Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, Internasional, News Partai Assad Menangi Pemilu Parlemen Suriah

Partai Assad Menangi Pemilu Parlemen Suriah

Sketsanews.com – Seperti sudah diduga sebelumnya, partai berkuasa saat ini di Suriah, Baath, yang dipimpin oleh Bashar al-Assad memenangi pemilu Parlemen di negara tersebut. Partai Baath mendapatkan lebih dari separuh suara dalam pemilu itu.

FILE - This photo released on the official Facebook page of Syrian Presidency, shows Syrian President Bashar Assad casting his ballot in the parliamentary elections, as his wife Asma, left, stands next to him, in Damascus, Syria, Wednesday, April 13, 2016. Syrians living in government-held areas are to vote Wednesday in parliamentary elections, hours ahead of the resumption of talks in Geneva to resolve the country's five-year-long civil war. (Syrian Presidency via AP, file)
FILE – This photo released on the official Facebook page of Syrian Presidency, shows Syrian President Bashar Assad casting his ballot in the parliamentary elections, as his wife Asma, left, stands next to him, in Damascus, Syria, Wednesday, April 13, 2016. Syrians living in government-held areas are to vote Wednesday in parliamentary elections, hours ahead of the resumption of talks in Geneva to resolve the country’s five-year-long civil war. (Syrian Presidency via AP, file)

Melansir Al Arabiya pada Senin (18/4), partai Baath dan sekutunya yang berjalan dengan nama koalisi Persatuan Nasional memenangkan 200 dari 250 kursi yang tersedia di Parlemen Suriah.

“200 calon kuat dari koalisi Persatuan Nasional berhasil memenangkan pemilu. Koalisi ini mendapatkan lima juta suara, dari total delapan juta suara,” ucap kepala komisis pemilu Suriah, Hisham al-Shaar dalam sebuah pernyataan.

Pemilu Parlemen Suriah yang berjalan pekan lalu sendiri sejatinya mendapat kecaman dari banyak pihak. Oposisi Suriah dan Kurdi dengan tegas menolak pemilu tersebut, dan mengatakan telah memboikot pemilu di wilayah yang mereka kuasai.

Sementara itu Inggris menyebut pemilu tersebut tidak sejalan dengan resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB. DK PBB menyerukan penyelenggaraan pemilu di Suriah dilakukan 18 bulan setelah proses transisi.

Sedangkan Prancis mengatakan, pelaksaan pemilu di Suriah adalah sebuah kepalsuan. “Pemilihan parlemen Suriah adalah palsu, yang diselenggarakan oleh rezim yang menindas. Pemilihan yang layak hanya bisa terjadi setelah transisi politik dan konstitusi baru berlangsung di Suriah,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis, Romain Nadal. (Zu/Sindonews)

%d blogger menyukai ini: