Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News Kajian Kritis Tewasnya Terduga Teroris Siyono

Kajian Kritis Tewasnya Terduga Teroris Siyono

Sketsanews.com – Pasukan elit berlambang kepala burung hantu “Densus 88 AT” kembali berhasil menangkap seorang terduga teroris bernama Siyono di Klaten, Selasa (08/03/2016). Siyono (39) warga Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten.

Ilustrasi
Ilustrasi

Berdasarkan saksi mata Marso yang tidak lain adalah orang tua dari Siyono, penangkapan tersebut terjadi setelah terduga usai melakukan sholat maghrib di mushola dekat rumahnya.

Sebagaimana dijelaskan oleh kuasa hukumnya Sri Kalono, SH dihadapan para wartawan, di menjelaskan kronologi penangkapan terhadap Siyono. Menurutnya, Selasa (08/03/2016) seusai melakukan sholat maghrib datang tiga orang menghampiri korban, yang mana oleh bapaknya dan kakaknya dikira teman. Kalono menambahkan bahwa dua orang tadi mengapit Siyono dari arah samping kanan dan kirinya sedangkan yang satu mendorong dari arah belakang.

Penangkapan Siyono ini merupakan pengembangan dari hasil penangkapan terduga teroris di Temanggung berinisial T alias W. Sebagaimana diungkapkan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Republik Indonesia Brigjen Agus Rianto di Jakarta seperti dilansir beberapa media menyatakan bahwa penangkapan Siyono merupakan pengembangan dari seorang tersangka teroris berinisial T alias W.

“Kemudian Agus menambahkan bahwa pada tanggal 9 Maret, atas keterangan yang bersangkutan bahwa senpi (senjata api) yang ada pada dia sudah diserahkan pada orang lain. Selanjutnya dengan dikawal anggota (Densus 88), yang bersangkutan dibawa ke lokasi yang disebutkan.

Setelah tiba di lokasi, lanjut Agus, Siyono tak dapat menunjukkan rumah yang dimaksud, termasuk orang yang disebutkannya sebelumnya. Tapi, Agus tidak menjelaskan jenis senjata yang dicari. Dia juga tak menjelaskan bagaimana keterlibatan Siyono dalam kegiatan terorisme.

“Setelah sekitar dua jam melakukan pencarian, akhirnya anggota membawa tersangka kembali. Namun di perjalanan tersangka melakukan perlawanan terhadap anggota dan menyerang anggota yang mengawal dan akhirnya terjadi perkelahian di dalam mobil,” katanya.

Misteri Kematian Siyono

Kematian Siyono banyak mengundang tanda Tanya, masalahnya ketika Densus 88 menangkap dan menggelandang terduga, dia dalam keadaan sehat bugar. Namun, kemudian datang seorang yang tidak dikenal mengatakan mau membesuk tetapi ternyata ingin menyampaikan kabar bahwa Siyono sudah meninggal.

statik.tempo.co

Perihal kematian terduga teroris Siyono, sebagaimana dilansir detiknews.com Kadiv Humas Polri Irjen Anton Charliyan menjelaskan saat melakukan jumpa pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (14/3/2016). Kapus Dokkes Polri Brigjen Arthur Tampa juga hadir dalam kesempatan itu.

Dalam kesempatan tersebut dia mengatakan bahwa ketika Densus 88 menggelandang terduga dalam rangka pengembangan mencari senjata-senjata itu. Kemudian mobil bergerak dari Klaten menuju wilayah Prambanan, Jawa Tengah. Di dalam mobil itu, Siyono duduk di jok sebelah kiri, anggota Densus di sebelah kanan dan sopir.

Dia mengungkapkan bahwa Siyono ditutup matanya, menurutnya awalnya dia kooperatif. Tapi ketika sampai di suatu tempat, dia tidak mau menunjukkan (lokasi). Siyono kemudian meminta kepada anggota untuk membuka borgol dan penutup mata, baru bersedia menunjukkan lokasi tersebut. Siyono langsung melayangkan pukulan kepada anggota saat borgol dan penutup mata dibuka.

Anton mengatakan Siyono yang merupakan panglima di kelompok teroris Jemaah Islamiyah (JI) di Indonesia itu meninggal karena pendarahan di belakang kepala. “Jadi, SY ini adalah semacam panglima di kelompoknya. Dia juga komandan rekrutmen anggota baru dan penyimpanan senjata, Dia meninggal karena pukulan benda tumpul di belakang kepala” ujar Anton saat konferensi pers tersebut.

Jenderal bintang dua ini melanjutkan, sebelum dinyatakan tewas, petugas sempat membawa Siyono ke rumah sakit namun nyawanya tidak tertolong sebelum sampai di rumah sakit. Hal senada juga diungkapkan Kapusdokkes Mabes Polri Brigjen Pol Arthur Tampi saat mendampingi Anton. Arthur membantah keras jika polisi sengaja membunuh Siyono. Dia mengklaim, pelaku tewas akibat duel dengan anggota Densus 88. “Tidak ada pistol, tidak digunakan. Itu murni perkelahian tangan kosong,” tandas Arthur.

Namun klaim pihak kepolisian atas kasus tewasnya Siyono usai berduel dengan anggota Densus 88, nampaknya justru ditanggapi berbeda oleh berbagai pihak. Adalah Komisi III DPR RI yang menyayangkan terjadinya kasus tewasnya Siyono.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Desmond Junaidi Mahesa menegaskan bahwa pihaknya akan meminta keterangan lebih lanjut terkait kasus itu. Dia menegaskan bahwa dalam kasus kemarin, Siyono, kita panggil Densus 88. Hal ini disampaikan oleh Ketua Komisi III DPR RI di kompleks parlemen Senayan, Senin (14/3).

Desmond menambahkan apa yang dilakukan Densus 88 saat menangkap terduga teroris di Klaten dinilai berlebihan. Terlebih, dalam penangkapan terhadap terduga teroris dilakukan di depan anak-anak yang sedang bersekolah. Hal ini jelas menimbulkan efek traumatik pada anak.

Sementara itu, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah mendesak Presiden Joko Widodo membentuk tim independen khusus untuk menyelidiki tewasnya Siyono (39), warga Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten usai ditangkap Densus 88 pada Jumat (11/3) lalu. “Kami duga ada pelanggaran hak asasi manusia (HAM), dan tidak profesionalnya Densus 88,” ujar Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, Minggu (13/3).

Menurutnya, tewasnya warga yang tidak dalam status tersangka merupakan tanda tanya besar. Apalagi, pihak kepolisian beralibi dengan menyatakan bahwa Siyono tewas karena kelelahan setelah berkelahi dengan anggota Densus 88 dalam perjalanan setelah ditangkap. “Harus dibuktikan dengan independen. Selama ini kerja Densus 88 sama sekali tidak bisa diversifikasi pertanggungjawabannya terhadap terduga terorisme,” kata Dahnil.

Neo Jamaah Islamiyah

Mabes Polri menyayangkan tewasnya terduga teroris Siyono. Sebab, keterangan dia masih dibutuhkan untuk pengembangan penanganan kasus terorisme. Dalam konferensi pers di Gedung Humas Polri, Jakarta, Senin (14/3), Kadiv Humas Polri Irjen Anton Charliyan mengungkapkan bahwa kedudukan Siyono strategis, karena sama kedudukan dengan panglima.

mabes-polri-pembela-siyono-sama-saja-membela-teroris

Dia menjelaskan, belum ada keterkaitan SY dengan bom Thamrin atau juga belum ada kaitan dengan Santoso. Polisi memastikan, dia merupakan teroris dari kelompok Neo Jamaah Islamiyah (Neo JI). Hal itu berdasarkan dari pengembangan tersangka AW.

Sebagaimana dikutip merdeka.com Kadiv Humas Mabes Polri itu mengatakan bahwa selain panglima sekaligus komandan perekrut kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI), Siyono (SY) juga dikenal perakit dan pembuat senjata. Kelompok ini juga memiliki sejumlah bungker, salah satunya sempat diekspos pada tahun 2014.

Atas sejumlah kasus yang membelit Siyono, Anton menegaskan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi. Jenderal bintang dua ini menyebut Siyono sebagai pentolan kelompok teroris JI.

“Yang meninggal pentolan kelompok teroris. Barang siapa yang membela artinya membela teroris,” tegas dia.

 

Analisis

Isu terorisme selalu menjadi topic pembahasan yang menarik dan tidak akan pernah basi dari dunia media baik media online maupun media elektronik. Apalagi dengan kasus terorisme yang terbaru dan paling hangat yakni tentang tewasnya terduga teroris Klaten Siyono. Dia adalah seorang seorang warga dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten, yang ditangkap oleh tim pasukan berlambang kepala burung hantu pada hari Selasa (08/3/2016).

Perspektif Hukum di Indonesia

Namun, dalam perpekstif hokum yang berlaku di Indonesia banyak terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh Densus 88 AT tersebut. Karena, kalau kita lihat dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bab V tentang penangkapan pasal 18 dijelaskan bahwa tugas penangkapan dilakukan oleh kepolisian republic Indonesia dengan memperlihatkan surat tugas dan memberikan kepada tersangka perintah penangkapan yang berisi identitas tersangka dan menjelaskan alasan dari penangkapan dan uraian singkat mengenai kesalahan yang dilakukan.

Kalau kita lihat semua penangkapan terhadap kasus terorisme tidak pernah petugas memperlihatkan surat tugas penangkapan, termasuk apa yang dialami oleh terduga teroris Siyono.

Pasal 1 angka 20 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) mendefinisikan penangkapan sebagai ‘suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam penangkapan. Pertama, pejabat yang diberikan kewenangan untuk melakukan penangkapan. KUHAP hanya memberikan kewenangan kepada penyidik untuk melakukan penangkapan.

Kedua, alasan penangkapan. Berdasarkan definisi penangkapan di atas, penangkapan diperbolehkan jika memang ‘terdapat cukup bukti’. Dengan mengacu kepada Pasal 17 KUHAP, frase ini dimaknai sebagai ‘seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup’. Tidak jelas apa yang dimaksud dengan bukti permulaan yang cukup itu, sehingga dalam praktik hal itu diserahkan sepenuhnya kepada penyidik.

Ketiga, tata cara penangkapan. Penyidik atau penyelidik yang melakukan penangkapan memperlihatkan surat tugas, memberikan kepada tersangka surat perintah penangkapan yang mencantumkan identitas tersangka dan menyebutkan alasan penangkapan serta uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkakan serta tempat ia diperiksa.

Perspektif Hak Asasi Manusia tentang Penangkapan dan Penahanan

Untuk menilai bahwa penangkapan dan penahanan yang dilakukan penyidik atau aparat penegak hukum yang lain sesuai atau bertentangan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia, parameter yang digunakan tiga prinsip penegakan hukum dan hak asasi manusia di atas.

Pertama, prinsip legalitas. Penangkapan dan penahanan terhadap seorang tersangka atau terdakwa hanya sah dan tidak melanggar hak asasi apabila dilakukan oleh pejabat yang diberikan kewenangan untuk itu. Meskipun pelaku kejahatan adalah recidivist dan kejahatan yang dilakukannya adalah kejahatan serius seperti terorisme, genosida dan kejahatan terhadap kemanusia, penangkapan tetap harus dilakukan oleh pejabat yang tidak memiliki kewenangan untuk itu, yaitu penyidik atau penyelidik atas perintah penyidik.

Kedua, prinsip nesesitas. Harus diakui bahwa prinsip ini jarang digunakan oleh aparat penegak hukum untuk menilai apakah tindakan-tindakan mereka itu sesuai dengan prinsip hak asasi manusia. Bahkan di tingkat kepolisian prinsip ini hanya dibatasi ruang lingkupnya pada penggunaan senjata api.

Ketiga, prinsip proporsionalitas. Inti dari prinsip ini adalah adanya keseimbangan antara pembatasan terhadap kebebasan atau kemerdekaan tersangka atau terdakwa dengan tujuan yang hendak dicapai dari penangkapan dan penahanan, yaitu mengumpulkan alat bukti dan mempermudah proses pemeriksaan peradilan.

Teka-teki Kematian Siyono

Berdasarkan data yang diberikan oleh mabes Polri sebagaimana yang diungkapkan oleh kadiv Humas Polri itu banyak menimbulkan keraguan dan tanda Tanya. Pertanyaan yang muncul diantaranya adalah perkelahian yang dilakukan oleh terduga dengan aparat bisa mengakibatkan kematian, meskipun mereka berdalih terjadi pendarahan yang hebat di kepala terduga.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah benar terduga melakukan perlawanan dengan tangan terborgol, karena tidak mungkin pasukan se elit itu mau melanggar aturan yang telah menjadi SOP di lapangan dengan melepaskan borgol.

Semua itu mustahil terjadi, tetapi kemungkinan yang ada Densus mengalami kewalahan atas sikap terduga yang tidak mau menunjukkan senjata-senjata api. Mesipun, mereka berdalih bahwa korban bersikap kooperatif sebagaimana yang diberitakan. Kalaulah benar terduga bersikap kooperatif maka tidak mungkin dia akan melawan.

Jadi tidak menutup kemungkinan bahwa terduga tewas karena dianiaya dan ditembak. Hal ini berdasarkan fakta yang ada bahwa juru bicara keluarga, Endro Sudarsono menyebutkan, luka di sekujur tubuh Siyono mengindikasikan bahwa Siyono mendapat penyiksaan dalam keadaan tidak berdaya. Bahkan ketika mengikut prosesi pemakaman di rumah duka, seorang kerabat Siyono mengaku melihat kepala jenazah masih mengeluarkan darah segar berwarna merah cerah. Di wajah sebelah kanan terdapat luka memar, sementara hidung Siyono juga patah. Di bagian kaki, juga terlihat penuh luka memar.

Terror on War

Pernyataan Kadiv Humas Polri Irjen Polisi Anton Charliyan yang mengatakan ‘siapa membela Siyono maka dia membela teroris’. Ungkapan ini mengingatkan kembali apa yang diungkapkan oleh presiden Amerika Serikat George W Bush dengan menerapkan prinsip “preemptive self-defense.,,

Doktrin ini selain sebagai pemyataan ‘Perang melawan Terorisme’, internasional, juga sekaligus doktrin politik luar negeri AS. Doktrin ini merupakan kebijakan unilateral dalam politik Iuar negeri AS pasca perang Dingin. walaupun oleh Kenneth w. Stein (2002: 53) dinyatakan bahwa Doktrin Bush itu tidak mengarah kepada apa yang disebut Samuel Huntington (1993: 22-49) sebagai..clash of civilization,, atau sebuah “western crussade against rslam,” (Stein, 2a02:53) namun sasarannya seolah-olah semua diarahkan kepada kelompok radikal Muslim yang digolongkan sebagai anggota jaringan teroris intemasional. Bush selalu mengulangi dalam pidatonya tentang ‘Perang melawan Terorisme’, dengan pernyataan “Either you are with us, or you are with the terrorists,, (Stein, 2002:54).

Pernyataan Kadiv Humas Mabes Polri pun tidaklah berbeda dengan penyataan Bush pada waktu itu, sehingga secara tidak langsung menyiratkan kepada Indonesia ‘Perang Melawan Terorisme’. Dalam hal ini perang melawan kepada kelompok radikal JI karena menurut Polri, Siyono merupakan seorang tokoh yang penting dalam kelompok itu.

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones menyebut keberadaan Neo Jamaah Islamiyah memang ada. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones menyebut keberadaan Neo Jamaah Islamiyah memang ada. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Pakar terorisme dan Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones, mengemukakan hal itu  dalam diskusi bertajuk Evolusi ISIS di Indonesia di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta di Ciputat, Tangsel, 5 Mei 2015. Pada kesempatan ini dia mengatakan bahwa Cita-cita untuk menjadikan Indonesia negara Islam tidak pernah terkubur. Kelompok ekstremis Jamaah Islamiyah (JI) di Indonesia tetap menjadikannya cita-cita utama dan aktif melakukan perekrutan anggota. Namun, waktu yang tepat untuk merealisasikan cita-cita itu selalu diperhitungkan secara matang, menunggu momentum yang mendukung.

Di mata Sidney Jones, bila menelisik rekam jejak dalam melakukan aksi, JI adalah ancaman jangka panjang. Kendati demikian, kata dia, gerakan JI harus tetap diamati.

Kesimpulan

Berdasarkan data dan analisa bisa diambil kesimpulan pertama bahwa penangkapan atas terduga teroris Siyono telah melanggar hokum yang ada di Indonesia.

Kedua, kematian Siyono bukanlah karena perkelahian dengan aparat tetapi akibat penganiayaan yang dilakukan aparat Densus 88 terhadapnya.

Ketiga, polri telah mengumandangkan perang melawan terorisme dan melawan kepada siapa pun yang membela teroris.

(Bz)

%d blogger menyukai ini: