer negeri Komunis itu. Terlepas dari akibat uji coba tersebut bagi perdamaian, sebuah Negara yang terisolasi dari masyarakat dunia itu mampu menunjukkan harga diri negaranya dihadapan negara lain.

Korea utara paham harga diri suatu negaranya terletak pada kekuatan senjata dan ketegasan dalam bersikap atas kedaulatannya. Korea utara memiliki daya tawar tinggi mengingat china dan Negara maju lainnya mempunyai berbagai kepentingan dengannya.

(St)

%d blogger menyukai ini: