Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Suratmi Menuntut Keadilan dari Densus 88

Suratmi Menuntut Keadilan dari Densus 88

Sketsanews.com – Suratmi, istri terduga teroris Siyono yang meninggal dunia beberapa waktu yang lalu mendatangi kantor pusat PP Muhammadiyah di Jalan Cik Di Tiro, Yogyakarta. Secara langsung, Suratmi meminta bantuan untuk menyingkap ketidakadilan yang menimpa suaminya. Sekaligus meminta untuk menjadi kuasa hukum mengungkap peristiwa apa yang terjadi terkait kematian suaminya, Siyono.

Suratmi, istri terduga teroris Siyono
Suratmi, istri terduga teroris Siyono

Peristiwa ini mengingatkan kita kepada istri almarhum Munir, Suciwati, yang dengan lantang menuntut keadilan atas suaminya yang meninggal karena diracun. Mungkin perbandingan yang tidak seimbang, membandingkan kasus Munir yang berskala internasional dengan kasus yang hanya “masih terduga teroris”. Tapi keduanya memiliki satu kesamaan, yaitu meninggal dunia karena perlakuan pihak tertentu. Lebih tepatnya meninggal karena “konspirasi” dengan kepentingan tertentu.

Istri Munir, Suciwati
Istri Munir, Suciwati

Selain meminta menjadi penasehat hukum, Suratmi juga menyerahkan dua gepok uang yang terbungkus rapi, yang diberikan oleh pihak tertentu dengan syarat agar Suratmi mengikhlaskan suaminya dan tidak menuntut secara hukum.

Walaupun Kapolri sudah memberikan penjelasan, bahwa uang tersebut merupakan bentuk tali kasih atas meninggalnya Siyono, bukan uang sogokan. “Itu uang kemanusiaan, sah-sah saja. Bukan uang sogokan, itu kemanusiaan. Kalau tidak mau terima ya gak papa,”ucap Badrodin Haiti saat dihubungi wartawan, Selasa (29/3/2016).

Bagaimanapun dengan adanya uang dua gepok, logika publik tidak bisa menerima, dikarenakan :

1. Pihak pemberi uang adalah pihak yang diduga menghilangkan nyawa suaminya, Siyono.
2. Ada konsekuensi tertentu dari pemberian uang tersebut, yaitu agar mengikhlaskan suaminya dan tidak menuntut secara hukum.

Adanya dua alasan diatas, dua gepok uang yang diberikan Suratmi, lebih tepat disebut sebagai uang sogokan.

Dua gepok uang dihadapan Suratmi
Dua gepok uang dihadapan Suratmi

Dari sisi korban, uang yang diberikan bisa dianggap sebagai sebuah tindakan yang merendahkan, karena nyawa seorang suami, sekaligus kepala keluarga, “hanya” dihargai dengan dua gepok uang, itupun dengan syarat. Dua gepok uang tidak akan bisa, sangat tidak bisa menggantikan kehadiran sosok kepala keluarga. Bahkan dengan harta berkali-lipat dari yang diberikan.

Ada baiknya pihak aparat, baik Jenderal Badrodin Haiti ataupun Irjen Anton Charliyan, dua perwira tinggi yang sering berkomentar dalam masalah ini, agar berhati-hati. Publik bisa menilai, siapa yang tidak konsisten, berusaha menutupi fakta dan tidak sesuai dalam berkomentar.

Berikan data, bukan analisa, yang terkesan kalut dan ngawur dalam menghadapi tekanan publik. Serta jangan menggunakan kekuatan untuk meneror, dengan menghilangkan barang bukti, akibatnya fatal.

Ada baiknya kita perhatikan kata-kata Irjen Pol Tito Karnavian (Kepala BNPT), jangan khianati publik. “Yang paling utama saya kira masalah sikap mental, jangan sampai ada anggota yang melakukan pelanggaran, kemudian harus berubah, memberikan image yang positif kepada publik,” ujar Tito kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (21/3/2016).

Irjen Pol Tito Karnavian
Irjen Pol Tito Karnavian

“Kemudian yang berikutnya jangan sampai anggota mengkhianati publik, karena satu saja anggota berbuat negatif seolah-olah mewakili 34 ribu semua buruk, padahal tidak. Namanya 34 ribu ada saja memang yang mungkin nyeleneh,” ucapnya. **

%d blogger menyukai ini: