Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Fenomena Boarding School

Fenomena Boarding School

Sketsanews.com – Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat vital, karena pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan masa depan setiap anak. Oleh karena itu orang tua tentunya ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya dan melihat anaknya menjadi pribadi yang sukses, bukan hanya sukses dalam hal “materi” namun juga suskses dalam mengendalikan dan memberdayakan pribadi baiknya.

bs

 

Apalagi ketika dipertengahan tahun 1990 an masyarakat Indonesia mulai gelisah dengan kondisi kualitas generasi bangsa yang cenderung terdikotomi secara ekstrim antara pesantren dan sekolah umum sehingga ada upaya untuk mengawinkan pendidikan umum dan pesantren dengan melahirkan term baru yang disebut boarding school atau internat yang bertujuan untuk melaksanakan pendidikan yang lebih komprehensif-holistik, ilmu dunia (umum) dapat capai dan ilmu agama juga dikuasai. Maka sejak itu mulai munculah banyak sekolah-sekolah boarding yang didirikan.

Dengan hadirnya sekolah – sekolah berbasis boarding school ini maka orang tua yang berusaha keras ingin memasukkan anak – anaknya ke sekolah tersebut, meskipun mereka harus menghabiskan banyak biaya.

Sebagaimana yang banyak masyarakat ketahui bahwa sekolah yang menggunakan system boarding school adalah sebuah pendidikan dimana anak-anak mengikuti pendidikan reguler dari pagi hingga siang di sekolah kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di malam hari. Selama 24 jam anak didik berada di bawah pendidikan dan pengawasan para guru pembimbing. Hal ini sangatlah menguntungkan bagi para orang tua, apalagi jika suami dan istri itu sibuk dengan pekerjaan di luar rumah, mereka sudah tidak punya waktu lagi untuk mengurus anaknya apalagi harus mendidiknya dengan baik jelas itu tidak mungkin. Maka solusinya mereka memasukkan anaknya ke boarding school. Apalagi hari ini sudah bermunculan boarding school – boarding school mulai dari tingkat SD.

Pertanyaan yang muncul adalah benarkah sikap orang-orang tua yang memboardingschoolkan anak-anak mereka yang masih usia belum aqil baligh atau anak usia sekolah dasar berkisar antara 7 – 13 tahun. Dan apakah ada landasan ilmiah yang bisa membenarkan tindakan tersebut.

Dalam sebuah penelitian atau riset ditemukan bahwa anak-anak berusia antara 3 sampai dengan 13 tahun yang terpisah dari orang tuanya akan mengalami kesedihan dan kecemasan mendalam (anxiety), dan menumbuhkan rasa ketidakpercayaan pada hubungan dekat atau memiliki masalah kelekatan (attachment), luka kejiwaan (psychology damage), penolakan (avoidance), dan masalah elitisme.

Selain itu bahwa anak yang merasa aman dan nyaman bersama kedua orangtua sejak dini sampai usia 13-14 tahun atau aqil baligh, maka anak itu akan memiliki emosi positif, mandiri, ceria, memilih orangtuanya daripada orang asing. Ketika dewasa mudah menjalin hubungan yang panjang dan penuh kepercayaan, nyaman berbagi dengan banyak orang, memiliki kepercayaan diri yang tinggi, mudah mencari dukungan sosial.

Dalam pandangan ilmu psikologi, bukan berarti penulis mengagungkan atau mengutamakan tokoh namun kita harus mengambil pelajaran yang terbaik untuk anak-anak kita. Menurut Montessori (Hurlock, 1978) anak usia 3-6 tahun adalah anak yang sedang berada dalam periode sensitif atau masa peka, yaitu suatu periode dimana suatu fungsi tertentu perlu dirangsang, diarahkan sehingga tidak terhambat perkembangannya. Bila kemampuan berbicara anak tidak dirangsang maka anak akan mengalami kesulitan berbicara pada masa-masa selanjutnya. Contoh berikut ini sering kita temui sehari-hari. Seorang anak berusia tiga tahun mengajak ibunya untuk tidur siang dengan kata-kata ”Ma, bo ma, ma bo ma”.

Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa anak menunjukkan keinginan untuk menyampaikan sesuatu tetapi belum jelas ucapannya. Untuk kondisi seperti ini anak perlu dimotivasi dan dilatih kemampuan berbicaranya agar dapat menyampaikan apa yang diinginkannya dengan baik dan benar.

Seorang ahli lain bernama Froebel (Roopnaire, J.L & Johnson, J.E., 1993) mengungkapkan bahwa masa anak merupakan suatu fase yang sangat penting dan berharga, dan merupakan masa pembentukan dalam periode kehidupan manusia. Oleh karenanya masa anak sering dipandang sebagai masa emas (golden age) bagi penyelenggaraan pendidikan. Masa anak merupakan fase yang sangat fundamental bagi perkembangan individu karena pada fase inilah terjadinya peluang yang sangat besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang.

Dengan mengetahui masa perkembangan anak-anak itu masih tegakah kita untuk memisahkan mereka dari orang tuanya dengan memasukkan mereka ke boarding school. Padahal secara psikologis anak-anak itu masih butuh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya dalam rangka menyempurnakan perkembangan psikologis mereka.

Yang perlu digarisbawahi bagi para pengelola lembaga pendidikan dengan system boarding school adalah bahwa bukanlah penulis ini menolak system pondok pesantren yang mana hari ini menerima anak-anak belum usia aqil baligh dimana mereka masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orangnya. Penulis yakin bahwa posisi pengasuh pondok tidak bisa memberikan kasih sayang yang penuh sebagaimana kedua orang tuanya. Selain itu pondok-pondok pesantren jaman dulu mereka hanya menerima anak-anak didiknya yang sudah dewasa atau akil baligh.

Dampak bagi anak yang pisah dengan orang tuanya sejak usia dini

Anak-anak yang masih dalam usia dini ketika mereka harus berpisah dengan kedua orang tuanya, secara psikologis akan mengalami perubahan-perubahan baik secara psikis maupun fisik. Namun perubahan secara psikis anak akan terasa sekali dirasakan oleh anak. Selain yang sudah disebutkan sebelumnya, anak akan mengalami dampak yang berakibat setelah mereka melewati masa yang lama.

Secara umum anak-anak yang tidak mempunyai hubungan dekat dengan kedua orang tuanya ketika mereka berada di usia dini hingga usia 14 tahun, rata-rata mereka akan mengalami penyimpangan perilaku dan kejiwaan.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa anak-anak usia dini hingga 13 tahun masih butuh perhatian yang sangat dari kedua orang tuanya, namun apabila anak-anak di usia emas ini harus berpisah dengan orang tuanya karena keinginan dari ayah dan ibunya untuk memiliki anak yang sukses baik dunia maupun akheratnya maka mereka akan melepaskan tanggung jawab yang diamanahkan kepada mereka dan dilimpahkan kepada orang lain. Padahal mereka masih sangat butuh dekapan dan perhatian orang tua mereka.

 

Menurut Hurlock hubungan baik yang tercipta antara anak dan orangtua akan menimbulkan perasaan aman dan kebahagiaan dalam diri anak. Sebaliknya hubungan yang buruk akan mendatangkan akibat yang sangat buruk pula, perasaan aman dan kebahagiaan yang seharusnya dirasakan anak tidak lagi dapat terbentuk, anak akan mengalami trauma emosional yang kemudian dapat ditampilkan anak dalam berbagai bentuk tingkah laku seperti menarik diri dari lingkungan, bersedih hati, pemurung, dan sebagainya. Pola asuh orangtua merupakan pola interaksi antara anak dengan orangtua bukan hanya pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum, dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang, dan lain-lain), tetapi juga mengajarkan norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungan.

Pola pendidikan yang keliru

Meskipun banyak tokoh atau ahli pendidikan dalam memotivasi anak didiknya dengan cara memberikan reward atau punishment, namun sejatinya hal itu justru akan merusak fitrah anak itu sendiri. Hal itu karena anak dalam melakukan aktivitas atau berbuat baik tidak dilandasi oleh kesadaran jiwa tapi karena adanya reward (hadiah) dan adanya punishment atau ancaman.

Perlu kita sadari bahwa fitrah anak akan tumbuh dan berkembang secara sempurna bukan dengan pemberian hadiah ataupun ancaman, namun karena adanya interaksi langsung antara anak dan orang tua. Sehingga mereka melihat langsung teladan yang dilakukan oleh kedua orang tua. Jarang bagi orang tua dalam menumbuhkan dan menjaga fitrah anak dengan memberikan motivasi yang tidak Nampak sehingga anak dalam melakukan aktivitas betul-betul dilandasi oleh kesadaran jiwa dan kebutuhan akan hal itu.

Dalam rangka menumbuhkan dan menyempurnakan fitrah anak sangatlah dibutuhkan adanya Bahasa ibu. Peran bahasa ibu sangat penting dalam pendidikan anak. Bahkan bisa dikatakan sebagai peran kunci. Ali (1995:77) mengatakan bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungan. Hal ini menunjukkan bahasa pertama (B1) merupakan suatu proses awal yang diperoleh anak dalam mengenal bunyi dan lambang yang disebut Bahasa.

Kegagalan orang tua dalam memainkan peran Bahasa ibu akan bisa berdampak kurang baik dalam perkembangan anak. Tanpa Bahasa ibu yang baik akan menghambat pertumbuhan fitrah keimanan, fitrah belajar bahkan fitrah bakat si anak itu sendiri.

Tanpa sadar sering kita sering menciptakan “kerangkeng” bagi anak anak kita dengan sesuatu yang belum waktunya sementara mengabaikan sesuatu yang paling penting pada usianya. Kita sering membuat komunikasi menjadi terbatas karena berbagai obsesi dan alasan sehingga bahasa ibu tidak tumbuh sempurna. Sehingga pantas saja kalau hari ini banyak orang yang tahu kebenaran tapi gagal secara sensitive menghayati kebenaran akibatnya banyak yang tidak berjalan diatas kebenaran bahkan membela kebenaran pun tidak.

Renungan bagi para orang tua dan pendidik

Wahai para orang tua dan para pendidik, perlu diketahui bahwa yang membuat dunia lebih baik adalah orang yang menjalani kehidupannya karena panggilan jiwanya, karena panggilan Tuhannya. Dan Tuhan tidak akan memanggil mereka yang mampu, namun akan memampukan mereka yang terpanggil.

Anak-anak kita sering digiring untuk menjawab what dan how, namun tidak pernah mampu menjawab why. Jika kita menggambarkan tiga lapis lingkaran dengan pusat yang sama, dimana lingkaran lapis terdalam kita tulis WHY, lingkaran lapis kedua HOW dan lingkaran lapis terluar WHAT, maka umumnya manusia bergerak dari lingkaran luar ke dalam.

Manusia secara umum mampu menjawab manusia itu apa dan bagaimana manusia diciptakan, namun banyak yang gagal menjawab mengapa manusia hidup di muka bumi. Ini merupakan bentuk kekeliruan dalam memahami masalah yang seharusnya manusia itu bergerak dari lingkaran dalam atau menjawab pertanyaan why baru menjawab pertanyaan what dan how, namun banyak dari mereka yang meloncat dari arah luar kearah dalam.

Pendidikan sejati adalah pendidikan yang menjadikan anak anak kita subyek peradaban yang menyadari peran dan panggilan hidup spesifiknya sebagai misi penciptaannya dari Tuhan. Dan bukan pendidikan yang menjadikan anak kita sebagai obyek dan target pengisian, target penjejalan dan pengajaran, obyek yang dicetak seperti sosok anu pada masa anu, obyek dan target lomba ini itu, obyek dan target kurikulum seragam, bahkan semua itu dilakukan dengan manipulasi keunikan atau kecerdasan majemuk mereka.

Kalau kita mau perhatikan bahwa hari ini bahwa dunia narasi, bercerita dan bertutur hanya ada di sekolah, seolah-olah peran rumah sudah tergantikan oleh sekolah-sekolah. Demikian pula orang tua sudah tidak lagi bercerita mengenai kisah-kisah yang mampu menggugah semangat anak untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi kehidupannya.

Wahai para orang tua yang sangat mencintai putra-putrinya, ketahuilah bahwa dunia sekolah adalah dunia yang tidak pernah mengandung anak-anak kita dan tidak pula melahirkan mereka. Bahkan tidak pernah diberi amanah sedikitpun untuk mendidik anak-anak kita. Oleh karena itu sekolah bukanlah dunia yang benar-benar mengenal karakter dan  mendidik dan mencintai anak-anak kita dengan penuh keikhlasan.

Bagaimana langkah yang sebaiknya kita ambil, alangkah indahnya apabila para orang tua menyadari akan peran dan tanggung jawab yang dipikulnya sehingga bisa menjadikan rumah yang dia bangun dengan biaya yang sangat mahal dijadikan homeschooling yakni tempat untuk menempa dan mendidik putra-putrinya agar mampu menjawab pertanyaan mengapa mereka harus ada di muka bumi. Sebuah rumah tanpa aktifitas pendidikan didalamnya bagai ruang kusam dan gelap karena didalamnya tidak ada proses saling memberi cahaya yaitu proses mendidik dan dididik, tidak ada nasihat untuk saling menyadarkan dan disadarkan, begitupula tidak ada keceriaan dan kepercayaan untuk saling menumbuhkan dan ditumbuhkan.

Maka dari itu kita harus mampu merubah mindset tentang kesuksesan pendidikan dan tempat belajar. Karena masyarakat kita hari ini menganggap bahwa keberhasilan pendidikan apabila anak didiknya mampu menyelesaikan studinya dengan nilai yang cum laude dan mendapat gelar sarjana. Demikian pula halnya tempat belajar yang mumpuni dan punya nama apabila sudah mampu meluluskan anak didiknya 100% setiap tahun tidak mau tahu akan proses yang terjadi sebenarnya.

Fitrah perkembangan anak

Pada dasarnya manusia lahir membawa fitrah yang berbeda antara satu dengan lainnya. Namun secara prinsip memiliki kesamaan. Fitrah itu antara lain adalah fitrah keimanan, fitrah belajar, bakat, perkembangan dan komunal.

Dalam pemikiran pendidikan, fitrah manusia merupakan diskursus yang banyak dibahas oleh para ahli, mengingat salah satu aspek pendidikan adalah upaya menumbuhkembangkan potensi manusia yang dibawa sejak lahir. Potensi inilah yang dalam konteks pendidikan disebut dengan fitrah. Ahmad Tafsir menegaskan bahwa fitrah adalah potensi. Potensi adalah kemampuan. Dalam hal ini fitrah dapat disebut sebagai pembawaan.

Untuk mengakhiri tulisan ini penulis ingin melihat kembali beberapa dampak ketika anak tidak terpuaskan masa perkembangannya. Para balita kita merasa tidak pernah terpuaskan egonya, tidak tuntas perkembangan sensomotorik dan tidak terpenuhi tumbuh kembang imaji imajinya. Mereka diperkosa haknya untuk utuh tumbuh fitrahnya pada tahap usianya demi obsesi kecerdasan, calistung dan persiapan masuk sekolah dasar.

Anak-anak usia 0-6 tahun yang tidak terpuaskan egonya, tidak selesai bahasa ibunya, tidak berkembang imajinya, maka pada tahap usia selanjutnya akan tumbuh menjadi pribadi yang terhambat mengkonstruksi konsep dirinya, membenci proses dan belajar, bermasalah pada ekspresi perasaan dan gagasan serta nalarnya.

Kemudian masa sekolah dasar. Umur 7-10 tahun. Anak anak yang tidak terpuaskan mengenal nilai sosial, minim aktifitas wawasan gagasan, pendek nalarnya maka pada tahap suia selanjutnya akan sulit memiliki ketrampilan sosial dan tangungjawab moral, galau dan krisis kepercayaan diri karena sulit mengenal siapa dirinya, memiliki nalar dan persepsi buruk terhadap dirinya,alamnya, masyarakatnya dan Tuhannya.

Masa sekolah menengah. Mereka lagilagi gagal terpuaskan untuk menjadi makhluk sosial dewasa yang eksis, mereka terus dianggap bocah. Satu satunya penghargaan adalah nilai rapor yang bagus dan harus terus menerima status menjadi anak kecil.

Hal yang sulit didapat bahkan tidak pernah didapat dari sistem pendidikan yang tidak berbasis kepada potensi fitrah adalah kedewasaan. Menjadi dewasa atau matang tidak pernah menjadi opsi utama dalam proses maupun hasilnya.

Dengan demikian, pendidikan haruslah mampu menumbuhkembangkan seluruh potensi dasar (fitrah) manusia terutama potensi psikis dengan tidak mengabaikan potensi fisiknya. Jadi pendidikan itu tidak akan berbicara tentang nilai akan tetapi tentang fitrah bakat, fitrah sosialitas, fitrah sexualitas, fitrah iman, dan sebagainya.

Bicara pendidikan, menurut Dr. Malik Badri, sebetulnya penjenjangan SD, SMP, SMA, dan seterusnya tidak dibenarkan secara ilmiah. Dalam Agama Islam pun hanya dikenal sebelum dan sesudah aqil baligh. Baligh adalah kedewasaan biologis. Aqil adalah kedewasaan psikologis. Dan kerusakan generasi kita terjadi pada masa remaja yang disebabkan karena balighnya kecepetan, sementara aqilnya mengalami keterlambatan/kelamaan. Ketika kesenjangan antara aqil dan baligh ini dialami seseorang, maka di sinilah letak potensi penyimpangan itu begitu mudah terjadi.

Betapa banyak sarjana yang tidak dewasa. Pemuda yang fitrah bakatnya tidak tumbuh pun berpotensi mengalami kegoncangan. Berdasarkan riset tahun 2014, 87% mahasiswa salah jurusan. Inilah penyebab fitrah bakat tidak tumbuh.

Bahkan guru-gurunya pun tidak berbakat menjadi guru, sehingga melahirkan murid-murid yang stress. Karena dalam sistem pendidikan yang ada, logika dan nalar sering tidak terjamah.

Dalam sejarah Islam, Usamah bin Zaid dinikahkan oleh Rasulullah di usia 16 tahun. Adakah ini sebuah kelalaian? Tidak. Karena beliau sudah siap lahir batin. Di usia 17 tahun beliau menjadi panglima Perang Tabuk memimpin 15.000 pasukan. Imam Syafi’i di usia 16 tahun menjadi dosen. Muhammad Al Fatih menakhlukkan Konstantinopel di usia 19 tahun. Para tokoh Sumpah Pemuda pun rata-rata usianya masih belasan tahun. Itulah kematangan fitrah, hasilnya sungguh luar biasa.

Salah satu dampak tidak tumbuhnya fitrah bakat seseorang adalah ketika bekerja orientasinya hanya upah. Sedangkan jika seseorang bergerak atas dasar pengabdian kepada Tuhan, maka kinerjanya akan optimal. Inilah dampak optimalnya perkembangan fitrah bakat seseorang.

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini adalah kita harus mengenal tahap-tahap perkembangan anak. Dalam hal ini ada tiga tahapan, dan ini harus dilalui secara utuh.

Tahap 0-7 tahun tahapan full cinta dan full ridha. Di tahap inilah cinta dan ridha harus dihembuskan kepada anak anak kita dengan sempurna. Jangan ada luka imaji di tahap ini, karena akan berujung pada luka persepsi dan pensikapan yang buruk sepanjang hidup anak anak kita, terhadap dirinya, alamnya, kehidupannya dan Tuhannya.

Umur terbaik pada apsek sensomotorik, aspek muscle memory, aspek imaji, belajar di alam, aspek bahasa ibu. Pada usia ini kecerdasan dibentuk bukan dari leher ke atas, tetapi leher ke bawah dengan memperbanyak aktifitas dan imaji imaji positif.

Tahap perkembangan manusia 7-14 tahun. Tahapan untuk ‘banyak memberi maaf” dan menerima konsekuensinya agar menyadari kesalahannya. Belajar dari kesalahan dan memaknainya dengan kesan mendalam akan mengkonstruksikan pengalaman dan imunitasnya terhadap kesalahan dan keburukan yang lebih besar. Inilah tahap trial and error untuk improvement. Pada usia 7-10 golden age hanya sedikit kognitif. Lebih banyak aspek attitude dan sosial. Pada usia 11-14 tahun personality dan kognitif mengalami masa keemasan.

Tahap usia setelah 14 tahun. Inilah tahap pensucian fitrah, tahap yang menguak kesadaran nurani, menyingkap kejelasan peran dan mengokohkan misi penciptaan. Inilah tahap kejujuran sejati menuju kembali kepada fitrah

Kembalikanlah fitrah-fitrah anak dari rumah, karena anak-anak yang jauh dari ibu dan ayahnya akan menjadi sasaran bidik perusak generasi ini. Anak adalah khalifah masa depan. Berhentilah sejenak, wahai para orangtua, untuk memikirkan pendidikan anak-anak kita. Renungkanlah esensi dan tujuan pendidikan yang sebenarnya.

(Bdz)

%d blogger menyukai ini: