Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Ketika Al Fatihah Melantun 7 Kali untuk GKI Yasmin

Ketika Al Fatihah Melantun 7 Kali untuk GKI Yasmin

“Itu di tradisi NU mengirim Al Fatihah tujuh kali, agar Pak Kapolri, Menkopolhukam, Pak Presiden dan Pejabat yang berwenang punya keberanian menegakkan keadilan dan kebenaran”

 

GKI YASMIN. Jemaat GKI Yasmin Bogor beribadah untuk ke 100 kalinya di depan Istana Negara, 27 September. Foto oleh Camelia Pasandaran/Rappler
GKI YASMIN. Jemaat GKI Yasmin Bogor beribadah untuk ke 100 kalinya di depan Istana Negara, 27 September. Foto oleh Camelia Pasandaran/Rappler

Sketsanews.com – Buat jemaat GKI Yasmin, berdoa tak henti-henti agar gereja dibuka segelnya adalah sesuatu yang biasa. Yang tidak biasa adalah ketika seorang tokoh agama Islam, memimpin pembacaan Al Fatihah tujuh kali agar pemerintah mau membuka segel gereja tersebut.

“Saya minta kepada teman-teman muslim, baik muslim administratif maupun simbolik, untuk membacakan Al Fatihah tujuh kali,” kata Aan Anshori, Ketua Jaringan Islam Anti Diskriminasi.

“Itu di tradisi NU mengirim Al Fatihah tujuh kali, agar Pak Kapolri, Menkopolhukam, Pak Presiden dan Pejabat yang berwenang punya keberanian menegakkan keadilan dan kebenaran.”

Lalu melantunlah Al Fatihah dari pengeras suara dan para muslim yang menghadiri ibadah Minggu GKI Yasmin ke 100 kali di seberang istana.

JIAD. Ketua Jaringan Islam Anti Diskriminasi Aan Anshori mempertanyakan Presiden Jokowi yang tidak bersikap tegas dalam kasus GKI Yasmin. Foto oleh Camelia Pasandaran/Rappler
JIAD. Ketua Jaringan Islam Anti Diskriminasi Aan Anshori mempertanyakan Presiden Jokowi yang tidak bersikap tegas dalam kasus GKI Yasmin. Foto oleh Camelia Pasandaran/Rappler

Perjuangan GKI Yasmin memang bukan milik mereka sendiri. Di tengah intoleransi yang terus menguat, beberapa kelompok minoritas menggandengkan tangan untuk bersama melawan penindasan.

Mereka menyerukan pemerintah untuk membuka segel gereja yang sudah empat tahun terpasang. Gereja ini sudah mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) namun kemudian dibatalkan oleh mantan Wali Kota Bogor Diani Budiarto. Belakangan, Mahkamah Agung memenangkan GKI Yasmin, namun Pemerintah Kota Bogor menolak membuka segel.

Tiap minggu mereka beribadah di rumah-rumah jemaat bergantian. Tiap dua minggu sekali, ibadah dilakukan di seberang istana. Di ibadah yang ke-100 ini, jemaat GKI Yasmin mengundang Presiden Joko “Jokowi” Widodo. Mereka menyediakan kursi berwarna merah, dan di atasnya diletakkan papan nama dari kertas “Presiden RI.”

Jokowi tidak datang. Namun kritik untuk dia dari berbagai pihak terus mengalir karena membiarkan penyegelan rumah ibadah secara ilegal selama bertahun-tahun.

“Saya sengaja tidak membuka poster ini karena saya ingin mengimbau Presiden Jokowi,” kata Lily Wahid, mantan anggota DPR yang adalah adik kandung mantan Presiden Abdurrahman Wahid.

“Saya berharap dengan kita berkumpul hari ini Allah membuka hati Presiden Jokowi dan jajaran yang berkepentingan dengan kita, maksud saya Menteri Kehakiman untuk membuka segel gereja. Segel menunjukkan kita belum berdaulat terhadap diri sendiri.”

MEMBELA YASMIN. Lily Wahid, adik kandung mantan Presiden Abdurrahman "Gus Dur" Wahid mengharapkan Presiden Jokowi membuka segel GKI Yasmin. Foto oleh Camelia Pasandaran/Rappler
MEMBELA YASMIN. Lily Wahid, adik kandung mantan Presiden Abdurrahman “Gus Dur” Wahid mengharapkan Presiden Jokowi membuka segel GKI Yasmin. Foto oleh Camelia Pasandaran/Rappler

“Kita bertahun-tahun menyaksikan bahwa penegakan hukum di negeri kita ini masih sangat lemah, karena justru panglima dan pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab justru melanggar hukum itu,” kata Nursyahbani.

Mariana Amirudin dari Komnas Perempuan juga mengkritisi pemerintah karena penyegelan ini dianggap menghalangi kebebasan beribadah.

“Saya pun sampai sekarang masih sulit memahami kenapa hal simple mencabut segel sangat susah. Bagaimana negara bisa mengatakan kami negara beragama, kalau tidak ada rumah ibadah?”

KOMNAS PEREMPUAN. Mariana Amirudin, anggota Komnas Perempuan mengatakan penyegelan gereja menghambat aktivitas beribadah. Foto oleh Camelia Pasandaran/Rappler
KOMNAS PEREMPUAN. Mariana Amirudin, anggota Komnas Perempuan mengatakan penyegelan gereja menghambat aktivitas beribadah. Foto oleh Camelia Pasandaran/Rappler

Aan memberikan jawabannya. Menurut dia Indonesia berada di dalam situasi psikologis yang menderita semacam inferiority complex ketika berhadapan dengan kelompok intoleran.

“Saya jalan kaki dari Gambir ke sini, saya selalu melihat ke sana (istana) dan berharap Jokowi dengan malu-malu ke jendela dan berkata ‘Ada apa kok ramai-ramai, dan kemudian terketuk dan ke sini untuk mengatakan apa masalah kalian?’” kata Aan.

“Jokowi dipilih rakyat agar mampu melaksanakan konstitusi. Muslim sejati itu mengatakan yang benar adalah benar, yang salah adalah salah. Pemimpin yang baik harus sensitif, tidak perlu sampai diprotes berkali-kali.”

Sumber : Rappler

%d blogger menyukai ini: