Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News, Wawancara Ansyad Mbai : Saya Yakin dalam Waktu Dekat Teroris Santoso Ditangkap

Ansyad Mbai : Saya Yakin dalam Waktu Dekat Teroris Santoso Ditangkap

Sketsanews.com – Nama pimpinan teroris Mujahidin Indonesia Timur, Santoso masuk dalam daftar Teroris Global oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Hingga kini kelompok dipimpin Santoso alias Abu Wardah dalam posisi terdesak setelah di terus disisir oleh Satgas Tinombala. Banyak yang mengatakan Santoso hanya buatan karena upaya perburuannya belum juga mendapatkan hasil.

dalam-waktu-dekat-gembong-teroris-santoso-ditangkap-wawancara-ansyaad-mbai-1

Dilansir dari merdeka, mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris, Ansyaad Mbai meluruskan isu itu. Menurut dia, Santoso memang benar ada dan dalam waktu dekat akan ditangkap. Apalagi posisi kelompok teroris jaringan Santoso berada di Poso saat ini terus terdesak. Gabungan Kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia dinamakan Satgas Tinombala ini terus menyisir kelompok Santoso.

“Iya, saya yakin itu,” ujar Ansyaad Mbai saat berbincang dengan merdeka.com di kantornya Rabu sore kemarin. Dia menambahkan jika jumlah anggota kelompok Santoso saat ini sudah mulai berkurang. “Masih puluhan. Saya tidak tahu persis berapa jumlahnya,”.

Berikut petikan wawancara Ansyaad Mbai kepada Arbi Sumandoyo dari merdeka.com mengenai sosok Santoso dan karirnya sebagai teroris paling diburu saat ini.

Banyak yang mempertanyakan keberadaan Santoso, apakah dia benar-benar ada?

Memang banyak yang mengatakan dia sengaja dibiarkan, jadi proyek, biar operasi lama-lama di sana.Banyak orang membandingkan seperti DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh dulu.

Sudah berapa lama Santoso diburu?

Santoso sudah diburu dari tahun 2007, dia menjadi figur utama di sana. Setelah itu ada kejadian mutilasi, mutilasi tiga orang siswi SMK itu di sana (Poso), kemudian di susul, ada Polisi dibunuh lalu dikuburkan dalam satu lubang. Kemudian ada Brimob yang diadang, itu sudah berapa puluh tahun, sudah hampir 10 tahun Santoso diburu. Pertama awalnya hanya Polisi, kemudian Densus, kalau anda tahu sebagian Polisi lain bahkan Polda sebagian juga banyak yang mengatakan bersama BNPT supaya dapat donatur dari internasional dan sebagainya. Itu banyak isu itu, itu tidak pernah kita tanggapi isu itu.

Siapa sebenarnya Santoso?

Dia adalah pimpinan MIT, Mujahidin Indonesia Timur. Dia di baiat oleh Abu Bakar Baasyir, kaya JAT di sana dulu. Kemudian dia mengembangkan itu sampai kemudian muncul di Youtube segala macam kan. Mulai ramai itu, itu kan nyata berarti kan.

Apakah ada hubungannya dengan pelatihan di Jantho Aceh?

Itu ada dalam buku saya. Jadi ada dinamika baru jejaring teror di Indonesia. Itu titik awalnya, justru Jantho, Aceh itu. Ringkasnya, anda bisa baca buku saya. Karena gagal membuat suatu tempat mereka tempat Qoidah Aminah di Aceh, pernah di obrak-abrik. Begini sebetulnya ceritanya, ini bermula pada tahun 2009, ketika Noordin M Top tertangkap pasca Marriott dua, praktis Jemaah Islamiah dan JAT ini lumpuh. Anda tahu itu semua tersebar dalam kelompok-kelompok kecil seperti jamur.

Ternyata akhir 2009, tokoh-tokoh utama teroris itu yang dipenjara keluar penjara, ada Abu Bakar Baasyir, kemudian ada Mustofa dan yang lain-lain. Dari Filipina ada Dul Matin, kemudian ada Umar Patek. Akhirnya mereka sepakat bagaimana mereunifikasi gerakan ini, artinya mengumpulkan dana segala macam dan di situ lah Abu Bakar Baasyir kena mendanai itu. Ada bukti hukumnya. Dia ada keterkaitan dengan pelatihan di Jantho Aceh, pelatihnya adalah Mustofa dan pendanaannya adalah Abu Bakar Baasyir dari berbagai sumber. Di obrak-abrik, ada yang tewas, ada yang tertangkap dan juga banyak yang lolos.

Yang Lolos, mulai anda ikuti, pertama urutannya dari Sumatera. Perampokan CIMB Medan, satu Brimob tewas, senjatanya diambil, seminggu kemudian senjata itu digunakan untuk membantai Polsek Hamparan Perak kan. Beberapa orang yang tewas. Ini memang dari sana (Jantho semua), termasuk Fadli Sadama. Kemudian yang di Klaten, itu di Abdullah Sonata. Itu Polisi tiga tewas di sana. Nah di Purworedjo dan Kebumen, ini kelompok ini. Yang bantai siapa?, bahkan mantan tentara yang baru keluar penjara. Namanya Yuli Harsono, itu yang menembaki dan dikendalikan oleh Abdullah Sonata. Kemudian ada bom-bom itu dan melibatkan anak SMA dan pusatnya di Klaten segala macam, nah Yuli Harsono tewas dalam penggerebekan di Klaten.

Kemudian di Lampung, Sumatera dan Jawa, anda lihat kan rangkaian perampokan Bank, pembunuhan Polisi, semua itu ada hubungannya dengan pengumpulan dana. Dapat miliaran rupiah dana itu untuk membiayai pelatihan yang di Poso sebagai ganti dari Jantho, Aceh. Yang ke Jantho itu juga dari Poso sebagian. Yang merampok ini termasuk juga yang di Medan, termasuk hacker dan MLM mendapatkan dana 8 miliar itu, itu semua untuk membiayai pelatihan di Poso. Yang merampok ini juga merupakan alumni Poso. Dia mengumpulkan dana untuk pelatihan itu. Walaupun sebenarnya ada korupsinya juga, hanya ratusan juta sedangkan yang miliaran itu dimakan sendiri.

Siapa yang korupsi?

Ya teroris ini. Dia menamakan diri di sana MIT (Mujahidin Indonesia Timur) kemudian yang di sini MIB (Mujahidin Indonesia Barat) dari Abu Omar kemudian turun ke Qodrat dan turun kepada Abu Roban. Kelompok ini sudah 50 orang tertangkap dan 20 orang tewas. Termasuk juga yang di Bandung dan Jawa ini. Itu kan perampokan Toko Emas kemudian juga mebel, apalagi termasuk juga Kantor Pos untuk mendanai pelatihan militer itu. Yang melakukan perampokan ini juga dari sana, termasuk juga dari Solo, kelompok badri. Pelatih Bom di sana juga memang kelompok Solo.

Di Beji kemudian yang di Tambora itu adalah dari Solo semua, kelompok Badri segala macam itu. Itu awal merebaknya, sampai pada pembantaian Polisi sebanyak enam orang di Jakarta. Kemudian mereka ditangkap dan tewas semua. Ini semua adalah rangkaian ini. Mulai saat itu, tanpa kita sadari, ada mereka mau merampok Bank di Tangerang, ternyata sudah punya paspor untuk berangkat ke Syria dengan sebagian uang itu. Dahulu tahun 2012 kan belum marak, kita baru ribut ini pada 2014 saat ramai berbaiat kepada ISIS, tadinya kita belum ketahui itu.

Ternyata itu mereda tetapi meredanya karena mereka berangkat ke sana, ke Syria. Syria dan Irak itu. Jadi banyak sekali rangkaian soal terorisme di Indonesia. Anda nanti saya berikan buku saya. Di BAB II itu isinya adalah fakta semua, bukan analisis.

Apa peranan Santoso?

Selain menjadi pimpinan MIT (Mujahidin Indonesia Timur), secara organisatoris dialah orang yang pertama kali menyatakan bagian dari ISIS Indonesia dan berbaiat dengan Abu Bakar Al Baghdadi.

Apa kesulitan menangkap Santoso di Poso?

Kenapa mereka memilih Poso dan Jantho, Jantho itu dipilih karena Pasukan Marsose Belanda saja tidak bisa mengalahkan pejuang saat itu. Alasan kedua karena di sana sudah berdiri dan berlaku syariat Islam, mereka mengharap itu. Ternyata gerakan separatis di sana tidak mau bergabung dengan mereka. Walaupun sebagian dari mereka yang gabung ke sana, tetapi secara langsung GAM menolak itu. Kenapa? karena GAM ini kan pikirannya, internasional. Dia selama ini dibesarkan oleh Internasional, kalau dia masuk kepada sektarian, habis dia. Tidak dapat dukungan.

Banyak yang mengatakan Santoso hanya buatan?

Itu karena kenapa, itu logis kemudian muncul, kenapa masih ada trauma masa lalu, orang menghubungkan jika radikalisme ini di pelihara oleh Badan Intelijen Negara. Kan begitu, yang paling di sudutkan Pak Hendro (Hendropriyono). Jadi sebetulnya ada trauma masa lalu dan ini menurut saya, sudah 14 tahun saya bergelut di dunia terorisme, saya memahami, ini lah yang menjadi masalah utama menangani terorisme. Ada sinisme masyarakat, ini memang ada tujuan politis mempertahankan kekuasaan.

Atau mungkin ini ada propaganda melalui media sosial oleh kelompok radikal?

Iya ada propaganda dari kelompok radikal. Ini bukan hanya saja di kalangan bawah tetapi juga sudah sampai tahap politisi ada, di intelektual ada. Pemahamannya sudah sampai tahap itu, skeptisisme masa lalu.

Santoso itu berasal dari mana?

Yang jelas dia bukan orang asli sana (Poso), tetapi sudah lama di sana. Dulu waktu tahun 2006 di sana, Kapolda yang saat ini paling tahu. Dia dulu adalah pencuri motor dan bahkan perannya sangat kecil. Kapolda cerita sama saya, dulu waktu ditangkap di sana, Santoso itu saya begini-beginiin. ‘Kamu jangan nakal lagi ya’, di situ juga ada bapaknya Santoso. Dia masuk bergabung dengan tentara, Daeng Koro itu, yang tewas itu, ini juga faktor yang kemudian menyebabkan orang curiga. Itu logis. Tetapi dari Polisi juga ada yang memang terpengaruh itu, buktinya di Aceh itu senjata di dukung oleh Sofyan Sauri dan logistik. Jadi ini tidak Polisi, tidak tentara, tidak PNS, semua ada yang kena. Kemudian juga ada dokter dan direktur di Batam, itu juga ada yang kena.

Bagaimana hubungan Santoso dengan ISIS di Syria?

Sebetulnya yang memiliki peran sangat besar adalah Abu Jandal itu. Salim Mubarak Atamimi itu. Kemudian Bahrum Syah, sebetulnya posisi Bahrum Naim itu dia dianggap paling junior oleh Abu Jandal dan Bahrum Syah. Dua ini lah paling berpengaruh di sana. Bahrum Syah bahkan terkenal sekali di Irak, Mosul sana. Dia sudah seperti Imam di sana, dan inilah kemudian mengalir sampai terjadi peristiwa Bom Thamrin itu. Itu ceritanya, mereka itu.

Apakah benar ada perebutan untuk memimpin jaringan teroris di Indonesia?

Kalau itu relatif lah. Bagi saya itu tidak signifikan. Karena apa, secara mendasar mereka ini kan bukan mencari itu, yang mereka cari adalah muncul sebagai pahlawan. Intinya menjadikan negara ini khilafah. Secara mendasar mereka itu ingin mati syahid, bukan mencari pimpinan. Tetapi justru yang cari mati ini tidak mati dan kemudian muncul menjadi pimpinan. Saya tidak terlalu percaya dengan perebutan itu karena tidak signifikan di lingkungan mereka ini.

Hingga saat ini berapa anggota teroris di Poso?

Masih puluhan. Saya tidak tahu percis berapa. Tetapi dengan operasi saat ini sudah menyusut dan terakhir itu melihat situasinya, tentu mereka terbatas ruang geraknya. Mereka sudah dikepung oleh tentara dan Polisi.

Artinya dalam waktu dekat Santoso akan tertangkap?

Iya, saya yakin itu.

Dalam kondisi hidup atau mati?

Dua-duanya, sama peluangnya. *

%d blogger menyukai ini: