Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, Internasional, News Ini Kekuatan Abu Sayyaf, Filipina Salah Besar Telah Meremehkan

Ini Kekuatan Abu Sayyaf, Filipina Salah Besar Telah Meremehkan

Sketsanews.com – Militan Abu Sayyaf membabat habis satu peleton pasukan elite Filipina saat akan melakukan penyerbuan terhadap kelompok tersebut. Tentara yang tewas akibat sergapan militan Islam garis keras tersebut mencapai 18 orang, empat di antaranya dipenggal.

ini-kekuatan-abu-sayyaf-salah-besar-diremehkan-filipina

Hanya 50 tentara yang dilaporkan selamat, mereka berhasil keluar dari sergapan tersebut dalam keadaan penuh luka. Padahal, pasukan yang diterjunkan tidak main-main, mereka adalah pasukan elite, yakni Batalion Khusus Ke-4 dan Batalion Infanteri Ke-44.

Dua batalion tersebut sedang bergerak di Provinsi Basilan untuk membebaskan 18 warga asing yang disandera Abu Sayyaf, 10 di antaranya adalah pelaut asal Indonesia. Dengan kekalahan tersebut, misi pembebasan yang dilakukan selama dua pekan terakhir gagal dilakukan.

Siapa sebenarnya Abu Sayyaf itu?

20160410153540-1-abu-sayyaf-002-dru

Kelompok ini berdiri di awal era 1970-an, awalnya dibentuk dengan nama Front Pembebasan Nasional Moro atau MNLF. Mereka adalah kelompok pemberontak yang ingin melepaskan diri dari Filipina, area kekuasannya berada di Basilan dan Mindanao di selatan Filipina.

Abdurajik Abubakar Janjalani merupakan pemimpin pertama Abu Sayyaf, dia berprofesi sebagai guru di Basilan. Janjalani kemudian berangkat ke Libia, Suriah dan Arab Saudi untuk mendalami Islam. Dia diketahui ikut terlibat dalam perang melawan Uni Soviet bersama Afghanistan.

Selama berada di sana, dia sempat bertatap muka dengan pemimpin Al Qaedah, Osama Bin Laden. Dari Osama, dia menerima bantuan uang senilai USD 6 juta untuk membentuk kelompok militan baru yang juga bagian dari MNLF. Lahirlah Abu Sayyaf.

Kelompok Abu Sayyaf ini memiliki ideologi yang keras. Demi mendapatkan keinginannya, mereka tak segan menculik bahkan membunuh sandera. Sasaran utamanya adalah warga Filipina dan Amerika Serikat, termasuk Indonesia, Jepang serta Malaysia tak luput untuk diculik.

Beberapa media internasional menyebutkan, kekuatan pasukan ini hanya berjumlah sekitar 300 orang. Meski kecil, namun kelompok ini diakui lebih kuat dibandingkan kelompok separatis lain di Filipina. Mereka pernah berlatih perang bersama para mujahidin di Afghanistan.

“Dia (pasukan Filipina) salah kalau Abu Sayyaf dianggap remeh, itu kan sudah puluhan tahun, itu pun berdarah-darah di sana. Korban dari tentara Filipina pun sudah ribuan,” kata pengamat militer Wawan Purwanto saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (10/4).

20160410153540-2-abu-sayyaf-gabung-isis-001-ardyan-mohamad

Sebelum Moamar Khadafi jatuh, kelompok ini diketahui pernah menerima bantuan persenjataan, logistik, keuangan hingga pelatihan militer dari Libia. Alhasil, meski terdiri dari kelompok kecil namun persenjataan yang dimiliki tidak bisa dianggap remeh.

Abu Sayyaf disebutkan memiliki banyak senjata RPG yang bisa menghancurkan tank. Mortar, M-16 dan AK-47 tersedia dalam jumlah besar.

“Mereka juga diajarkan memiliki kemampuan memodifikasi senjara, sehingga memiliki jarak tembak lebih jauh dan akurat,” tambah Wawan.

Selain dilengkapi persenjataan canggih, Abu Sayyaf juga sangat mengenal daerah kekuasaannya, khususnya di kawasan Basilan. Tak heran jika satu peleton pasukan bisa dihabisi dalam sebuah penyergapan.

“Mereka sangat bagus di wilayah itu, kalau strike (serangan) mereka tahu, kesalahannya untuk pihak penyergap lebih diuntungkan, apalagi jumlahnya lebih besar. Mereka sudah siap-siap kapan dan di mana tempat terbaik untuk nyerang, kalau enggak siap penyergap bisa dapat kemenangan besar. Sulit untuk pihak yang disergap untuk konsolidasi,” tutupnya.

20160410153540-3-kelompok-abu-sayyaf-di-filipina-selatan-001-faisal-assegaf

Menilik sejarah, orang Mindanao dan Sulu terkenal keras. Wilayah yang berada di pantai timur Kalimantan ini sudah berabad-abad terlatih perang dan melakukan perompakan.

Sejak pemberontakan MNLF pecah, kawasan ini dikenal sangat rawan, banyak kapal laut dibajak kelompok tersebut. Beberapa warga Malaysia sudah menjadi korban, ketika uang tebusan gagal didapat, leher para sandera digorok. Kini, 10 WNI bersama 8 warga asing lainnya masih menanti pembebasan dari pemerintah Filipina dan Indonesia. (Zu/Merdeka)

%d blogger menyukai ini: