Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Meninggalnya Siyono Menimbulkan Tanda Tanya

Meninggalnya Siyono Menimbulkan Tanda Tanya

Sketsanews.com – Pernyataan pihak Mabes Polri atas kronologi kematian Siyono menyisakan kejanggalan. Lebih lagi track record Densus 88 yang tidak segan membunuh seseorang yang baru berstatus terduga teroris, ternyata sangat arogan. Bahkan oknumnya seakan-akan tidak tersentuh hukum.

Rumah Siyono di Klaten
Rumah Siyono di Klaten

Tercatat sudah sekitar 138 kejadian (angka diambil dari salah satu media Islam) secara brutal yang dilakukan oleh Densus 88 yang tidak tersentuh hukum. Alih-alih tersentuh hukum, pihak media terkesan tidak mau tahu terhadap hilangnya nyawa seseorang yang ‘didzalimi’ oleh Densus 88.

Sebagaimana dilansir dari okezone, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Agus Rianto membenarkan terduga teroris Siyono yang dibekuk Densus 88 Antiteror di Klaten meninggal dunia.

“Yang bersangkutan (Siyono) ditangkap 8 Maret yang merupakan hasil pengambangan dari tersangka sebelumnya, Ttk. Kemudian, 9 Maret atas keterangan dari Siyono, senjata api yang dia miliki telah diserahkan kepada orang lain,” kata Agus saat dikonfirmasi, Sabtu (13/2/2016).

Berbekal dari pengakuan Siyono, Polda DIY akhirnya membawanya ke lokasi tempat senjata api yang dia titipkan. “Namun setelah tiba di lokasi ternyata Siyono tidak dapat menunjukkan rumah yang dia maksud termasuk orang yang sudah dia sebutkan (orang yang menyimpan sejata api). Setelah dua jam melakukan pencarian akhirnya anggota kita membawa tersangka kembali,” sambung Agus.

Jenderal berbintang satu itu menambahkan, ketika diperjalanan, Siyono melakukan perlawanan terhadap anggota Polda DIY. Bahkan dia juga menyerang anggota yang mengawal tersebut. “Akhirnya terjadi perkelahian di dalam mobil. Setelah situasi dapat dikendalikan, tersangka kelelahan dan lemas. Selanjutnya anggota membawa tersangka ke RS Bhayangkara Yogyakarta untuk dilakukan pemeriksaan,” katanya.

Namun akhirnya nyawa Siyono tidak dapat ditolong dan meninggal di RS Bhayangkara Yogyakarta. Kemudian jenazah Siyono dibawa ke RS Polri Kramat Jati Jakarta, Sabtu 12 Maret 2016. “Sekira pukul 15.30 WIB tadi jenazah sudah diserahkan kepada pihak keluarga. Kita menyatakan prihatin atas kejadian ini,” pungkas Agus.

Sebelumnya keluarga terduga teroris Siyono ini kaget setelah Densus 88 Mabes Polri mendatangi kediamannya. Bahkan sang istri, Suratmi (39) sempat histeris ketika mengetahui suaminya meninggal setelah diperiksa Polda DIY.

Ada yang janggal dari keterangan Agus Rianto diatas, sebuah kejanggalan yang harus dibuktikan oleh pihak Kepolisian, karena kata berkelahi adalah kata yang masuk akal untuk menggantikan kata ‘disiksa’. Apalagi, langsung lemas.

Bisakah dibuktikan secara medis orang yang berkelahi sampai lemas kemudian meninggal begitu cepat? Atau ketika lemas sengaja dibiarkan tidak dilakukan tindakan apapun untuk menolong?

Komentar seseorang dalam sebuah kasus menunjukkan kualitas orang atau bahkan institusi yang diwakilinya. Sangat naif memang bila di jajaran Kepolisian di isi oleh orang-orang yang disetir oleh pihak lain, atau bahkan negara lain utuk bertindak dan berkomentar.

Bila melihat track record ke belakang, bukan tidak mungkin Siyono mengalami tindakan pelanggaran HAM yang sangat berat. Bila benar, tinta hitam menulis satu lagi tindakan Densus 88 yang telah melanggar HAM dan tidak ada hukum yang bisa menyentuhnya, negara yang luar biasa.

Perlu diketahui, Siyono meninggalkan 5 anak dan seorang istri. *

 

 

%d blogger menyukai ini: