Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News Analisa Kematian Terduga Teroris Siyono

Analisa Kematian Terduga Teroris Siyono

Sketsanews.com – Kematian terduga teroris atas nama Siyono, warga Dukuh Brengkungan Desa Pogung Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten masih menyisakan banyak pertanyaan.

keluarga-pertanyakan-penyebab-kematian-siyono-bKD
Sejumlah kerabat dan warga mengangkat keranda jenazah Siyono. (Antara/Aloysius Jarot Nugroho)

Pertama, penjelasan Karo Penmas Brigjen Agus Riyanto, bahwa akibat langsung kematian Siyono adalah kehabisan nafas setelah berkelahi dengan salah satu petugas Denssus 88. Bukankah SOP yang mereka lakukan selalunya memborgol tangan dan atau kaki tersangka. Kalo bisa berkelahi, apakah Siyono tidak diborgol? Kalo benar bahwa Siyono kehabisan nafas, kemungkinan yang masuk akal adalah akibat dicekik, bukan lemas karena berkelahi. Alangkah baiknya sebenarnya kalo jenasah korban diotopsi untuk membuktikan kebenaran keterangan dari pihak mabes polri terkait kematian Siyono.

 

Kedua, alasan dari Brigjen Agus Riyanto bahwa ada kesalahan SOP dalam pelaksaan tugas di lapangan oleh anggota Densus 88 karena tidak memborgol tangan dan atau kaki Siyono, juga merupakan hal yang perlu dicermati. Terlepas ada atau tidaknya SOP penangkapan seorang terduga Teroris, selama ini Densus 88 selalu memborgol minimal tangan dari target operasi mereka. Sehingga alasan kelalaian petugas dalam SOP yang sangat mendasar merupakan alasan yang sangat tidak masuk akal. Alasan ini terkesan dibuat-buat karena alasan berkelahi adalah alasan yang paling mungkin untuk mengganti kata “disiksa”.

 

Ketiga, SOP yang tidak biasanya juga dilakukan oleh pasukan berlambang Burung Hantu, yaitu mengawal terduga teroris hanya oleh seorang petugas saja. Sebagaimana berita di beberapa media massa bahwa Siyono tewas di dalam mobil yang berisi hanya 3 orang, yaitu Siyono, petugas pengemudi/sopir mobil dan hanya seorang petugas pengawal saja. Masyarakat hanya bisa melihat bahwa biasanya Densus 88 selalu mengawal terduga teroris dengan minimal 2 orang, bahkan lebih.

 

Dalam bayangan masyarakat awam, Densus 88 adalah pasukan yang sangat terlatih, dibekali perlengkapan yang canggih dan syarat keanggotaan yang sangat ketat. Pertanyaan selanjutnya adalah siapa petugas itu? Kenapa bisa masuk ke Tim Densus 88 yang terkenal hebat?

 

Masyarakat menunggu niatan baik pihak kepolisian, terkhusus Densus 88 untuk memperbaiki SOP dan pelaksanaannya.

 

Siyono, salah seorang terduga teroris yang dalam keadaan sehat wal afiat ketika ditangkap Densus 88, akhirnya meregang nyawa ketika berada dalam proses penyidikan. Korban telah dimakamkan di kampung halamannya pada hari Minggu (13/3/2016) tanpa proses otopsi. Pihak keluarga berharap peristiwa ini tidak terulang lagi kepada orang lain, cukup sekali ini saja. *

%d blogger menyukai ini: