Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News Adakah Manfaat Go-Jek?

Adakah Manfaat Go-Jek?

gojek

Sketsanews.com – Berbagai moda transportasi berbasis aplikasi terus menjamur di Indonesia dan semakin diminati masyarakat, terutama di kota-kota besar. Persaingan berebut pasar transportasi berbasis aplikasi pun mulai terasa di bisnis yang mengandalkan kemudahan dan kepraktisan ini.

Calon penumpang tak perlu bersusah payah keluar rumah untuk mendapatkan jasa transportasi ini. Sambil tiduran pun, mereka bisa memesan jenis transportasi online sesuai dengan kemauannya-motor ataupun mobil. Dari segi biaya pun, tergolong murah bila dibanding moda transportasi yang sudah ada.

Namun dibalik kepraktisan dan kemudahannya, ternyata menimbulkan masalah baru. Banyak pihak merasa, dengan kehadiran moda transportasi berbasis aplikasi ini, semakin menyudutkan keberadaan moda transportasi konvensional. Namun tidak sedikit pula yang mendukung kehadiran moda transportasi berbasis aplikasi ini.

M Ridwan kamil (anggota Advokat Peduli Teknologi Informasi/APTI) usai mendaftarkan permohonan uji materi Pasal 138 UU Lalu Lintas dan Angkutan Umum di gedung MK, Jakarta selasa(29/03/2016) mengatakan “kalau mengikuti UU, tidak ada pembatasan pelat hitam dan plat kuning apalagi legal dan ilegal. Penafsiran yang dilakukan pemerintah sangat merugikan dirinya sebagai pengguna angkutan umum. Atas dasar legalitas, dirinya dipaksa untuk menggunakan angkutan umum yang tarifnya mahal”.

Berbeda dengan Plt Dirjen Perhubungan Darat Sugihardjo meminta transportasi online seperti Grab Car dan Uber Taxi untuk mengurus perizinan ke Kementerian Perhubungan. Menurutnya, Grab dan Uber belum mempunyai izin sebagai angkutan umum.

“Negara ini berdasarkan hukum, maka harus tunduk perundang-undangan. Posisi sekarang, Grab dan Uber belum ada izin angkutan, juga belum kerja sama mereka yang punya izin. Kerja sama sama operator yang punya izin resmi,” kata Sugihardjo usai rapat di Kemenko Polhukam, Jakarta Rabu (23/03/2016).

Analisa

Saat ini, setidaknya ada 10 layanan ojek online yang beroperasi di Indonesia. Diantaranya:

  1. Go-Jek, didirikan sejak 2010 di Jakarta. Menawarkan layanan ojek, kirim makanan, dan atau kurir dengan tarif berbasis kilometer dengan harga yang terjangkau.
  2. GrabBike, merupakan layanan ojek online dari GrabTaxi(Malaysia), diluncurkan di Jakarta pada Mei 2015, menggunakan pola yang sama seperti Go-Jek.
  3. GrabTaxi, asal Malaysia, masuk ke Indonesia Juni 2014, menggandeng mitra sopir dan perusahaan taksi yang sudah ada di jakarta dan sekitarnya, telah hadir di 6 Negara Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Indonesia dan Filipina.
  4. Uber, berdiri sejak 2009 di San Francisco(AS), telah hadir di ratusan kota pada 59 negara di dunia.
  5. BajajApp, hadir karena inisiasi Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta, konsep sama dengan transportasi online lainnya.
  6. Transjek, dibangun oleh Riyandri Tjahyadi dan Nusa Ramadhan,hadir sejak september 2012, tarif Rp 4000/kilometer pertama dan Rp 3000 perkilometer selanjutnya.
  7. Wheel line, didirikan oleh Chris Wibawa, tarif sesuai zona wilayah, zona 1 (3 km dari kantor pusat Jakarta Barat), zona 2 (3 km selanjutnya) begitu seterusnya.
  8. Bangjek, didirikan oleh Andri Harsil, tarif RP 4000 kilometer pertama dengan tarif Rp 3,4 untuk permeter selanjutnya.
  9. Ojek Syar’i, didirikan oleh 2 mahasiswa asal Surabaya Evilita Adriani dan Reza Zamir, pengemudinya wanita dan konsumennya khusus wanita muslim.
  10. Blue-Jek, didirikan oleh Michael Manuhutu dan Garret Kartono di Jakarta pada 17 September 2015, tersedia 4 layanan yakni Blue Rider, Blue Pick, Blue Shop dan Blue Menu.

Masyarakat memilih transportasi online karena faktor keamanan. Namun di sisi lain, pelaku transportasi online harus tetap mengikuti aturan pemerintah, seperti membayar pajak, izin kelayakan transportasi atau kir maupun trayek. Selain itu, pengemudi harus memiliki SIM A atau SIM B umum sesuai dengan jenis kendaraan yang dikemudikan .Sebab bila tidak ada aturan umum untuk transportasi online dan konvensional, masalah tidak akan pernah selesai. Harus dalam satu aturan umum. Baik aturan dari kelayakan jalan ataupun asuransi.

Dalam acara pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (DPP APPSI) di Gelanggang Olahraga Senen, Jakarta Pusat pada hari selasa (23/03/2016), Prabowo Subianto menyampaikan tanggapannya terkait kisruh angkutan transportasi berbasis aplikasi, yakni:

“Bangsa Indonesia jangan anti teknologi, tapi jangan dengan kedok modernisasi, kepentingan rakyat banyak dilindas, dimarginalkan, dianggap tidak perlu digubris/ tidak perlu dilindungi. Menurut saya, ini adalah penghianatan kepada rakyat”.

“Kalau selalu mengatakan ini modernisasi, ini teknologi, kita harus ikut arus globalisasi, kita harus bersaing bebas, sama saja kita tidak menghendaki seorang pemimpin. Justru kita perlu pemimpin yang baik, kita menghadapi arus modernisasi tapi dengan selalu menjaga, melindungi, dan mengayomi rakyat yang paling lemah”.

Konflik transportasi memunculkan tarik-menarik kepentingan tiga aktor, yakni penguasa, pengusaha, dan masyarakat. Penguasa sebagai pihak yang memiliki peran paling vital tidak bisa membiarkan terjadi baku hantam dan baku kata di berbagai media antara pengusaha dengan masyarakat serta antara masyarakat dengan masyarakat lainnya. (Dr)

%d blogger menyukai ini: