Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Keluarga Siyono Masih Mendapat Teror

Keluarga Siyono Masih Mendapat Teror

Sketsanews.com – Tim pembela kemanusiaan untuk kasus Siyono mengungkapkan ayah terduga teroris Siyono telah dipanggil ke Polres Klaten atas surat perintah Kadiv Propam Polri.

Pemanggilan itu untuk memberikan keterangan mengenai dugaan pelanggaran kode etik Polri yang telah dilakukan oleh dua anggota Densus 88 berupa tindakan tidak profesional, proporsional, dan prosedural saat melakukan upaya paksa penangkapan dan pemeriksaan terhadap Siyono, Selasa (12/4/2016) lalu.

Shandy Herlian Firmansyah, Tim Pembela Kemanusiaan kasus Siyono saat konferensi pers di Pusham UII, Rabu (13/4/2016) mengungkapkan ada panggilan melalui surat yang ditujukan kepada Mardiyo, ayah Siyono.

Suasana rumah Siyono, saat Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil A Simanjuntak mengunjungi kediaman tersebut di Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kamis (31/3/2016).
Suasana rumah Siyono, saat Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil A Simanjuntak mengunjungi kediaman tersebut di Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kamis (31/3/2016).

Namun nama yang tertulis salah yaitu Marsodiyono. Nama tersebut tidak sesuai KTP ayah Siyono.

“Kemudian tempat pemeriksaan pun berpindah-pindah dari yang awalnya diinfokan ke Polres Klaten, info berubah ke Balai Desa, dan akhirnya dipindah ke Polsek Cawas pukul 14.00 siang. Kemudian yang mendatangi panggilan tersebut Mardiyo, selaku ayah Siyono, dan kakak Siyono,” ujar Shandy. Seperti diberitakan Tribunnews.

Tim pembela kemanusiaan menyesalkan adanya pertanyaan mengenai autopsi kepada ayah Siyono.

Menurut Trisno Raharjo, Ketua Tim Pembela Kemanusiaan, jika pemanggilan dimaksudkan untuk meminta keterangan mengenai kode etik oknum Densus 88 seharusnya pertanyaan diarahkan mengenai proses penangkapan, dan penggeledahan kediaman Siyono, apakah proses tersebut telah sesuai dengan prosedur atau tidak.

“Bagi kami, ini teror kepada keluarga Siyono. Ini mencari-cari. Apa hubungannya masalah penangkapan dan autopsi? Itu hak keluarga, karena tidak mendapat kejelasan penyebab kematian Siyono. Ini membuat keluarga tidak nyaman,” kata Trisno.

Kemudian, jika pertanyaan yang dilontarkan justru akhirnya mengarah mengenai autopsi, pihaknya menanyakan, apakah ada hubungannya dengan pelanggaran kode etik.

“Kami mengharapkan pihak keluarga tak mendapatkan tekanan dan intimidasi yang mengganggu kehidupan keluarga. Biarkan mereka tenang. Biar ini menjadi masalah hukum untuk diselesaikan bersama. Keluarga sudah kehilangan, siapapun Siyono itu, tetapi kami memperjuangkan nilai kemanusiaan yang ada di sana. Kenapa harus mempertanyakan tentang autopsi,” ujar Trisno Raharjo.

Trisno menginginkan dalam penegakan hukum, tingkatnya menjadi penyidikan pelanggaran hak asasi manusia. Pihaknya juga mengaku telah membuat surat kepada Kapolri untuk menyelesaikan pemeriksaan kode etik.

“Kami mendesak kepolisian meningkatkan perkara menjadi sebuah tindak pidana,” kata Trisno.

Trisno mengungkapkan ada upaya intimidasi yang dialami keluarga Siyono terutama pasca-autopsi. Menurut Trisno hal ini bisa diindikasikan adanya teror terselubung agar keluarga jengah dan akhirnya kasus ini berlalu.

“Bisa saja nanti keluarga jengah lalu tidak mau memperpanjang kasus ini, atau pergi dari kampung. Tapi kita tidak mau berandai-berandai kita akan kawal kasus ini sampai tuntas,” tambahnya.

Terkait penyebab kematian Siyono yang sebelumnya telah dirilis oleh Polri, menurut Trisno, dirinya sempat bertanya kepada dokter-dokter ahli forensik, apakah hasil scan termasuk autopsi.

“Jawabannya bukan autopsi dan di bawah standar,” lanjutnya.

Menurut dia, jika pihak kepolisian hanya melakukan pemeriksaan luar dan di bawah standar, maka penyebab dari kematian Siyono tidak bisa dijelaskan.

Selain itu, kesimpulan dari pemeriksaan yang tidak sesuai standar juga tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Hanya men-scan dari luar lalu disimpulkan. Hasil scan-nya dikirimkan ke keluarga sebagai penyebab kematian. Menurut dokter forensik, hasil itu tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tandasnya.

Ia menjelaskan, ada perbedaan hasil Tim autopsi PP Muhammadiyah dan Komnas HAM dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi.

Dari hasil autopsi yang dilakukan Tim autopsi PP Muhamadiyah dan Komnas HAM beberapa waktu lalu.

“Berdasarkan autopsi yang telah disampaikan di Komnas HAM Jakarta, penyebab kematian ada pada dada. Bukan pada bagian kepala seperti yang disampaikan Mabes Polri,” imbuhnya.

Karo Penmas Polri, Brigjen Agus Rianto, sebelumnya pernah memberi penjelasan Siyono sempat melakukan perlawanan, bahkan menyerang anggota Densus 88 Antiteror, yang mengawalnya.

Menurut Agus Rianto, terjadi perkelahian di dalam mobil antara Siyono dan personel Densus.

“Setelah ada perkelahian, situasi dapat dikendalikan. Dia (Siyono) tampak kelelahan dan lemas. Lalu anggota (Densus 88) membawanya ke RS Bhayangkara, Yogya, untuk mendapat pertolongan,” ujar jenderal bintang satu itu.

Siyono dinyatakan meninggal di rumah sakit, kemudian jenazahnya dibawa ke RS Polri Kramatjati, Jakarta. Pada Sabtu (12/3/2016) pukul 15.30 WIB, jenazah diserahkan ke pihak keluarga. (An)

%d blogger menyukai ini: