Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News, Opini Mendikbud : Tidak Ada Target Sekolah Harus Ujian Pakai Komputer

Mendikbud : Tidak Ada Target Sekolah Harus Ujian Pakai Komputer

Sketsanews.com – Tahun ini, sekolah penyelenggara Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) bertambah dibandingkan dengan tahun lalu. Meski demikian, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menegaskan, pemerintah daerah jangan memaksakan semua sekolah harus melaksanakan UNBK karena tidak semua sekolah memiliki fasilitas komputer. Tujuannya belajar memanfaatkan komputer. “Jadi, yang dituju 100 persen itu jangan hanya UNBK, tapi diharapkan 100 persen komputer itu bisa dipakai untuk belajar,” kata Mendikbud Anies Baswedan.

index

Anies mengatakan, pemerintah tidak memiliki target semua sekolah harus melaksanakan UNBK, karena ujian bisa dilaksanakan dengan cara berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT). Dengan begitu, pemerintah daerah tidak perlu membeli komputer untuk pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Anies juga menambahkan, sekolah yang belum memiliki komputer tidak perlu memaksakan diri mengikuti UN dengan sistem UNBK. Apalagi jika sampai harus membebani orang tua murid mengadakan iuran untuk membeli komputer di sekolah anak-anaknya.

“Kita tidak ingin ada orang tua harus iuran, kita tidak ingin masyarakat dibebani hanya karena ingin ujiannya pakai komputer. Karena yang butuh pakai kompuer itu belajarnya, bukan ujiannya. Jadi tidak ada target harus dan kapan seratus persen UNBK,” kata Anies menegasakan.

UN secara online memiliki banyak kelebihan. Diantaranya adalah menghilangkan keperluan kertas dalam setiap penyelenggaraan UN. Lebih dari itu, anak bisa lebih cepat mengetahui hasil ujiannya. Tetapi cara ini juga memberikan tantangan bagi para guru untuk berperilaku jujur, tidak mencoba curang dengan memberi bantuan kepada muridnya.

Anis Baswedan
Anis Baswedan

Penyelenggaraan UNBK pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Hasil penyelenggaraan UNBK pada kedua sekolah tersebut cukup menggembirakan, dan semakin mendorong untuk meningkatkan literasi siswa terhadap TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Selanjutnya secara bertahap pada tahun 2015 dilaksanakan rintisan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 555 sekolah yang terdiri dari 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 378 SMK di 29 Provinsi dan Luar Negeri.

Saat ini penyelenggaraan UNBK menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah), kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online (upload).

Kemendikbud sendiri telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengamankan pelaksanaan UNBK, antara lain dengan PLN Pusat, Kementerian Komunikasi dan Informasi, dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). “Untuk kelancaran pelaksanaan UNBK, saya menghimbau semua pemerintah daerah yang menyelenggarakan UNBK melakukan koordinasi dengan PLN di daerahnya masing-masing untuk memastikan tidak terjadinya pemadaman listrik saat UNBK berlangsung,” ujarnya, Sabtu (2/04/2016).

“Meski ada antisipasi bila listrik padam, saya tetap berharap saat UN itu tidak ada masalah dengan listrik lagi. Jangan sampai kejadian tahun lalu, di mana ada daerah yang listriknya padam saat UN berlangsung terjadi lagi di UNBK 2016,” tandasnya. (Vi)

%d blogger menyukai ini: