Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Keluarga di Magelang Berharap Terduga Teroris Santoso Menyerahkan Diri

Keluarga di Magelang Berharap Terduga Teroris Santoso Menyerahkan Diri

Sketsanews.com – Keluarga buronan terduga terorisme, Santoso, di Dusun Prampelan, Desa Adipuro, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang berharap agar pimpinan Mujahidin Indonesia Timur ini menyerahkan diri.  Pada 1998 Santoso sendiri pernah berkunjung ke sejumlah saudaranya di dusun ini untuk melakukan silaturahmi.

Keluarga buronan terduga terorisme, Santoso, di Dusun Prampelan, Desa Adipuro, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang berharap agar pimpinan Mujahidin Indonesia Timur ini menyerahkan diri. Ahmad Basri dan Kades Waluya. (Eko Susanto/Koran SINDO)
Keluarga buronan terduga terorisme, Santoso, di Dusun Prampelan, Desa Adipuro, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang berharap agar pimpinan Mujahidin Indonesia Timur ini menyerahkan diri. Ahmad Basri dan Kades Waluya. (Eko Susanto/Koran SINDO)

Sindonews melaporkan, adik sepupu Santoso, Ahmad Basri (43) warga Lereng Sumbing, di Dusun Prampelan, Desa Adipuro, Kecamatan Kaliangkrik menuturkan, kedua orangtua Santoso sekitar tahun 1970-an mengikuti transmigrasi di Sulawesi. Orangtua Santoso, Irsan dulunya asli Dusun Prampelan, sedangkan ibunya, Tuminah berasal dari Gendol, Sukamakmur, Kajoran.

“Pakde sekitar tahun 1970-an melakukan transmigrasi di Sulawesi,” ujar Basri saat ditemui di Balai Desa Adipuro, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Selasa (12/4/2016).

Basri menuturkan, sekitar 1998, selepas lulus SMA, Santoso pernah melakukan silaturahmi ke rumahnya. Bahkan, pernah juga datang di rumah miliknya yang berada di Kutoarjo. Saat itu, Santoso dimintai tolong kedua orangtuanya untuk menjual tanah ukuran 9 x 6,5 meter persegi. “Tanah tersebut saya beli. Sekarang saya jadikan untuk rumah,” ujar Basri.

Diakui Basri, tanah seluas 9 x 6,5 meter persegi tersebut dibeli sebesar Rp1,5 juta. Untuk yang Rp1 juta, uangnya ditransfer, sedangkan Rp500.000 dibawa langsung Santoso. “Setelah Santoso pulang ke Sulawesi, kedua orangtuanya gantian ke sini. Tapi, saat tahun 1998 Santoso ke sini (Prampelan), masih mbeling,” ujar dia.

Basri menyebutkan, 2 bulan yang lalu dia didatangi Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, TNI dan personel dari Polres Magelang. Bahkan untuk Polres Magelang telah 4 kali mendatangi rumahnya. Semenjak saat itu, setelah salat selalu berdoa.

“Saya selalu berdoa, pertama agar Santoso sadar, kedua menyerahkan diri dan ketiga, agar tobat. Itu saya melakukan sehabis salat,” katanya.

Namun demikian, sejak 1998 tersebut hingga sekarang Basri, tak pernah bertemu dengan Santoso. Bahkan, jika bertemu maupun berpapasan di jalan saja, Basri mengaku telah lupa dengan wajahnya.

Kepala Desa Adipuro, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Waluyo mengatakan, telah didatangi Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, Mabes TNI dan Polres Magelang. Kedatangan personel tersebut untuk menanyakan tentang Santoso.

“Saya sampaikan juga, orangtua Santoso asli orang sini. Kemudian, sekitar tahun 1970-an transmigrasi ke Sulawesi,” kata Waluyo. Dikatakan Waluyo, yang diketahui sebatas itu, sedangkan masalah lainnya tidak mengetahuinya. (Zu)

%d blogger menyukai ini: