Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News NTB Menjadi Zona Merah Penyebaran Faham Radikalisme

NTB Menjadi Zona Merah Penyebaran Faham Radikalisme

Sketsanews.com – “Ya..memang sudah kita buktikan bahwa tersangka-tersangka yang ada di Poso, sebagian berasal dari Bima, maka beliau (Pak Tito Red), mempunyai atensi khusus di Bima, bagaimana upaya-upaya yang selama ini represif, kita lebih cenderung melakukan pencegahan,” ucap Kapolda NTB Umar Septono.

#DamaiDariNTB Foto via Damailah Indonesiaku ‏@DamailahRI

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI menetapkan Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) masuk ‘zona merah’ dalam penyebaran paham radikalisme. Kabupaten Bima, salah satunya mendapat atensi khusus pengawasan BNPT RI, lantaran sekian banyak para pelaku teror yang di tangkap di Poso sebagian berasal dari Bima.

Predikat Zona merah penyebaran paham radikal di Nusa Tenggara Barat itu disampaikan Kepala BNPT RI Inspektur Jenderal Polisi M Tito Karnavian dalam Kunjungan Kerja ke-Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (29/3/2016).

Menyikapi perkembangan pengaruh Paham Radikalisme dan Terorisme, BNPT dalam hal ini selain upaya penegakan hukum pengungkapan dan penangkapan para pelaku, juga melakukan pendekatan persuasif bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten setempat dan Kementerian lainnya mencoba mencari akar permasalahan.

“Meskipun operasi penegakan hukum masih terus berlangsung sampai dengan hari ini, namun masalah ideologi, ekonomi dan lain sebagainya, kita akan dorong terus, supaya penyelesainya lebih komprehensif, tidak hanya menangkap pelaku saja,” tegas Irjen Pol. Tito Karnavian.

Sementara itu, Kapolda Nusa Tenggara Barat, Brigadir Jenderal Polisi, Drs. Umar Septono, kepada RRI, Kamis (30/3/2016) membenarkan apa yang disampaikan Kepala BNPT RI, Irjen Pol. Tito Karnavian, cukup banyak terbukti dari sekian pelaku teror yang di tangkap di Poso, sebagian diantaranya berasal dari Kabupaten Bima.

Berdasarkan Catatan pihak Kepolisian, dua orang teroris asal Bima yang ditembak mati oleh Densus 88 Anti Teror, yaitu Fajarudin, alias Fajar alias Faris dalam baku tembak dengan Anggota Densus 88 Anti Teror Mabes Polri di Penatoi Kota Bima, Senen, 15 Pebruari lalu, dan beberapa orang diantaranya diduga dari kelompok mereka menjalani pemeriksaan di Mabes Polri. Beberapa hari lalu, salah seorang pelaku teror benama Ishaka yang di tembak mati dalam operasi Tinombala di Poso, adalah merupakan satu jaringan Kelompok Santoso di Poso ternyata berasal dari Bima.

Kelompok yang berada di Bima, merupakan satu gerakan yang terkoneksi dalam satu jaringan melalui media sosial baik kelompok yang ada di Jawa maupun di Poso.

“Ya..memang sudah kita buktikan bahwa tersangka-tersangka yang ada di Poso, sebagian berasal dari Bima, maka beliau (Pak Tito Red), mempunyai atensi khusus di Bima, bagaimana upaya-upaya yang selama ini represif, kita lebih cenderung melakukan pencegahan,” ucap Kapolda NTB Umar Septono.

Dijelaskannya, upaya-upaya pencegahan akan dilakukan secara terpadu antara tingkat pusat dan daerah secara bersama-sama, sehingga dari akar-akarnya Faham Radikalisme dan Terorisme hilang tidak ada lagi berkembang di tengah masyarakat.

Penyelesaian dengan kekerasan, tidak akan menyelesaikan masalah, kalau akar permasalahannya tidak ditemukan dan di selesaikan.

BNPT bersama Pemda dan Keenterian terkait, akan berusaha memberikan pengertian dan pemahaman terhadap warga yang terlanjur masuk dalam kelompok paham radikalisme dan terorisme, akan diupayakan secara khusus untuk mengembalikan keyakinan mereka, agar bisa netral dengan menjauhi kegiatan radikalisme yang sangat berbahaya bagi kemanusiaan, dan perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (ZA/DS/RRI)

 

(in)

%d blogger menyukai ini: