Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News POLEMIK LGBT DI INDONESIA

POLEMIK LGBT DI INDONESIA

Sketsanews.com – Akhir-akhir ini, di berbagai media marak diributkan soal eksistensi kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transeksual). Polemik ini dipicu adanya publikasi yang disebar secara viral di media sosial. Dalam publikasi tersebut, komunitas layanan bimbingan konseling SGRC (Support Group and Resources Centre on Sexuality Studies) menawarkan jasa konseling bagi masyarakat yang ingin tahu tentang LGBT.

lgbt

Banyaknya kalangan artis yang terlibat dalam perilaku abnormal akhir-akhir ini -sebut saja artis Syaiful Jamil- semakin menyadarkan kita, ternyata perilaku seks menyimpang tersebut benar-benar telah menyebar di Masyarakat Indonesia. Awalnya kita tidak mengira kalau artis SJ ini penyuka sesama Jenis/homo, karena ia pernah menikah 2 kali.

Lain lagi dengan artis kawakan, Dedi Yuliardi Ashadi. Pria ini merasa bahwa dirinya sebenarnya adalah perempuan, maka ia memutuskan untuk operasi ganti kelamin. Setelah statusnya menjadi wanita ia mengganti namanya menjadi Dorce Gamalama.

Ada lagi artis yang senang berpenampilan layaknya wanita-walaupun tidak sampai operasi ganti kelamin- dan berperilaku layaknya wanita. Begitupun sebaliknya, banyak wanita yang berpenampilan seperti laki-laki, berperilaku seperti lelaki dan bahkan operasi payudara dan ganti kelamin. Kalau diungkap fakta yang sebenarnya, maka banyak sekali kalangan artis yang terlibat perilaku menyimpang ini.

Pada acara yang sama, Ketua Komisi Perlindungan Anak (KPAI) Asrorun Niam mengatakan “Undang Undang sudah menunjukkan bahwa itu adalah perilaku Abnormal, sungguh pun ada Kajian Akademik. Status Abnormal berdasarkan Undang-Undang bukan berarti mengingkari HAM kaum LGBT. Dalam hal pendidikan misalnya, mereka harus tetap diberikan akses”.

Persoalan LGBT adalah masalah yang banyak mendapat sorotan bahkan pertikaian pendapat dari para tokoh baik kalangan artis itu sendiri maupun para ilmuwan.

Sebagaimana dilansir Liputan6.com Anggota Komisi VIII DPR Desy Ratnasari mengatakan bahwa secara pribadi dirinya menolak keberadaan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transeksual (LGBT) yang kini kian ramai di Tanah Air. Desy beralasan bahwa LGBT tidak sesuai aturan agama mana pun dan sudah keluar dari kodrat manusia yang memiliki 2 jenis kelamin, yakni laki-laki dan perempuan.

Dia juga mengatakan bahwa sebagai manusia, kita semua memiliki kewajiban mentaati aturan Tuhan yang menciptakan manusia dan mentaati aturan manusia, di mana kita hidup di dunia. Oleh karena itu, saya menolak LGBT, demikian kata Desy kepada Liputan6.com di Jakarta, Rabu (17/2/2016).

Lain lagi dengan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan memastikan tidak ada diskriminasi bagi kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transeksual (LGBT), terutama dalam lapangan kerja. Kalau dia bekerja profesional, bagus, kenapa dia dipersoalkan, demikian kata Luhut di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (16/2/2016).

Dia menambahkan meski memiliki kelainan seksual, Luhut menegaskan, kaum LGBT tidak kehilangan hak sebagai warga negara Indonesia (WNI) yang dilindungi negara. Wakil Presiden Jusuf Kalla pun sepaham dengan hal tersebut.

“keberadaan kaum LGBT memang sepenuhnya tidak membuka diri, mereka menutup perilaku menyimpangnya dengan berperilaku seperti orang kebanyakan. Mereka menikah, akan tetapi orientasi seksualnya bukan kepada lawan jenisnya”. Kata Maman Suherman (Kriminolog alumni Universitas Indonesia) saat acara Polemik Sindo Trijaya bertajuk “LGBT, beda tapi nyata” Jakarta, sabtu 20/02/2016.

Analisa

Dilihat dari sejarah, sebenarnya keberadaan kaum LGBT di Indonesia sudah ada sejak tahun 1973. Kala itu, kemunculan mereka ke publik berbarengan dengan film berjudul “ Akulah Vivian” yang bercerita tentang kehidupan transgender.

Kemudian pada rentang tahun 1982-1992, kaum LGBT ini muncul lagi dengan mengusung kampanye kesetaraan gender.

Dinar Kania-Ketua Divisi Kajian Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (AILA) – dalam diskusi kajian “LGBT dalam perspektif keilmuan” di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok pada Jum’at sore (26/02/2016) mengatakan bahwa tidak mungkin mereka memperjuangkan kesetaraan gender kalau tidak melegalkan LGBT.

-Semula kelompok ini bergerak dari sosialisasi HIV/AIDS untuk bergerak dengan kampanye secara terbuka.

Gerakan ini merupakan gerakan bawah tanah yang didanai dan sudah berbentuk jaringan.

 

LGBT pun sebenarnya juga tidak sejalan dengan ideologi yang dianut Indonesia yakni Pancasila yang berfalsafah agama. Seperti dalam Sila Pertama disebutkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Meskipun Indonesia bukan Negara Agama, akan tetapi nilai dan ajaran agama dijunjung tinggi. Berbeda dengan Amerika dan beberapa negara Eropa yang menganut paham kebebasan.

Tidak ada Agama yang melegalkan hubungan sesama jenis, karena sudah jelas efek negatifnya.

Hukum Positif pun termuat dalam UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, Pasal 1 yang berbunyi “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara eorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga(rumah tangga) yang bahagia dan kekal bedasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Jadi, ditinjau dari Hukum Agama dan Hukum Negara, prilaku hubungan sesama jenis (LGBT) tidak dibenarkan. Perilaku mereka melanggar Agama (yang berarti dosa), dan melanggar Hukum Negara (yang berarti tindakan melawan hukum dan konstitusi).

 

Kesimpulan

Lesbian, Gay, Biseksual, transeksual (LGBT) adalah penyimpangan seksual/abnormal, keberadaannya tidak dapat dipungkiri sebagai fakta sosial yang ada. Namun melegalkan keberadaannya, bertentangan dengan 2 Hukum sekaligus yang berlaku di negara Indonesia. Melegalkannya, sama dengan menghendaki kerusakan dan kehancuran bangsa ini.

(Dr)

%d blogger menyukai ini: