Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News, Opini Bayangkan, Jika Yatim Itu Anak-anak Anggota Densus 88…

Bayangkan, Jika Yatim Itu Anak-anak Anggota Densus 88…

Sketsanews.com – Kalau koruptor ditembak mati sebelum diadili, barangkali negeri ini aman sejahtera. Sayang, itu cuma utopis. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi di negeri yang hukum bisa dibeli.

Densus88

Sila tanya napi atau mantan napi mekanisme kehidupan penjara. Bagaimana, uang menjadi tuhan di sana. Peredaran narkoba di penjara, asyiknya mereka bisa nyabu di bui. Bagaimana kemirisan moral penegakan hukum dipertontonkan setiap harinya.

Lalu, sila tanya keluarga korban ihwal kebiadaban Densus menangani mangsanya. Penanganan koruptor, akhlak aparat hukum di kehidupan penjara, dan penanganan teroris oleh Densus: menjadi potret kelam penegakan hukum di negeri ini.

Hari-hari belakangan, kita kembali digegerkan kekejian berdarah. Dari pelbagai sumber, sedikitnya ada 121 korban kebiadaban yang tewas di tangan Densus. Entah berapa anak-anak yang menjadi yatim. Entah bagaimana nasib janda dari para korban.

Hak asasi manusia hanyalah sebuah interpretasi yang diartikan sesuai kepentingan. Bahkan, buku Islam dan Al Quran pernah dijadikan barang bukti kejahatan teroris. Masya Allah. Betapa sakitnya hati umat Muslim. Betapa sabarnya umat ini.

Sampai kini, publik dikelabui standar ganda makna teroris. Seolah teroris hanya pantas disematkan bagi pemeluk agama Islam. Sebagai contoh, pelaku peledakan bom Alam Sutra yang pelakunya non pribumi dan non Islam, tidak disebut teroris.

Pelaku pembarakan masjid Tolikara yang non Muslim, tak dicap teroris. Pelaku penembakan warga sipil dan aparat di Papua, mereka yang non Muslim hanya disebut sparatis. Padahal ingin memisahkan diri dari Indonesia. Padahal sudah belasan sam[ai puluhan anggota TNI yang meregang nyawa di tangan mereka. Tapi pemerintah malah menawarkan damai dengan kelompok sparatis Papua. Ini dagelan apa?

Sedang Muslim yang baru diduga, dicurigai, belum terbukti, belum ada persidangan, sudah harus disematkan stempel teroris dan harus dibunuh. Kalau perlu dibantai secara keji, tak peduli di depan anak dan istri. Apakah mereka bukan warga Indonesia.

Bahkan, tega membuat anak-anak TK Roudlatul Athfal Amanah Ummah di  Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten ketakutan ketika menggerebek Siyono di depan mereka. Betapa kejinya merusak jiwa anak-anak tak berdosa. Apa salah mereka?

Densus juga pernah menembak korban yang sedang shalat. Korban bernama Nurdin didor ketika shalat Ashar di rumah orang tuanya di Dompu, Sabtu (20/9/2014). Terjangan timah panas menembus kepala dan lehernya. Siyono, korban terbaru dibunuh dengan keji. Ini aparat atau teroris? Kenapa biadab sekali?

Berkali-kali desakan pembubaran Densus diteriakan. Tetapi tenggelam lagi di lautan isu kegaduhan. Siapa di belakang Densus? Apa betul Islam jadi barang dagangan kekejian? Kasus Siyono bukan yang pertama. Mari menengok ke belakang.

“Disitulah Jibril ditelanjangi karena dituduh sodomi. Jadi umat Islam selalu dijadikan konsumsi dan komoditi mahal. Sesungguhnya biang kerok isu terorisme di Indonesia adalah Gories Mere sedangkan Presidennya SBY…” demikian kutipan wawancara Suara Islam dengan Wakil Amir Majelis Mujahidin Ustadz Abu Jibril, Oktober 2010, bertajuk: Anak Saya Disksa di Depan Gories Mere.

Rakyat Merdeka Online, edisi 29 September 2010, menurunkan berita berjudul: Densus 88 Disawer Amerika Jutaan Dolar. Ini kutipan beritanya: “Saya punya data daftar bantuan yang diberi Amerika tahun 2007 untuk program anti terorisme di Indonesia senilai 7,7 juta dolar AS. Data ini dikeluarkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat,” kata Munarman seraya menunjukkan dokumen berisi detail aliran dana bantuan asing yang masuk ke brankas Densus.

Munarman memaparkan, di awal pembentukan Densus 88 pada 2002, negeri Paman Sam menyumbang 50 juta dolar AS. Data itu dikutip dari pengumuman yang dilaunch Menlu AS saat itu, Collin Powell.

September 2010, Komisi III DPR RI pernah mempertanyakan sumber anggaran Densus yang selalu dirahasiakan. Penjelasan pagu anggaran menjadi sorotan.

Kawat diplomatik yang dibocorkan Wikileak, Oktober 2011, Densus 88 membagi uang yang bersumber dari Amerika. Lebih mengerikan lagi pemaparan Munarman tentang sumber dana Densus yang disebutnya dari asing dan peredaran narkoba. Lihat Arrahmah, 12 Oktober 2011, Dana proyek antiterorisme Densus 88 bersumber dari AS dan penjualan narkoba.

Jika data itu betul, sama saja dengan teroris teriak maling. Sayang, audit independen Densus tak pernah dilakukan. Betapa kuatnya mereka. Betapa teganya mengorbankan anak bangsanya sendiri. Para pengamat menyebut kekejian Densus sudah masuk taraf kejahatan tingkat tinggi.

Hati pasti menjerit bila menelisik pengakuan dan pemberitaan dari keluarga korban. Komnas HAM, KPAI, MUI, Muhammadiyah, pengamat, dan pelbagai elemen bersuara kencang terhadap tindakan keji itu. Namun, semua dianggap angin lalu.

Tahun 2013, desakan pembubaran Densus menggema dari pelbagai daerah. Tahun 2015, gema pembubaran bersua lagi. Bahkan, datang pula dari MUI dan ormas Islam terbesar. Baru-baru ini, gema bergemuruh lagi di seluruh pelosok penjuru Nusantara.

Saat orasi pembubaran Densus yang dihelat (15/3/2016), Ketua Laskar Umat Islam Surakarta Edy, mengungkap sejak 2005 Densus 88 dapat kucuran dana dari Amerika sebesar Rp 18 triliun. Laporan itu diperolehnya dari mantan Kapolri Da’i Bachtiar. Dana itu masih digelontorkan sampai 2018 (Panjimas, 16/3/2016). Kapan diaudit dan aktor di belakang diseret ke pengadilan? Kenapa anggarannya ditambahkan? Dagelan ‘bobok celengan’ belum kenyang? Sampai kapan sandiwara berdarah ini?

Sampai kapan tuan-tuan. Peluru Anda dari uang rakyat, uang mayoritas umat Muslim. Tapi kini, umat Muslim seperti ditarik ulang ke masa LB Moerdani. Bayangkanlah, jika anak korban itu: keluarga Densus atau polisi. Bayangkanlah jika anak-anak Anda menjadi yatim dan sang istri menjadi janda. Bayangkanlah tuan-tuan, gunakan hati. (Republika)

%d blogger menyukai ini: