Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, Internasional, News Presiden Jokowi Berbagi Cara ke Kanselir Jerman Untuk Tangani Terorisme

Presiden Jokowi Berbagi Cara ke Kanselir Jerman Untuk Tangani Terorisme

Sketsanews.com – Salah satu isu yang dibahas dalam pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Kanselir Jerman Angela Merkel adalah terorisme. Merkel berharap penguatan kerja sama dengan Indonesia untuk menangkal terorisme.

“Kami melihat dari semua negara, Indonesia, Eropa, Jerman cukup banyak orang pergi ke Suriah dan di sana mendapat pendidikan terorisme. Jadi kita harus bekerja sama untuk melawan perkembangan itu,” ucap Kanselir Merkel dalam jumpa pers bersama dengan Presiden Jokowi di kantor Kanselir Jerman, Berlin. Seperti diberitakan detik, Senin (18/4/2016).

Foto: Laily Rachev/Setpres.
Foto: Laily Rachev/Setpres.

Menurut Merkel, Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, namun sistem negaranya mampu mencegah perkembangan terorisme termasuk konflik-konflik sosial.

“Indonesia berpenduduk 250 juta dengan 17 ribu pulau, itu tugas berat untuk mengembangkan negara. Saya kagum dengan apa yang tercapai di Indonesia, tentu ada banyak hal yang bisa dibahas bersama,” ujarnya.

Jumpa pers bersama Presiden Jokowi dan Kanselir Jerman Angela Merkel (Foto: M Iqbal/detikcom)

Sementara itu, Presiden Jokowi mengatakan dalam pertemuan tertutup bersama Merkel, dirinya berbagi pengalaman tentang cara Indonesia menghadapi terorisme dengan menggunakan dua pendekatan.

“Ada dua pendekatan penting yang kita lakukan, yaitu hard power dengan penegakan hukum dan soft power dengan pendekatan agama dan budaya,” terang Jokowi.

“Kalau kombinasi dua itu dilakukan, saya percaya bahwa penanganan terorisme akan lebih baik dan komprehensif,” imbuhnya.

Salah seorang wartawan di Jerman, dalam jumpa pers kemudian menanyakan kepada Jokowi mengenai masih eksisnya gerakan radikal atau teroris di Indonesia, padahal negara muslim terbesar di dunia.

“Memang hampir lebih dari 99 persen penduduk kami Islam moderat, Islam yang toleran, Islam yang modern. Tetapi kalau ada angka yang jumlahnya sangat kecil radikal yang jadi teroris, saya kira di negara manapun itu ada,” jawab Jokowi.

“Yang penting bagaimana melakukan pendekatan menangani sehingga masalahnya tidak merugikan negara, tidak merugikan rakyat, itu paling penting,” imbuh Jokowi. (An)

%d blogger menyukai ini: