Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Kenangan Pada Ustadz Abu Bakar Baasyir

Kenangan Pada Ustadz Abu Bakar Baasyir

Oleh : Mega Simarmata

Sketsanews.com – Kalau saya sebagai seorang jurnalis boleh berkata jujur sejujur-jujurnya, saya adalah satu-satunya umat Kristen, sekaligus satu-satunya jurnalis di dunia ini, yang dianggap sebagai sahabat oleh Ustadz Abu Bakar Baasir.

img1460790458681

Dulu, sebelum dipenjara seperti sekarang yaitu saat masih memimpin Pondok Pesantren Ngruki, ternyata beliau adalah pembaca tulisan-tulisan saya.

Hingga pada suatu ketika saya bisa menitipkan salam hormat melalui pendukung beliau.

Biasanya saya kirim sms.

Lalu beliau menjawab.

Isinya sama, salam hormat dari saya. Lalu saya sampaikan harapan agar semua rakyat Indonesia ini dapat hidup dengan aman dan damai.

Hingga akhirnya beliau pernah menyampaikan pada saya seperti ini, “Mega, kalau kamu mau masuk surga, kamu harus masuk Islam”.

Saya menjawab, “Pak Uztadz, mungkin saya salah, tapi setahu saya didalam ajaran agama Islam dikenal seorang wanita bernama Siti Mariam. Dalam agama saya, Siti Mariam adalah Bunda Maria yang melahirkan seorang putra bernama Yesus Kristus. Saya umat-Nya. Iman saya penuh sepenuh-penuhnya pada Yesus. Tapi mari kita bersaudara dan bersahabat tanpa membedakan suku dan agama. Saya ulurkan tangan saya kepada Pak Ustadz, di iringi salam hormat, saya ingin menjadi sahabat dan saudara bagi Pak Ustadz”.

Kemudian Ustadz Abu menjawab sms saya seperti ini, “Ya Alloh, berkahilah saudari kami ini yang datang menawarkan persahabatan. Amin.”.

Saya sudah meliput di Mabes Polri sejak tahun 2005 di era kepemimpinan Kapolri Sutanto.

Saya terkejut mendengar kabar saat Ustadz Abu ditangkap beserta istrinya pada pertengahan tahun 2010.

Saya sempat disoraki dan diejek saat mempertanyakan dalam sebuah press release di Mabes Polri.

Saya bertanya, mengapa penangkapan Ustadz Abu sangat tidak manusiawi karena beliau ditangkap saat sedang bersama istri.

Lima bulan setelah beliau dipenjara di rutan yang ada di Bareskrim, saya menyempatkan diri untuk datang membesuk.

Saya membesuk beliau ke tahanan pada tanggal 21 Januari 2011.

Ketika itu, saya pinjam kerudung dari Mak Inul, panggilan para wartawan yang biasa meliput di Mabes Polri kepada seorang ibu yang jualan makanan di sebuah kantin yang terletak dalam Mabes Polri.

Ketika saya membesuk Ustadz Abu, beliau sedang dibesuk juga oleh keluarga besarnya.

Istri dan anak anak beliau hadir disana.

Saya tahu tidak diperbolehkan membawa HP, kamera atau alat perekam ke dalam tahanan.

Bareskrim

Bareskrim

Maka ketika saya membesuk Ustadz Abu, saya sudah memasukkan ke kantong celana saya sebuah buku kecil dan pulpen.

Semua jawaban-jawaban Ustadz Abu saya catat rapi.

Ternyata walaupun saya memakai kerudung, dari kamera CCTV Densus 88 akhirnya tahu bahwa saya adalah wartawan.

8 orang anggota Densus masuk mencari saya ke dalam ruangan tempat Ustadz Abu sedang dibesuk.

Lalu mereka meminta saya keluar sebentar.

“Mbak mohon keluar. Mbak kan wartawan. Yang boleh besuk hanya keluarga”.

Saya jawab, “Tunjukkan kepada saya sekarang, aturan mana yang menulis bahwa Ustadz Abu hanya boleh dibesuk keluarga? Apa hak kalian melarang saya membesuk karena saya adalah sahabat beliau”.

Densus 88 terdiam.

Lalu saya masuk lagi ke ruangan tempat Ustadz Abu dibesuk.

Ustadz Abu mengatakan seperti ini pada saya, “Kamu katakan saja sama mereka Mega, jangankan wartawan, kalau Gories Mere dan Densus 88 mau membesuk saya boleh kok”.

Itulah kenangan saya saat membesuk Ustadz Abu ke sel tahanannya di Bareskrim pada tahun 2011 silam.

Sampai sekarang, saya ikuti perkembangan beliau dari pemberitaan.

Saya ikuti perkembangan situasi saat beliau dipindah ke LP Nusa Kambangan.

Dan hari ini, Ustadz Abu dipindah lagi ke LP Gunung Sindur.

Beri beliau keleluasan untuk beribadah yaitu melakukan sholat jamaah.

Beri beliau keleluasaan untuk berobat karena sudah sangat sepuh.

Saya apresiasi kebijakan dimana saat ini di LP Gunung Sindur, Ustadz Abu di izinkan satu sel dengan seorang pengawalnya.

Tak banyak yang bisa saya tuliskan lagi.

Saya tutup tulisan ini dengan meminjam doa yang dulu juga pernah dimohonkan Ustadz Abu untuk diri saya.

Tapi doa saya ini menggunakan bahasa saya sendiri.

“Ya Tuhan, Berkati Ustadz Abu dalam menjalani masa tuanya dengan penuh damai. Beri kesehatan dan ketabahan. Amin”. (Zu)

%d blogger menyukai ini: