Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News, Tekno-Sains Warga Bandung Ciptakan Lampu Berenergi dari Campuran Air dan Garam

Warga Bandung Ciptakan Lampu Berenergi dari Campuran Air dan Garam

Sketsanews.com – Warga asal Bandung, Harboyo Tahar (53) mengembangkan sejumlah lampu berenergi air dan garam, sebagai teknologi reaktor listrik mandiri. Lampu ciptaannya yang dinamai Lentari (lentera air Indonesia) tersebut, ditujukan membantu penerangan masyarakat pelosok secara mandiri, terutama kalangan yang jauh dari jangkauan listrik langganan.

Harboyo Tahar yang didampingi Deva Dirgantara selaku General Manager Pokja Mayapada Energies dan Managing Operation Rendra Chaerudin, memperkenalkan ciptaan inovasinya tersebut ke Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat Jl. Soekarno-Hatta Bandung, Kamis, 24 Maret 2016.

Dua warga Bandung menunjukan lampu ciptaannya dari bahan bakar air dan garam (foto: PR Online)
Dua warga Bandung menunjukan lampu ciptaannya dari bahan bakar air dan garam (foto: PR Online)

Ia menunjukan sejumlah lampu penerangan yang menyala hanya menggunakan campuran air dan garam berdaya 9 watt, yang bisa menerangi secara terang ruangan 3 x 3 meter. Lampu ciptaan Harboyo itu, bisa dikembangkan menjadi lampu penerangan jalan jika ukurannya dan dayanya diperbesar.

Disebutkan Harboyo, lampu ciptaannya itu memiliki kemampuan menyala sekitar 20 jam atau sedikitnya 14 jam setiap kali diisi campuran air dan garam yang tinggal dikocok, bahkan bisa menyala walau hanya diisi air kencing manusia. Jika dibuat sendiri oleh masyarakat, lampu berenergi campuran air dan garam itu biaya produksinya hanya sekitar Rp 65 ribu.

Ia mengatakan, membuat lampu maupun berupaya menyebarkan energi mandiri itu tak bersifat komersil dan murni hanya berkeinginan membantu penerangan masyarakat. Ia berharap Pemprov Jawa Barat dapat merespon dan membantu mengembangkan jumlah produksi lampu ciptaannya itu, lalu diperkenalkan atau disalurkan kepada masyarakat luas, terutama di kawasan pelosok yang jauh dari jaringan listrik.

Soal ide membuat lampu benergi air dan garam itu, katanya, berawal dari keprihatinannya saat sedang makan pada sebuah warung di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, yang kemudian listriknya diputus pihak PLN karena tak mampu bayar.

Harboyo mengingat, saat pemutusan listrik itu, salah seorang anak perempuan pemilik warung itu, dengan sedih berkata, “lampunya tak nyala, nanti malam tak lagi dapat mengaji seperti biasanya,“.

Disebutkan, sekitar 100 lampu Lentari ciptaannya itu sudah disalurkan dan digunakan Pondok Pesantren “Fajar Dunia“ Jakarta serta 23 buah ke Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. “Semoga lampu Lentari ciptaan saya itu dapat diperhatikan Pemprov Jawa Barat, kalau tidak terpaksa akan mencari investor,“ ujarnya, dikutip dari Okezone, Jum’at (25/3/2016). (An)

%d blogger menyukai ini: