Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News Fenomena Kampung Kriminal

Fenomena Kampung Kriminal

Sketsanews.com – Belum lama kita dikejutkan dengan adanya” Kampung narkoba” di Berlan Jakarta timur. Seorang polisi bernama Brigpol Taufik bersama Japri alias Cibe (40) dikabarkan hilang usai menggerebek rumah bandar narkoba di Berlan, Jakarta Timur. Tidak hanya itu, seorang anggota polisi juga dibacok oleh warga saat penggerebekan tersebut.

joj

Jasad keduanya ditemukan di dua lokasi berbeda. Taufik ditemukan mengambang di DPU kali Banjir Kanal, Gambir, Jakarta Pusat. Sedangkan Japri mengapung di Kanal Banjir Barat, Palmerah, Jakarta Barat sekitar pukul 23.50 WIB

Kali ini nama Kalijodo mencuat menjadi terkenal diberitakan media, setelah di dekat kawasan tersebut terjadi kecelakaan yang merengut empat nyawa empat orang, pada Senin pagi. (8/2/2016).

Sebuah mobil Toyota Fortuner tipe SUV bernomor polisi B 201 RFD menabrak motor yang dikendarai oleh sepasang suami istri.

Pengendara mobil yang bernama Riky Agung Prasetyo mengaku sebelum kejadian kecelakaan tersebut dia bersama delapan orang rekannya pulang dari kawasan hiburan Kalijodo.Ia pulang dengan mengendarai Mobil dalam kondisi mabuk. Sehingga menabrak motor yang dikendarai sepasang suami istri. Menurut pengakuannya ia mengkonsumsi 10 gelas minuman keras.

Kini, Riki sudah ditetapkan sebagai tersangka dan mendekam di balik jeruji Satlantas Jakarta Barat. Riki dikenai Pasal 310 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan ancaman hukuman penjara lima tahun.

Kalijodo terletak di kelurahan Pejagalan, kecamatan Penjaringan, Jakarta utara. Kawasan tersebut diketahui sebagai kawasan perjudian dan preman serta prostitusi bagi kelas menengah kebawah.

Praktek perjudian, premanisme, dan prostitusi dikawasan tersebut, sudah berlangsung sejak tahun 1960an. Sejumlah bangunan liar diketahui berjejer di kawasan yang sudah ada sejak zaman Belanda.

Menurut Budayawan Betawi Ridwan Saidi, sebagaimana dikutip tribunnews.com, bahwa dikawasan ini muncul wanita tuna susila (WTS) tahun 1963. Setelah perayaan peh cun tahun 1960 dilarang oleh walikota Jakarta Sudiro yang menjabat tahun 1953 sampai 1960. Jabatan wali kota pada saat itu setara dengan jabatan gubernur saat ini. Kemudian pada tahun 1960 ke atas, terjadi urbanisasi besar-besaran. Orang dari berbagai daerah datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.

Kawasan protitusi dan perdagangan perempuan

Perkampungan yang terkenal dengan bisnis “esek asek” itu merupakan lahan bantaran sungai. Setiap malam tempat itu ramai dikunjungi pria hidung belang untuk memenuhi hasratnya. Ditempat itu juga terjadi praktek perdagangan perempuan.

Menurut data pihak kelurahan, ada 150 Pekerja Sek Komersial (PSK) menetap dikawasan tersebut, sementara PSK yang tidak menetap di sana, yang datang hanya malam hari, jumlahnya lebih dari itu.

 

“Ada 150 orang PSK yang menetap di situ. Cuma kan yang tinggalnya enggak di situ jumlahnya lebih banyak. Setiap malamnya bisa 500 PSK yang mangkal di situ,” kata Sekretaris Kelurahan Pejagalan Ichsan Firdaosy, saat ditemui wartawan di kantor Kelurahan Pejagalan, Selasa (9/2/2016).

Sementara menurut data dari Posko Pendaftaran dan Penanganan Warga RW 05 Kalijodo, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, jumlah wanita penghibur lokalisasi tersebut mencapai kurang lebih 445 orang, dengan perincian 195 orang terikat dan 250 orang tidak tetap.

Praktek perdagangan perempuan juga terjadi. Modusnya, wanita yang dia rekrut dari desa di tawari dengan gaji tinggi. Namun ternyata, di suruh bekerja di Kafe,dan melayani pria hidung belang. Perempuan yang sudah terjebak di dunia tersebut sulit melepaskan diri. Dikarenakan preman yang menjadi centeng selalu mengawasi gerak geriknya. Seperti ditulis Kombes Khrisna Murti dalam buku Geger Kalijodo. Merdeka.com

Kawasan protitusi ini sangat rentan terhadap penyebaran HIV/AIDS. Menurut Koordinator HIV/AIDS Puskesmas Kecamatan Penjaringan dr Intan Novita, saat ini, positif HIV di seluruh Kecamatan Penjaringan ada 101 orang.

Lebih memperihatinkan lagi warga Kalijodo mengaku tak terganggu dengan adanya praktik pelacuran di tempat mereka. Jumlah pekerja seks komersil di sana dinilai minim jika dibandingkan warga yang tinggal di daerah bantaran sungai itu.

Ketua Rukun Warga 5 Kelurahan Pejagalan Kunarso Suro Hadi Wijoyo mengatakan, ada sekitar 4.000 jiwa di kawasan. Ia tak menyebut ada warga asli Kalijodo yang jadi pelacur. Namun menurutnya, kebanyakan pelacur datang dari luar Kalijodo.

Jumlahnya pelacur dari luar Kalijodo diperkirakan ada sekitar 500 orang. “Yang dari luar kebanyakan jadi PSK, namun kami tak terganggu,” kata Kunarso di DPRD DKI Jakarta, dikutip Cnnindonesia Senin (15/2).

Sebagaimana dilansir Merdeka.com seorang tokoh warga Kalijodo, Daeng Aziz, juga tidak menampik adanya praktik prostitusi di kawasan tersebut.

Dia mengatakan bahwa prostitusi itu ada. Kita harus meneliti mengapa orang ini melakukan prostitusi dan apa penyebabnya. Ini yang disebut dengan prostitusi jual diri.

Selanjutnya dia mengatakan bahwa praktik prostitusi terjadi karena ada desakan kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Barang kali kita harus tinjau dulu siapa yang salah. Sehingga kita terdesak oleh tuntutan sehari hari. Mari kita kaji bersama.

kawasan preman dan kriminalitas

Menurut Direktur Reserse dan Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti ada tiga kelompok besar preman yang menguasai Kalijodo itu. Tiga kelompok berdasarkan etnis: Bugis, Mandar dan Banten

Kelompok Mandar beranggotakan 500 orang, Bugis 500 orang dan Banten hanya 200 sampai 300 orang. Kelompok Banten, meski jumlahnya paling sedikit, tapi tak takut ribut dengan grup Bugis dan Mandar.

Mantan kapolsek Pejaringan itu menambahkan para preman itu sering membuat keributan karena persaingan antar lapak perjudian yang didirikan kelompok preman tersebut.

“Tiga kelompok berdasarkan etnis: Bugis, Mandar dan Banten. Nah mereka menguasai operator perjudian di 3 titik,” kata Krishna Murti.dikutip detik.com Kamis (12/2/2016).

Selain itu minuman keras ilegal juga tersedia di tempat tersebut. Barang illegal itu mudah didapat dikawasan itu. Setiap hari berkrak krak minuman haram tersebut didatangkan ke Kalijodo mensuplai kafe,bar dan tempat hiburan.

Pihak kelurahan pejagalan merasa tidak mampu berbuat apa apa terhadap pelanggaran yang terjadi disana. Mereka berharap ada pihak lain membantu menertibkan kawasan tersebut.

Sementara itu, hasil razia yang digelar pihak kepolisian Sabtu (20/02/2016) dini hari, dikawasan tersebut polisi menemukan berbagai alat alat kejahatan, diantaranya disita 9.923 botol minuman keras dan 166 pak kondom.

Petugas juga menemukan 33 bilah senjata tajam, 2 palu, satu pucuk senapan angin, 8 batang linggis, 436 anak panah, 2 bilah celurit, 9 bilah golok, satu sangkur, 8 ketapel, 22 karet ketapel, sebatang tombak, dan sebilah pisau cutter.

Analisa

Permasalahan yang terjadi di Kalijodo merupakan permasalahan yang serius. Mengingat warga sekitar sudah merasa nyaman dan tidak merasa terganggu dengan aktivitas prostitusi di sana.

Jika yang terjadi demikian, ini merupakan permasalahan serius terhadap budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi adab dan susila. Jika pemerintah membiarkan permasalahan social beserta kerusakan moral di Kalijodo, sama saja membiarkan bangsa ini kehilangan jati dirinya.

Preman masih mempunyai kekuasaan dikawasan itu. Sebagai bukti sebanyak 14 kepala keluarga di Kalijodo mencabut permintaan penampungan di rusun yang ditawarkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Disinyalir warga mendapat intimidasi dari preman.

Mereka yang merasa berkuasa ditempat itu, masih berusaha melawan petugas dengan berbagai cara. Terbukti dari hasil razia yang digelar pihak kepolisian sabtu (20/02/2016) dini hari, dikawasan tersebut, polisi menemukan berbagai alat alat kejahatan yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan sebuah Kafe.
Diantaranya senjata tajam ada 33 bilah, 2 palu, satu pucuk senapan angin, 8 batang linggis, 436 anak panah, 2 bilah celurit, 9 bilah golok, satu sangkur, 8 ketapel, 22 karet ketapel, sebatang tombak, dan sebilah pisau cutter. Selain itu disita pula 9.923 botol minuman keras dan 166 pak kondom.

Kesimpulan

Penegak aparat hukum selama ini, telah gagal menegakkan hukum. Dengan bukti, saat ini praktek pelanggaran hukum tetap eksis dan terang terangan seperti pengakuan Daeng Azis yang membenarkan adanya praktek Prostitusi. Aparat penegak hukum telah kalah dengan preman.

Masyarakat Indonesia telah kehilangan jati diri bangsa jika membiarkan bahkan mendukung dengan memfasilitasi praktek prostitusi yang terjadi di Kalijodo.

Kalijodo mungkin merupakan fenomena gunung es yang sedikit Nampak dipermukaan. Bisa jadi masih banyak kalijodo kalijodo yang lain yang layak mendapat perhatian penguasa negeri ini.

Dibutuhkan peran berbagai pihak untuk menertibkan kawasan tersebut. Mengingat kawasan itu preman yang membekengi begitu kuat dan menyatu dengan warga.

Perdagangan minuman keras ilegal, perjudian, prostitusi, perdagangan perempuan yang terjadi di Kalijodo, jika ditinjau dari sudut pandang hukum Negara, agama, bahkan falsafah Negara ini, Pancasila merupakan bentuk pelanggaran yang layak ditindak.

(St)

%d blogger menyukai ini: