Sketsa News

Takdir Pers

Sketsanews.com -Salah satu dalil penting di dunia pers ialah setiap berita harus berdasarkan fakta. Ada fakta buruk, ada fakta baik. Namun, jurnalis bukanlah bekerja di ‘ruang kosong’. Ia punya perspektif untuk membingkai dalam menilai yang ‘buruk’ dan ‘baik’ itu. Yang pasti, seorang jurnalis hanya ‘menghamba’ kepada kebenaran dan bersetia kepada kepentingan publik.

pers-sketsanews

Karena itu, nyawa pers tidak bergantung pada kecepatan dan eksklusivitas semata. Ia harus bernapaskan akurasi, verifikasi, kepantasan, manfaat, serta dampaknya bagi publik.

Pers sebagai pilar keempat demokrasi menjadikan kepercayaan khalayak sebagai tumpuan utama. Maka, ke mana pun insan pers melangkah, kepentingan publiklah tujuannya. Pers yang abai atau mencederai kepercayaan publik lambat laun pasti akan menerima akibatnya. Ia ditinggalkan publik, lalu perlahan-lahan mati.

Itulah yang membuat industri pers selayaknya dikelola mereka yang memiliki kepedulian pada kepentingan banyak orang. Jurnalis yang baik tidak hanya bermodal pemahaman kode etik jurnalistik. Ia harus memeluk teguh iman idealisme, yang akan mengantarkannya bekerja pada pijakan kejujuran. Tanpa kejujuran, pers akan sesat, bahkan bisa menyesatkan.

Setiap jurnalis harus menyadari ‘takdir’ tersebut. Karena itu, ia tidak boleh bekerja di ruang-ruang hampa atau sekadar mewartakan fakta tanpa peduli pada hakikat kemanusiaan. Jurnalis tetap harus menjejak bumi, menggauli keluh kesah, mengakrabi kegetiran, sekaligus menyebarkan harapan dan kegembiraan.

Dalam konteks itu, tidaklah berlebihan jika Presiden Joko Widodo menyampaikan kerisauannya saat pidato dalam puncak peringatan Hari Pers Nasional di Kuta, Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Selasa (9/2). Presiden Jokowi mengharapkan pers Indonesia mampu membangun optimisme publik serta etos kerja masyarakat. Namun, berita yang muncul sering memengaruhi publik sehingga mereka menjadi pesimistis.

Ia juga memberi contoh judul-judul berita yang memunculkan pesimisme dan mengganggu masyarakat, seperti ‘Indonesia Diprediksi Hancur’, ‘Kabut Asap tidak Teratasi, Riau Terancam Merdeka’, ‘Semua Pesimistis, Target Pertumbuhan Ekonomi tidak Tercapai’. Bahkan, kata Presiden, ada juga judul berita yang tak kalah ‘seram’ berbunyi ‘Indonesia akan Bangkrut dan Hancur, Rupiah Tembus 15 Ribu, Jokowi JK akan Ambruk’.

Secara khusus Presiden Jokowi menyoroti media daring (online) yang kerap menepikan kode etik jurnalistik demi mengejar kecepatan berita. Kecepatan yang acap mendatangkan masalah karena tidak didukung dengan akurasi fakta dan prinsip keberimbangan. Alih-alih melakukan disiplin verifikasi, yang terjadi justru acap pula mencampuradukkan fakta dengan opini.

Kecemasan yang disampaikan Presiden Jokowi itu sejatinya merupakan kecemasan sebagian besar penghuni negeri ini. Pers yang seharusnya memberi arah perjalanan sebuah bangsa ternyata masih berkutat pada soal-soal mendasar. Belum lagi jika institusi pers terbelenggu oleh kepentingan dan pragmatisme pengelolanya.

Mestinya, tak ada lagi ruang negosiasi bagi jurnalis atas tingginya gelombang godaan pragmatisme. Jurnalis harus seteguh karang, setegar baja, dalam memperjuangkan idealisme dan memupuk kejujuran. Tanpa idealisme dan kejujuran, pers sekadar komoditas murahan yang mengkhianati takdirnya sendiri. (MI)

%d blogger menyukai ini: