Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Takdir yang Merayap (Sebuah Catatan buat Fahri Hamzah)

Takdir yang Merayap (Sebuah Catatan buat Fahri Hamzah)

Oleh: Erizal (Alumni KAMMI Sumatera Barat)


Sketsanews.com – Undangan makan malam datang dari seorang senior. Perbaikan gizi, makan enak. Begitulah! Kalau tak salah, di sebuah restoran Arab terbaik. Anda tahu? Betapa berbinar-binarnya anak-anak pergerakan mendengar kabar itu. Apalagi saya sebagai anak daerah, perantau, jauh dari orang tua. Tak ada yang saya bawa saat itu, kecuali sekadar cita-cita.

Fahri Hamzah
Fahri Hamzah

Sebelum Magrib, senior itu sudah sampai di markas. Enak betul, ya. Makan gratis, sudah itu dijemput pula. Selebihnya, pakai mobil teman. Mobil perjuangan. Konon, mobil itu termasuk saksi sejarah dari huru-hara reformasi. Tapi sayangnya, teman itu terbaring di rumah sakit. Senior itu menanggung biaya pengobatannya. Padahal berjarak 18 tahun.

Aneh? Jika ada yang mengatakan senior itu telah berubah. Tidak! Dia tak berubah. Masih seperti yang dulu. Yang jelas berubah, fisiknya. Agak gemukkan; tepatnya, gendut. Seperti pejabat lainnya; gayanya, karakternya, masih sama. Tegas, keras, mungkin kasar, ceplas-ceplos, tanpa tedeng aling-aling, mendramatisir, dan terlihat bombastis, memang.

Ada lagi yang tertinggal, sebenarnya dia itu lucu, melankolis, dan penuh rasa. Jika tak percaya, bacalah tulisan-tulisannya, terutama di akun Twitter. Dia juga pintar berpuisi. Jika masih mengatakannya brengsek, berarti Anda kurang piknik. Ogah betul dengan dia. Terhadap orang baru kenal saja dia asyik. Apalagi terhadap orang yang telah lama kenal.

Di tengah nikmatnya mengunyah daging kambing, senior itu berkata, “Jal, setelah ini ikut saya, ya. ”Kemana Bang,” jawab saya. “Ikut saja; makannya jangan terlalu kenyang, nanti kita makan lagi,” jelasnya sambil tersenyum manis, sebagaimana dilansir dari Republika. Padahal, kami baru bertatapan muka. Pasti dia tahu, saya anak daerah. Tak banyak anak daerah di kepengurusan pusat.

Meski rezim otoriter sudah lumpuh, MPR telah memilih presiden baru, hawa huru-hara reformasi masih menyengat. Alih-alih melakukan konsolidasi, presiden baru malah, membuat kontroversi baru dan mengabaikan agenda presiden transisi yang telah sesuai. Anak-anak pergerakan tak boleh lengah. Mungkin karena itu, dia mengajak saya ngobrol.

Persisnya, entahlah? Dia yang tahu. Dia juga anak daerah, di pinggir negeri. Tentu dia paham benar, apa yang saya rasakan. Mimpi dan realitas, harus dijembatani. Di atas mobil, dia bicara. Saya tak ingat persis apa yang dibicarakannya. Pertanyaan-pertanyaan klasik telah saya jawab. Rasanya dia memiliki mimpi besar, tak sebesar yang saya bawa.

Ternyata, kami menuju komplek perumahan dan berhenti di sebuah rumah. Tamu sudah ramai di rumah itu dan kami bergabung. ”Ahai, ini acara halaqoh,” kata saya dalam hati. ”Ikut saja,” bisik dia seperti tahu persis kata hati saya. Dari cara mereka menyambut, saya tahu, dia murobbi dalam halaqoh ini. Mantap juga. Padahal dia terlihat paling muda.

Materi yang disampaikannya tentang Alquran. Bagaimana berinteraksi dengan Slquran. Bagi orang luar, mungkin heran, mendengar dia menyampaikan materi tentang Alquran. Gayanya, karakternya, seperti tidak cocok. Dia lebih cocok menyampaikan materi tentang agitasi. Tapi, tidak! Materi itu disampaikannya dengan baik, tanpa terlihat gagap.

Seperti yang dikatakannya, makan! Acara ditutup, dengan makan berat. Perantau muda yang jauh dari rumah, mana pula pernah merasa benar-benar kenyang? Malam itu, tak pernah saya sekenyang itu. Suasana malam ibukota, merasuk ke dalam pikiran saya seperti roman picisan. “Pulang kemana, “sentak senior itu. Sekre aja Bang,” jawab saya.

Dia merogoh dompet dari saku dan memberi saya beberapa lembar pecehan 100 ribu. Ini dia momen klasik yang membuat orang kikuk, sekaligus senang alang kepalang. Nyaris tak ada puisi atau roman yang bagus, menggambarkan psikologi ini. Tak sekadar bertemu ruas dan buku. Lebih dari itu. Orang hanyut dapat potongan kayu buat bergayut.

Tak lama saya di rantau. Teman (ketua) yang mengajak saya bergabung, mundur. Saya juga memilih mundur, meski ajakan untuk bertahan juga ada. Otomatis komunikasi saya dengan senior itu terputus. Dari daerah saya melihat kariernya semakin melesat dan mimpinya mulai bekerja. Malang tak bisa ditolak, dia dipecat lewat drama yang merayap.

Seperti saya, mestinya dia legowo mundur, setelah suasana sama sekali berubah. Dia coba bertahan, mungkin juga ingin berubah, tapi zaman sama sekali berubah drastis. Dia gagal bertahan dan menyesuaikan diri.

Dia melawan, tapi katanya tidak. Ini cara kita telah saling menjaga. Tapi, semua telah terlambat. Takdir sedang merayap menentukan masing-masingnya. Bang Fahri, adakah tidurmu selelap dulu dan mimpimu masih sama? (Zu)

%d blogger menyukai ini: