Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Jusuf Kalla: Modal Indonesia Pluralisme dan Islam Moderat

Jusuf Kalla: Modal Indonesia Pluralisme dan Islam Moderat

Sketsanews.com – Wakil Presiden Jusuf Kalla menutup Muktamar VIII Partai Persatuan Pembangunan. Dalam sambutan penutupnya, Kalla mengingatkan tantangan yang dihadapi partai dan negara. “Maka perlu persatuan untuk menghadapi tantangan ini,” kata Kalla saat menutup acara muktamar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Minggu, 10 April 2016.

Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Ketua Umum PPP Romahurmuziy usai menutup Muktamar VIII PPP di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, 10 April 2016. TEMPO/Arkhelaus Wisnu
Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Ketua Umum PPP Romahurmuziy usai menutup Muktamar VIII PPP di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, 10 April 2016. TEMPO/Arkhelaus Wisnu

Meskipun begitu, Kalla mengatakan, Indonesia adalah salah satu negara dengan politik yang stabil. Dibandingkan negara lain, seperti Malaysia, Filipina, dan Pakistan, politik Indonesia masih lebih stabil dibandingkan negara-negara tersebut.

Ia juga mengingatkan PPP sebagai salah satu partai Islam. Menurut dia, partai perlu juga memperhatikan perkembangan ekonomi agar dapat tumbuh setara dengan negara lain. Saat ini, kata Kalla, pertumbuhan ekonomi lebih kecil dibandingkan jumlah penduduk Indonesia. “Bagaimana bisa menguasai politik, sedangkan ekonomi rendah? Ini yang bisa menimbulkan instabilitas,” ujarnya.

PPP, kata dia, bukan hanya berperan sebagai partai politik. PPP, menurut dia, harus berperan mendorong keadilan bangsa sehingga mempunyai stabilitas politik. Ia mengatakan Muktamar PPP tidak hanya bicara tentang persiapan pilkada. Namun berpikir juga tentang negara. “Kita punya modal yang besar, pluralisme dan Islam yang moderat. Kita harus menjaga, tentu berharap lebih baik,” tuturnya.

Ia berharap muktamar ini memberi fondasi yang kuat dalam sistem politik dan kebangsaan yang baik. PPP, kata dia, tidak hanya sebagai sistem politik, sosial, dan ekonomi. “Tidak bisa diukur berapa bupati atau DPR, kalau itu bisa mayoritas. Namun bagaimana bisa timbul inovasi dari generasi muda,” ucapnya.

Muktamar VIII partai berlambang Ka’bah ini berakhir seiring terpilihnya Sekretaris Jenderal Partai Romahurmuziy sebagai Ketua Umum PPP periode 2016-2020. Muktamar ini mengakhiri perpecahan partai yang sempat terbelah dalam Muktamar Surabaya dan Jakarta, antara kubu Romahurmuziy dan Djan Faridz. Romahurmuziy terpilih secara aklamasi. (Zu/Tempo)

%d blogger menyukai ini: