Sketsa News
Home Citizen-Jurnalism, Headlines, News Banyuwangi Mengajar, Lulusan Terbaikpun Mau Mengajar di Pelosok Desa

Banyuwangi Mengajar, Lulusan Terbaikpun Mau Mengajar di Pelosok Desa

Sketsanews.com – Banyuwangi Mengajar, Program Pendidikan di Wilayah Pinggiran.

Menunjang pendidikan di daerah yang secara geografis jauh dari kota, Pemkab Banyuwangi telah menelurkan program Banyuwangi Mengajar sejak 2014. Sebuah gerakan yang mengajak lulusan perguruan tinggi untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak pedesaan.

Meski fasilitas terbatas, justru jadi tantangan tersendiri bagi para pengajar muda ini untuk bisa mengamalkan ilmunya di daerah terpencil. “Tinggal di sini itu asyik, karena harus bisa apa saja. Di tempat seperti ini, justru saya dituntut kreatif menyiasati keterbatasan itu. Kami kreatif menjalankan proses belajar-mengajar,” ujar Nur Latifatul Jannah (22), saat bertemu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang tengah melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Wongsorejo, Selasa (23/2).

Latifah, panggilan akrab Nur Latifatul Jannah, adalah salah satu peserta program Banyuwangi Mengajar. Latifah yang lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember merupakan mahasiswa asal Banyuwangi yang dulunya penerima beasiswa Banyuwangi Cerdas, program beasiswa yang membiayai anak-anak muda untuk berkuliah.

Dia ditempatkan di SDN 3 Watukebo, sebuah sekolah yang berada di kawasan Perkebunan Pasewaran, Wongsorejo Banyuwangi. Latifah menuturkan, mengajar di daerah pelosok memaksa dirinya untuk bisa menemukan cara mengajar yang efektif namun dengan cara yang simple. Salah satunya adalah menentukan metode belajarnya sendiri. Latifah pun mulai mengenalkan anak-anak belajar di luar kelas.

“Kerap saya ajak belajar outdoor. Mereka terlihat senang, karena selama ini di benaknya belajar identik di ruangan. Dan rupanya mereka juga lebih mudah menangkap pembelajaran seperti ini,” ujar wisudawan terbaik IAIN Jember 2015 dengan IPK 3,98 ini.

Program Banyuwangi Mengajar ini digagas Pemkab Banyuwangi sejak 2014. Program ini mengajak para lulusan perguruan tinggi untuk mengabdikan ilmunya dengan mengajar anak usia sekolah di wilayah pelosok Banyuwangi. Para pengajar ini diberikan insentif senilai Rp 2 juta per bulan.

“Ini salah satu solusi kami di tengah kurangnya tenaga pengajar di Banyuwangi. Kami mengajak anak muda yang notabene idealismenya masih tinggi untuk menularkan ilmunya kepada sesama, pasti ini merupakan pengalaman berharga bagi mereka,” ujar Bupati Anas.

Anas pun sempat menanyakan kepada Latifah kesannya selama mengajar di tempat terpencil. Dengan gaya bicaranya yang riang dan bersemangat, Latifah menyatakan pengalaman selama mengajar di Desa Watukebo ini sangat berharga sekali.

“Meski masih baru di sini, saya sangat menikmati sekali Pak. Semua orang ramah dan menyenangkan. Walau pun jauh dari pusat kota, saya tidak merasa asing. Sebab setiap kali saya kesulitan, masyarakat selalu siap membantu,” ujar gadis yang telah mengajar selama sebulan ini.

Latifah pun sempat bercerita tentang aktivitas hariannya. Di samping sebagai wali kelas dan mengajar pelajaran agama Islam, dia juga memberikan bimbingan belajar dan mengajar mengaji.

“Alhamdulillah, anak-anak antusias les tiap pulang sekolah dan ba’da Maghrib. Sorenya, mereka belajar mengaji bersama saya di musholla,” kata Latifah yang sebelumnya pernah berprofesi sebagai guru bantu di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Jember itu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Sulihtiyono mengatakan bahwa Banyuwangi Mengajar ini telah diikuti 50 pengajar muda. Mereka yang mayoritas mahasiswa asal Banyuwangi ini ditempatkan di seluruh desa di pelosok.

“Tahun ini kami akan merekrut 20 orang lagi secara terbuka. Para lulusan perguruan tinggi yang memiliki minat terhadap pengembangan pendidikan kami undang untuk mengikuti program ini,” pungkas Sulihtiyono. (Humas & Protokol | February 24th, 2016)

(in)

%d blogger menyukai ini: