Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News Siapa Sebenarnya Abu Sayyaf?

Siapa Sebenarnya Abu Sayyaf?

ini-kekuatan-abu-sayyaf-salah-besar-diremehkan-filipina

Sketsanews.com – Akhir-akhir ini Indonesia dihebohkan dengan Aksi penyanderaan terhadap sejumlah warga negara Indonesia yang dilakukan oleh sekelompok pihak asing. Kali ini penyanderaan dilakukan oleh kelompok yang mengaku Abu Sayyaf terhadap 10 warga negara kita. Kejadian ini mendapat perhatian yang sangat serius dari pemerintah. Maklum, bagaimanapun juga seluruh warga negara Indonesia adalah tanggung jawab negara.

Oleh sebab itu, menjadi wajar jika pemerintah memberikan perhatian serius manakala ada warganya yang disandera oleh kelompok-kelompok tertentu, terlebih jika dilakukan pihak asing. Atas dasar itu pula, kita mendorong pemerintah untuk segera melakukan tindakan-tindakan yang mengarah pada upaya penyelamatan para sandera tersebut.

Negara tidak boleh lengah dalam memperhatikan dan memperjuangkan nasib warganya. Jika negara tidak mampu melakukan langkah penyelamatan, maka hal itu akan semakin memperburuk citra kita di dunia internasional. Bukan tidak mungkin bahwa akan banyak negara yang menyepelekan Indonesia ketika tidak mampu menjamin dan menyelamatkan warganya yang sedang tersandera.

Negara melalui aparat terkait, harus melakukan upaya-upaya yang dapat membebaskan para sandera. Tentu upaya pembebasan dimaksud harus mengedepankan nasib dan keselamatan jiwa para sandera.

Peristiwa penyanderaan kali ini bukanlah peristiwa pertama yang pernah terjadi terkait dengan disanderanya sejumlah warga negara Indonesia. Dulu, kita juga pernah mendengar bahwa dua warga negara Indonesia disandera kelompok bersenjata dari Papua di Skouwtiau, Papua Nugini.

Ketika itu, Konsulat Republik Indonesia di Vanimo, Papua Nugini, mendapatkan informasi mengenai dua warga negara Indonesia yang disandera kelompok bersenjata di Skouwtiau, Papua Nugini. Kedua WNI bernama Sudirman dan Badar itu bekerja di perusahaan penebangan kayu di Skofro, distrik Ardi Timur, Kabupaten Keerom, Papua.

Selain itu, pernah juga terjadi penyanderaan kapal Sinar Kudus milik Indonesia oleh sejumlah perompak Somalia. Kala itu banyak pihak menaruh perhatian terhadap diplomasi yang dijalankan pemerintah saat ini. Bahkan, tidak sedikit yang kemudian mencerca diplomasi Indonesia.

Terhadap perlakuan yang diterima warga negara Indonesia di luar negeri, bagaimana tindakan pemerintah Indonesia? Yang paling sering dituduhkan kepada pemerintah adalah lambat, atau terlalu hati-hati. Itu misalnya sering terjadi pada kasus penganiayaan terhadap TKW kita di luar negeri. Tuduhan itu kembali terulang ketika 20 warga negara Indonesia yang mengawaki kapal Sinar Kudus, disandera perompak Somalia di perairan negeri itu.

Tindakan pemerintah terlambat dalam kasus ini, mungkin juga tidak benar. Pembajakan oleh perompak Somalia mempunyai karakter yang lain. Perompak Somalia terbiasa melakukan penyanderaan berbulan-bulan. Rentang penyanderaan itu bisa mulai dari waktu satu setengah bulan sampai delapan bulan. Ini peristiwa yang luar biasa.

Kita menduga bahwa lamanya waktu penyanderaan tersebut, merupakan strategi mengulur waktu demi mendapatkan uang tebusan dari korbannya. Tentu juga disebabkan oleh ruang dan persediaan makanan yang memungkinkan untuk melakukan penyanderaan tersebut, jika dibandingkan dengan penyanderaan di pesawat udara.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan, pihaknya telah mengetahui posisi kelompok perompak Abu Sayyaf asal Filipina yang menyandera 10 warga negara Indonesia.

Titik koordinat para perompak didapat dari hasil koordinasi TNI dengan militer Filipina. Ia mengatakan, TNI akan memprioritaskan keselamatan ke-10 WNI, sesuai arahan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

“Berdasarkan monitor dan koordinasi dengan tim dari Filipina, lokasi ada di Filipina. Mereka sudah tahu tempatnya,” kata Gatot di Aula Sudirman, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (30/3/2016).

Ia berujar, akan terus berkoordinasi dengan militer Filipina guna memantau perkembangan situasi di sana. Ia pun menyatakan siap menyediakan apapun yang diperlukan Pemerintah Filipina terkait proses pembebasan para sandera.

ANALISA

Penyanderaan yang dilakukan kelompok Abu Sayyaf terhadap 10 warga negara Indonesia mendapat perhatian serius dari petinggi negeri ini. Upaya pembebasan mereka pun terus dilakukan dengan berbagai strategi yang disiapkan. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo misalnya, terus berkoordinasi dengan panglima angkatan perang negara Filipina, Hernando Iriberri.

Dari hasil koordinasi itu, pihaknya sudah mengetahui lokasi ke-10 WNI yang disandera tersebut. TNI sendiri siap memberikan bantuan apabila ada permintaan dari Filipina dalam menangani penyanderaan oleh Abu Sayyaf.

Saat ini prioritas TNI adalah menyelamatkan 10 WNI yang disandera. Seperti diketahui, para WNI itu adalah anak buah kapal dari Tugboat Brahma 12. Tugboat itu menarik tongkang Anand 12 bermuatan 7.500 metrik ton batu bara dari PT Antang Gunung Meratus, yang bertolak dari Pelabuhan Sungai Puting Kabupaten Tapin, Kalsel, pada 15 Maret 2016.

//twitter.com/KabarTerkiniID/status/718819989743149056

 

Kapal milik perusahaan tambang dari Banjarmasin, PT Patria Maritime Line itu dikabarkan dibajak kelompok teroris Abu Sayyaf di perairan Filipina, pada 26 Maret 2016. Para pembajak minta tebusan sebesar 50 juta peso atau sekitar Rp 14,3 miliar. Pada 27 Maret 2016, tugboat Brahma 12 ditemukan warga Filipina dalam keadaan kosong. Sedang tongkang Anand 12 beserta 10 awak kapal yang kesemuanya WNI itu, tidak diketahui keberadaannya.

Tentu kita salut kepada Pemerintah Indonesia, karena pasukan khusus yang disiapkan tinggal menunggu sinyal dari pemerintah Filipina, untuk melakukan operasi pembebasan sandera 10 WNI. Jika Indonesia dilibatkan dalam operasi, pemerintah Indonesia menugaskan TNI untuk melakukannya.

Komando Armada RI Kawasan Timur sudah menggerakkan beberapa kapal perang ke tempat yang diduga lokasi penyanderaan. Sejumlah pasukan serta pesawat terbang juga disiapkan. Bahkan, Kepala Penerangan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD Letnan Kolonel (Inf) Joko Tri Hadimantoyo menyatakan, jika diperlukan, prajurit Kopassus siap membebaskan sandera.

Kita berharap penyelamatan para sandera dilakukan secara matang. Dari segi peralatan perang, kita yakin jauh lebih unggul dibanding kelompok Abu Sayyaf. Namun, karena operasi ini menyangkut keselamatan manusia, maka perlu kehati-hatian yang ekstra agar tidak ada jatuh korban di pihak sandera.

Selama ini, beberapa negara yang mengalami kasus yang sama, juga telah memberikan tebusan kepada perompak untuk menyelesaikan masalah. Ini situasi keterpaksaaan yang harus dilakukan demi menyelamatkan nyawa warga indonesia. Bagaimanapun, nyawa manusia jauh lebih penting dari itu.

Barangkali karena situasi darurat itulah banyak negara lebih mementingkan menyelamatkan nyawa warganya dengan membayar tuntutan perompak. Kondisi sandera yang sudah lemah dan mungkin penguasaan lapangan dikuasai perompak, membuat banyak negara membayar tuntutan itu.

Kejadian demikian haruslah menjadi pelajaran besar bagi negara dan bagi perusahaan pelayaran. Artinya, di masa depan negara harus mengawasi pelayaran dan perusahaan harus berani menyertakan pasukan di dalam kapalnya untuk mengatasi ancaman seperti ini.

Kasus penyanderaan telah menjadi kekhawatiran dunia. Perserikatan Bangsa Bangsa telah mengajak seluruh negara melawan perompak dan membentuk pengadilan ad hoc untuk mengadilinya. Itu menandakan bahwa sejumlah negara pun tidak mampu mengatasi dan amat mungkin karena pemerintahannya lemah.

Sudah ada beberapa negara yang mengirim kapal dan melakukan patroli di kawasan yang rawan penyanderaan untuk menjaga armadanya. Oleh karena itu, Indonesia pun harus melakukan langkah-langkah terbaik dalam rangka membebaskan sejumlah warga negara kita yang sedang tersandera. (An)

%d blogger menyukai ini: