Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News Siapa Target Operasi Tinombala Sebenarnya?

Siapa Target Operasi Tinombala Sebenarnya?

tinombala

Sketsanews.com – Perburuan terhadap kelompok Mujahidin Indonesia Timur masih terus dilakukan sampai detik ini oleh aparat kepolisian Republik Indonesia dengan menggunakan sandi tinombala. Operasi yang digelar sejak 10 Januari 2016 belum bisa menghasilkan apa yang telah menjadi target yaitu pucuk pimpinan kelompok tersebut.

Kepala Operasi Daerah (Kaopsda) Tinombala Kombes Leo Bona Lubis, Senin, 25/01/2016 mengatakan bahwa sejak diberlakukannya operasi Tinombala 10 Januari 2016 hingga saat ini telah memasuki minggu ketiga masih optimis bisa menyelesaikan misinya asalkan harus adanya kerjasama yang baik dengan masyarakat. Dia menambahkan bahwa pengejaran dan penangkapan Santoso merupakan satu program Quick win Polri, makanya semua personel harus menyerap semua informasi berkaitan dengan keberadaan kelompok Santoso serta harus melaporkan secara bertahap.

Namun sayangnya sampai detik ini usaha tersebut belum membuahkan hasil, meskipun mereka yakin dan optimis bisa menangkap Santoso dalam kurun waktu 60 hari sebagaimana apa yang dikatakan oleh kepolisian Sulawesi Tengah.

Kapolda Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Rudi Sufahriadi yang sekaligus menjadi penanggung jawab jalannya operasi Tinombala 2016 ini menyatakan bahwa sejauh ini keberadaan kelompok teroris Santoso belum ditemukan, meskipun upaya pengejaran dan pengepungan terus dilakukan di lokasi-lokasi yang dicurigai sebagai tempat keberadaan kelompok teroris itu.

Aparat Keamanan dalam operasi Tinombala 2016 sejak 1 Maret dikosentrasikan dalam upaya pengejaran dan pengepungan kelompok Teroris Santoso di wilayah hutan pegunungan di Kecamatan Lore Tengah dan Lore Peore. Namun dalam perkembangannya satu orang yang merupakan bagian dari kelompok Santoso yang dikepung itu justru muncul di tempat lain yaitu di desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara.

foto-santoso-nih2_20160416_163442

Perburuan kelompok Santoso hingga saat ini masih di pusatkan di wilayah hutan pegunungan Lembah Napu yang meliputi kecamatan Lore Lore Utara, Lore Timur, Lore Peore dan Lore Tengah, yang dalam operasi itu disebut sebagai Sektor IV, dari tiga sektor lokasi pelaksanaan operasi itu yang meliputi Kecamatan Poso Pesisir utara, Poso Pesisir, Poso Pesisir Selatan di Kabupaten Poso, termasuk Sausu di Kabupaten Parigi Maoutong.

Dia menambahkan bahwa pihaknya terus melakukan penyekatan untuk membatasi ruang gerak kelompok tersebut di beberapa wilayah Poso dalam rangka mencegah para simpatisan kelompok Santoso mengirim bahan logistic ke wilayah pegunungan.

Disebutkan Operasi Tinombala 2016 merupakan operasi penegakan hukum gabungan yang melibatkan kekuatan penuh dari berbagi kesatuan elit TNI dan Polri yang terdiri dari Kopassus, Marinir, Denjaka, Raiders, Taipur, Brimob dan kesatuan pendukung lainnya. Kekuatan personel Satgas Operasi Tinombala 2016 terdiri dari TNI berjumlah 1.800 personel dan Polri 1.200 personel.

polri-endus-kelompok-santoso-bakal-lancarkan-aksi-teror-VUv

Dalam kunjungannya ke wilayah kabupaten Poso dalam rangka meninjau pelaksanaan operasi Tinombala kapolri Jenderal Badrodin Haiti didampingi oleh Kepala BNPT Komjen Pol. Tito Karnavian bersama dengan pejabat-pejabat lain dari mabes Polri pada Jumat, 15/04/2016 yang diteruskan mengadakan rapat tertutup dengan satgas operasi Tinombala.

Seusai menggelar rapat tertutup, kapolri jenderal Pol. Badrodin Haiti mengatakan bahwa ini dalam rangka mengecek dan mengevaluasi jalannya operasi tersebut, serta memberikan masukan atas kendala-kendala yang dihadapi oleh satuan tugas operasi tersebut. Dia juga menambahkan bahwa operasi ini telah berjalan sesuai dengan SOP.

Pertanyaan yang muncul adalah kenapa sebuah operasi besar yang melibatkan ribuan personel dari pasukan elit yang ada tidak mampu menangkap satu orang bernama Santoso.

Analisis

Untuk bisa menjawab pertanyaan itu butuh adanya analisa, dalam hal ini kita akan mencoba memetakan ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Abu Wardah alias Santoso dan usaha Polri/TNI dengan menggunakan analisis ancaman ala Hunk Prunckun.

Pertama kita harus tahu definisi ancaman, bahwa yang dimaksud dengan ancaman adalah tekad dan tindakan untuk membahayakan pihak lain. Ancaman dapat berasal dari entitas seperti individu (orang), organisasi/kelompok, maupun negara/bangsa, yang dapat berbentuk serangan fisik maupun non-fisik terhadap pihak yang terancam.

Kedua, dalam analisis ancaman menggunakan dua indicator utama yakni intent dan capability. Niat/tekad (intent) terdiri atas 2 (dua) elemen, yaitu keinginan (desire) dan harapan (expectation). Sedangkan kapabilitas (capability) terdiri atas 2 (dua) elemen, yaitu sumber daya (resources) dan pengetahuan (knowledge) (Prunckun, 2010, pp. 163-164).

Niat/tekad (intent) dimaknai sebagai tingkat optimisme suatu pihak dalam keberhasilan menyerang sasaran. Kapabilitas (capability) dimaknai sebagai daya serang atau daya rusak suatu pihak dalam menyerang sasaran.

Keinginan (desire) dimaknai sebagai antusiasme suatu pihak untuk menyebabkan kerusakan pada sasaran dalam mencapai suatu tujuan. Harapan (expectation) dimaknai sebagai keyakinan yang dimiliki suatu pihak bahwa mereka akan berhasil jika rencana telah dijalankan. Pengetahuan (knowledge) dimaknai sebagai segala informasi yang dimiliki suatu pihak untuk menggunakan atau membangun perangkat atau melaksanakan proses yang diperlukan dalam mencapai tujuan terhadap sasaran. Sumber daya (resources) dimaknai sebagai sumber daya yang dimiliki suatu pihak termasuk keterampilan dan pengalaman serta bahan yang diperlukan untuk bertindak menjalankan rencana terhadap sasaran (Prunckun, 2010, p. 164). Sehingga jika dirumuskan secara matematis, metode analisis ancaman tersebut akan berbentuk sebagai berikut:

Threat = Intent + Capability

Ketiga, kita mencoba membandingkan dari kedua belah pihak. Kalau dilihat dari sudut intent atau niat bahwa kedua belah pihak sama-sama punya optimisme yang tinggi untuk saling menyerang. Namun secara detailnya bahwa dilihat dari keinginan dan harapan pihak Polri dan TNI jauh lebih optimis, sebagaimana apa yang dikatakan oleh kepolisian Sulawesi Tengah bahwa pihaknya bisa menangkap Santoso dalam kurun waktu 60 hari demikian juga yang menjadi planning pemerintah Indonesia untuk bisa menangkap pimpinan Mujahidin Indonesia Timur pada tahun 2016.

Kalau dilihat dari sudut pandang kapabilitas yang mencakup pengetahuan dan sumber daya, maka pihak Polri / TNI jauh lebih baik dibandingkan dengan MIT. Personel mereka adalah orang-orang pilihan dari masing-masing kesatuannya dan merupakan tenaga terdidik dan terlatih. Mereka memiliki pengalaman dan strategi tempur yang baik yang harusnya mereka mampu menangkap Santoso. Kalau yang menjadi alasan medan yang menghambat mereka melakukan aksinya, hal itu tidak bisa diterima akal masalahnya secara sumber daya atau sarana dan prasarana jauh lebih bagus.

az

Pertanyaan lain yang muncul ada apa dibalik ketidakmampuan aparat untuk menangkap pimpinan MIT tersebut. Bandingkan usaha mereka yang diwakili oleh densus AT 88 dengan sigap dan cepat menangkap serta menghabisi para terduga aksi terror. Dari terbunuhnya DR. Azhari sampai kasus terakhir Siyono.

Ada beberapa kemungkinan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul, pertama, ini adalah proyek besar bagi Polri / TNI untuk meraup dana yang cukup besar dengan dalih memerangi terorisme. Sedangkan kemungkinan yang kedua adalah Santoso hanya sebagai batu loncatan untuk mendapatkan target utama yang menjadi musuh besar dalam kasus terorisme di Indonesia. (Bz)

%d blogger menyukai ini: