Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News Pelanggaran Densus 88 Terhadap Siyono

Pelanggaran Densus 88 Terhadap Siyono

Sketsanews.com – Secara kasat mata, kematian Siyono memang meninggalkan kejanggalan yang nyata bagi siapapun. Betapa tidak, seusai mengimami sholat ia ditangkap oleh densus 88, tiga hari kemudian pulang sudah menjadi mayat. Hinga kinipun misteri kematian  ini belum terungkap dan masih terus manjadi perbincangan publik. Bahkan Muhammadiyah dan Komnas HAM ikut turun tangan untuk membantu.

Jenazah Siyono
Jenazah Siyono

Memang Sudah sepantasnyalah bagi siapa saja yang memiliki hati nurani menaruh rasa iba atas peristiwa ini, banyak dari ormas yang ikut membela serta memberikan dukungan langsung kepada istri Siyono, Suratmi, begitu juga dengan Nahdlatul Ulama (NU). Meskipun tidak ada kata pembelaan dari NU untuk Siyono, Rais Aam NU, Ma’ruf Amin hanya mengatakan, NU akan mengikuti proses penyelidikan kasus kematian Siyono.

Ma’ruf mengatakan, mengikuti proses yang dimaksudnya yakni untuk mengetahui bagaimana ahhir cerita meninggalnya Siyono. “Itu akan mengikuti proses bagaimana akhir dari fakta-fakta yang apa adanya, yang akan dibuktikan,” katanya.

Pihak MUI pun tak tinggal diam ketika mengetahui kejadian ini. Pihaknya mengatakan bahwa jenazah Siyono wajib untuk di autopsi ketika sebagian kalangan melarang hal ini. Bahkan Kepala Desa Pogung, Joko Widoyo yang seharusnya melindungi dan mengayomi rakyatnya juga ikut melarang proses autopsi. Dengan adanya penolakan proses autopsi ini maka semakin menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa proses autopsi dilarang? Padahal itu permintaan keluarga, dan itu hak keluarga. Perspektif HAM-nya siapapun warga negara yang keluarganya meninggal, maka keluarga punya hak mengetahui sebab kenapa meninggal,” ucap komisioner Komnas HAM, Manager Nasution.

Manager heran jika ada pihak yang melarang atau menghalang-halangi rencana autopsi jenazah Siyono. Untuk diketahui, Siyono masih sebagai terduga dan belum terbukti terlibat terorisme. Dia lalu ditangkap dan ketika dalam penyelidikan kasus, dia meninggal.

Walau pun sebagian kalangan melarang untuk dilakukannya proses autopsi, tetapi PP Muhammadiyah  cepat atau lambat akan tetap melakukan proses autopsi. Suratmi menyampaikan kepada Muhammadiyah agar jenazah Siyono dilakukan autopsi. “Organisasi keagamaan ini menyambut baik, karena sudah secara ikhlas akan mendampingi secara penuh dan tuntas pencarian keadilan Suratmi,” ucap ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak.

“Yang melakukan autopsi  adalah dokter-dokter Muhammadiyah. Jadi Muhammadiyah sudah menunjuk sekitar 6 dokter ahli forensik dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan rumah sakit Muhammadiyah yang berada di Jateng dan Yogyakarta untuk melakukan autopsi,” paparnya.

Tambahnya, Manager menjelaskan kalau pihak Muhammadiyah melakukan semau itu tidak lain hanyalah untuk membersihkan nama Negara dan Organ Negara (dalam hal ini : Densus 88), tetapi  kalau hasilnya karena penganiayaan oleh oknum negara Densus 88, maka semakin jelas Komnas HAM akan beri rekomendasi untuk penyelesaian kasus.

“KontraS yang menurunkan tim investigasi, ketika melihat kasus kematian Siyono memang banyak sekali pelanggaran HAM terjadi,” ucap aktivis KontraS Putri Kanesia dalam jumpa pers ‘Mencari Keadilan untuk Suratmi’ bersama Komnas HAM, LBH dan pemerhati HAM lainnya di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakpus, Jumat (1/4/2016).

Pelanggaran pertama, yang terjadi yakni tidak adanya  surat penangkapan atau penggeledahan yang diberikan kepada keluarga. Padahal itu prosedur wajib. “Ada sepeda motor disita dan beberapa majalah, keluarga tidak mendapat surat dari pihak kepolisian. Ini penting disoroti karena itu hal yang fundamental,” ujarnya.

Pelanggaran kedua, saat Siyono ditangkap, keluarga tidak diberi tahu akan dibawa ke mana dan terkait masalah apa. Tiba-tiba empat hari kemudian atau Sabtu (12/3), Siyono dikembalikan ke rumah dalam keadaan meninggal. “Keluarga hanya diberi tahu almarhum sudah meninggal. Jadi tidak ada informasi yang jelas terkait penangkapan dan kematian Siyono saat itu,” lanjutnya.

Setelah kasus ini menjadi pemberitaan utama di media, saat itu jugalah polisi menjelaskan Siyono tewas karena diduga berkelahi dengan Densus 88 di dalam mobil dalam proses pengembangan kasus. Versi polisi, Siyono melakukan perlawanan saat dibawa Densus.

Kondisi jenazah Siyono
Kondisi jenazah Siyono

Pelanggaran ketiga, yaitu soal kondisi jenazah Siyono yang penuh luka saat diterima oleh keluarga saat meninggal. Istri Siyono, saat itu Suratmi menceritakan kepada KontraS soal kondisi fisik jenazah suaminya itu. Keluarga melihat luka di pipi, mata kanan lebam, tulang hidung patah, paha sampai betis membengkak dan memar, ada kukur jari yang patah, dan keluar darah dari belakang kepala. Ini hasil keluarga melihat jenazah Siyono.

Pelanggaran lainnya, tidak ada rekam medis atau hasil visum baik dari rumah sakit atau kepolisian atas kondisi jenazah Siyono. Padahal, Siyono sama sekali tidak pernah dikenakan status hukum bersalah sebagai pelaku terorisme.

Ini semua perlu ditindaklanjuti apa yang jadi penyebab almarhum Siyono, karena baru terduga teroris. Dalam hal ini, tiap warga negara Indonesia berlaku asas praduga tak bersalah. Belum ada proses hukum dan pengadilan belum putuskan, tapi diperlakukan sangat buruk,” kritik Putri.

Dengan adanya kejanggalan-kejangalan serta ketidakadilan ini, maka memang sudah seharusnya bagi Suratmi untuk meminta haknya atas keadilan sebagai warga Negara yaitu mengetahui penyebab kematian suaminya yaitu dengan langkah autopsi jenazah Siyono.

Suratmi, istri terduga teroris Siyono
Suratmi, istri terduga teroris Siyono

Walaupun Suratmi  harus menanggung beban yang sangat berat berupa pengusiran, ia tetap akan meminta keadilan dari negeri ini dengan mengatakan, “Bumi Alloh ini luas”.

Ternyata dari jawaban inilah yang membuat banyak orang tersentuh. Serta jawaban inilah yang membuat pengurus Muhammadiyah Klaten siap mencarikan dan membuatkan rumah untuk beliau sekeluarga dan akan menanggung seluruh beban ekonomi yang ditanggung oleh keluarga. (Vi)

%d blogger menyukai ini: