Sketsa News
Home Berita Terkini, Citizen-Jurnalism, News Skandal Buntut Haji dari Podomoro

Skandal Buntut Haji dari Podomoro

Sketsanews.com – “Kepulangan dari haji, Mukri semakin bertingkah, dan mulai mengajak warga dalam berbagai kesempatan untuk mau menerima penggusuran,” ujar Linda yang akhirnya tahu jika keberangkatan ke Tanah Suci sebagai bagian dari “bayaran” dari Pluit City untuk bisa membujuk masyarakat agar mau pindah.

Kemarahan Linda, warga RW 11 Kelurahan Muara Angke Jakarta Utara, memuncak ketika rombongan wartawan tiba di lokasi titik pertemuan, Kantor RW 11, sebelum menuju ke lokasi reklamasi yang sedang dikerjakan PT. Muara Wiwesa Mandiri.

Linda marah karena penggusuran yang sudah dilakukan di Kampung Pasar Ikan Luar Batang, dipastikan akan merembet hingga ke kampungnya, ” Pastilah Mas, kami sudah mendengar Ahok pernah katakan akan menggusur seluruh wilayah Sunda Kelapa,” ujar Linda.

Bahkan kebencian Linda terkait dengan terbaginya sebuah kelompok yang muncul dan mendukung dilakukannya penggusuran kepada seluruh wilayah Muara Angke.

Yang membuat Linda marah ketika Imam Mesjid Tobiq Mubarrok, Tubagus Mukri ternyata menjadi salah satu “pengkhianat” warga agar mau menerima penggusuran.

“Saya mengundang beliau (Mukri) untuk membantu memberikan pengajian di hajatan kami,” ujar Linda kepada pembawaberita.com

Usai pengajian Mukri menyampaikan kepada keluarga Linda jika dirinya mendapat bantuan dari Perusahaan Pengembang Pluit City, untuk berangka naik haji bersama bebberapa orang.

“Kepulangan dari haji, Mukri semakin bertingkah, dan mulai mengajak warga dalam berbagai kesempatan untuk mau menerima penggusuran,” ujar Linda yang akhirnya tahu jika keberangkatan ke Tanah Suci sebagai bagian dari “bayaran” dari Pluit City untuk bisa membujuk masyarakat agar mau pindah.

Bahkan lebih sadisnya lagi menurut Linda, Mukri menyampaikan kepada pihak Pluit City jika dirinya mewakili pihak nelayan untuk mendapatkan bantuan buat mereka, “saya tidak tahu pasti, namun dengarnya beliau menerima uang Rp. 200 juta,” ujar Linda.

Akibatnya Mukri harus memberikan keterangan ketika warga memaksa dirinya untuk menghadapi sidang warga di Kantor RW 11, namu dalam sidang Mukri lebih banyak diam.

Menurut Haji Hasan, salah satu tokoh Muara Angke, dirinya memang mendengar persoalan Mukri, namun Haji Hasan tidak begitu mengetahui pastinya, baik itu jumlah uang, maupun pengakuan Mukri.

“Yang pasti saat ini memang Mukri sudah sangat jarang berkumpul lagi dengan teman-temannya bahkan setiap jumat sudah tidak memberikan khotbah,” ujar Hasan kepada Pembawaberita.com

Saat ini Haji Hasan sedang mengalami kelesuan bisnisnya dalam bidang pembuatan furniture dari bahan bekas, ” bahan yang saya pakai biasanya bahan dari kayu bekas.

Saat ini Haji Hasan sendiri masih berusaha untuk mencoba mencari lokasi baru, menurutnya walaupun memiliki dua rumah, di RW 21 dan RW 1 namun keduanya dipastikan akan terkena gusuran, mengingat lokasi yang akan di gusur masih masuk ke wilayahnya.

Muara Angke sendiri saat ini sedang di “kepung” dari segala penjuru oleh perumahan orang kaya yang dikuasai oleh etnis Tionghoa.

“Perumahan yang anda tadi masuk sebelum jembatan, dulunya juga dihuni oleh warga pribumi namun entah dengan alasan apa, tiba-tiba semua rumah disitu langsung digusur dan ditempati oleh orang cina,” ujar Haji Hasan.

Bahkan apartemen yang berada di sebelah Utara Muara Angke, dulunya juga digusur dengan alasan tanah milik negara, Hasan tidak tahu sulap model apa yang dipakai hingga bisa dikuasai oleh pengembang Taipan.

Saat ini para pengembang tersebut ditengarai berada dibelakang penggusuran yang akan dilakukan di sekuruh wilayah Sunda Kelapa.

“Sampai saat ini, semua yang diberangkatkan haji oleh Pluit City, dan dilepas oleh Ahok, sedang berupaya mempengaruhi warga, namun jangankan terbujuk yang ada malah perlawanan bertambah keras,” ujar Linda.

Hasan sendiri merasa jika saat ini para pengembang sedang mematikan usaha-usaha kecil milik pribumi, dengan cara menggusur beberapa daerah yang padat penduduk, dan juga melempar isyu akan segera melakukan penggusuran.

“Pelanggan saya yang paling banyak berasal dari wilayah Pasar Ikan, namun saat ini bukan hanya warga pasar ikan yang sudah hilang, beberapa pelanggannya dari Luar Batang juga mulai resah, dan tidak berani melakukan pemesanan,” ujar Hasan sambil memperlihatkan tumpukan bahan-bahan kayu yang berasal dari pintu dan jendela yang berserakan di halaman depan rumahnya.

Hasan berencana untuk pindah ke daerah Serang atau wilayah yang tidak terkena gusuran, “mungkin agak jauh dari Ibukota, karena selurh Ibukota, khususnya wilayah padat penduduk dipastikan akan terkena gusuran,” ujar Hasan yang meyakini selama Ahok menjadi Gubernur pasti setiap saat akan ada gusuran. (PembawaBerita/Jall)

(in)

%d blogger menyukai ini: