Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Mampukah Tito Dengan BNPT Menghadang Laju Gerakan Radikal di Indonesia

Mampukah Tito Dengan BNPT Menghadang Laju Gerakan Radikal di Indonesia

Sketsanews.com – Isu berkenaan dengan pergantian beberapa tokoh penting dalam tubuh Polri kian semakin santer sejak beredarnya Telegram Rahasia (TR).

tito-arahkan-bnpt-fokus-pencegahan-terorisme-l4jsDBLg0X

Isi telegram rahasia tersebut adalah (1).Irjen Pol Tito Karnavian jadi Kepala BNPT gantikan Komjen Pol Saud Usman yg memasuki pensiun,(2).Gubernur Akpol Irjen Pol Anas Yusuf menjadi Kabareskrim gantikan Komjen Pol Anang Iskandar jelang pensiun,(3).Kapolda Jabar Irjen Pol Mugiharto Adhimakayasa 86 menjadi Kapolda Metro Jaya,dan (4).Gubernur PTIK Irjen Pol Rycko Amelza’88 B menjadi Kapolda Jabar.kombes pol des aditiyawarman menjadi kapolrestabes bandung….

Meskipun banyak dari tokoh petinggi Mabes Polri yang membantah mengenai isu tersebut diantaranya adalah Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Agus Rianto menegaskan isu tersebut tidak benar.

Sebagaimana dikutip tribunnews.com Agus menyatakan bahwa sampai detik ini belum ada surat keputusan atau TR yang menyatakan adanya pergantian beberapa Kapolda termasuk pejabat utama Mabes Polri. Demikian halnya disampaikan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Mohammad Iqbal. Dia mengatakan bahwa itu hanya isu belaka.

Namun akhirnya Mabes Polri membenarkan adanya mutasi jabatan terhadap sejumlah perwira tinggi, di antaranya Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian yang akan menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Ia akan menggantikan Komjen Saud Usman Nasution yang memasuki masa pensiun.

Karier Tito berawal ketika dia memimpin Tim Kobra yang berhasil menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Suharto, seorang putra mantan presiden Suharto dalam kasus pembunuhan hakim agung Syaifudin.

Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1987 itu pada tahun 2004, dengan pangkat AKBP, terpilih sebagai Kepala Detasemen 88 Antiteror Polda Metro Jaya. Pada saat dia menjabat Ka Densus 88 AT Polda Metro jaya dirinya berhasil membongkar jaringan terorisme di Indonesia salah satunya adalah melumpuhkan teroris Azahari Husin dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur, 9 November 2005. Atas kepiawaiannya itu, pangkatnya dinaikkan menjadi Kombes Pol.

az

Demikian juga saat konflik Poso mencuat pada tahun 2007, Tito bersama rekan-rekannya juga sukses membongkar konflik Poso dan meringkus orang-orang yang terlibat di balik konflik tersebut serta meringkus puluhan tersangka yang sebelumnya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Pada tahun 2009, pria berusia 51 tahun itu turut tergabung dalam tim penumpasan jaringan terorisme pimpinan Noordin M Top. Selain itu, Tito mendapatkan banyak penugasan untuk pergi ke berbagai belahan dunia dari Asia, Amerika hingga Eropa. Atas kesuksannya itu, ia diangkat menjadi Kapolda Papua.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti memutasi sejumlah Perwira Tinggi (Pati) Polri yang menduduki dan meninggalkan kursi kepemimpinan di beberapa daerah. Salah satu Pati yang terkena mutasi ialah Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Unggung Cahyono. Unggung akan meninggalkan kursi Metro Jaya 1 dan memegang jabatan baru sebagai Asisten Operasi Kapolri. Sebagai gantinya, jabatan Kapolda Metro Jaya akan diemban oleh Irjen Pol Tito Karnavian. Berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1242/VI/2015 yang dipublikasikan Jumat (5/6/2015).

Kombes Polisi Tito Karnavian akhirnya resmi dilantik menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) oleh Presiden Jokowi berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 38/TPA/2016 tentang pengangkatan dan pemberhentian Kepala BNPT. Dia mengantikan Komjen Pol Saud Usman yang akan memasuki masa pensiun.

Banyak tokoh yang sangat antusias dengan pergantian kepala BNPT dari Komjen Pol Saud Usman ke Irjen Pol Tito Karnavian, diantaranya adalah pengamat intelijen dan militer, Susaningtyas Kertopati (Nuning). Sebagaimana dikutip Okezone.com, dia mengatakan bahwa Tito Karnavian adalah polisi intelektual yang sangat membanggakan dan harus diteladani oleh juniornya. Tito bisa menjalankan tugasnya sebagai anggota Polri di mana pun ditempatkan tanpa lupa terus menambah ilmunya.

Apalagi kalau kita lihat program unggulan BNPT pimpinan Tito, dimana dia memfokuskan pada dua hal yakni pencegahan atau kontra radikalisasi. Dalam hal ini harus melibatkan stake holder baik dari pemerintah maupun non pemerintah.

Sedangkan yang kedua adalah program rehabilitasi dan deradikalisasi kepada para napi kasus tindak pidana terorisme baik yang masih ada dalam penjara maupun yang sudah keluar dari penjara.

Namun, tantangan yang paling berat adalah menghadapi tumbuh dan berkembangnya kelompok-kelompok radikal yang ada. Sehingga muncul pertanyaan mampukah dia mengulangi kesuksesan dalam menangani kasus terorisme sebagaimana ketika menjabat Ka Densus 88 anti terror Polda Metro Jaya.

Pertanyaan yang kedua dengan menjabat kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mampu menghadang laju gerakan radikal yang ada dengan program kontra radikalisme dan deradikalisme.

Banyak alasan mengapa muncul pertanyaan-pertanyaan di atas, diantaranya adalah karena masyarakat Indonesia hari ini sudah mulai kritis terhadap kasus-kasus yang berbau terorisme. Mereka menganggap bahwa penangkapan dan terror yang marak di Indonesia adalah rekayasa dalam rangka pengalihan isu nasional.

Mari kita buka lembaran sejarah kasus Zulkifli Lubis di era 1950-an. Pada tahun itu sempat terjadi peristiwa makar, yaitu percobaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno. Peristiwa yang lebih dikenal sebagai Peristiwa Cikini itu dilakukan oleh sekolompok teroris asal Nusa Tenggara Barat.

Oleh sejumlah lawan politiknya, Lubis sempat diduga sebagai dalang peristiwa tersebut. Sebab, pada era itu memang terjadi sejumlah peristiwa pembangkangan militer.

Para teroris yang diadili mengaku kenal Lubis. Namun, selama persidangan, tidak pernah ada bukti dan petunjuk bahwa Lubis mendalangi aksi teror itu. Hingga sekarang, Lubis belum pernah diajukan ke pengadilan untuk memperjelas kasusnya.

Daan Mogot, bekas rekannya yang belajar bersama di Seinen Dojo di Tangerang pada era penjajahan Jepang, tidak pernah yakin Lubis berada di balik Peristiwa Cikini. Ia justru menduga ada rekayasa yang dilakukan oleh pihak tertentu sebagai tindak lanjut pelaksanaan Piagam Yogya.

“Dengan meletusnya teror Cikini, perundingan menjadi mentah. Sebaliknya, radikalisme semakin merangsang semua pihak yang selama itu baru dalam tahap berbeda pendapat,” demikian kata Daan Mogot.

“Masa seluruh pelaku teror tersebut dalam sehari semuanya sudah bisa digulung? Mana mungkin kalau bukan hasil rekayasa…,” lanjut dia.

Dari study kasus ini jelas bisa kita ambil kesimpulan banyak aksi-aksi terror ini merupakan rekayasa yang melibatkan intelijen untuk bermain di dalamnya.

Alasan yang lain adalah kebrutalan tim pasukan Densus 88 AT dalam menangani orang-orang yang diduga melakukan aksi terorisme. Karena mereka tidak bisa memetakan mana orang yang baik dan jahat, dan kebanyakan orang-orang yang diduga melakukan aksi terorisme adalah orang-orang yang baik di mata masyarakat. Selain itu rasa kemanusiaan mereka telah hilang dengan melakukan penganiayaan bahkan penembakan. Dan tidak sedikit yang terjadi di depan anak-anak.

Alasan-alasan itulah yang menjadikan beratnya BNPT menghadapi tumbuh berkembangnya gerakan radikal, karena ibarat pohon batangnya dipangkas tunas-tunas baru muncul dengan membawa rasa kebencian yang sangat.

Solusinya adalah pemerintah harus memberikan ruang kepada warga Negaranya untuk mengamalkan ajarannya sebagaimana yang ada pada sila I dari Pancasila dan pasal 29 UUD 1945.

BNPT harus melakukan diskusi dengan adil dan jujur tanpa adanya paksaan, tekanan dan imbalan yang menggiurkan bagi para nara pidana kasus terorisme sehingga ada perasaan harga dirinya di hormati.

(Bz)

%d blogger menyukai ini: