Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News, Opini Kemana Pemimpin Islam?

Kemana Pemimpin Islam?

pemimpin-yang-berilmu-ilustrasi-_151214161912-903

Oleh: Rudi Agung

Sketsanews.com – Thomas Raffles, Letnan Gubernur EIC yang memerintah era 1811-1816 di Indonesia, pernah berkata,”Karena ‘Pendeta Islam’ itu begitu dihormati maka tidak sulit bagi mereka untuk mengajak rakyat agar menentang kepentingan pemerintah kolonial.”

Penjajah mengakui begitu dahsyatnya peran ulama dan agamawan Muslim dalam merebut kemerdekaan bangsa ini. Sejarah mencatat panjang lebar perjuangan ulama, santri, dan masyarakat Muslim dalam melawan penjajah kolonial. Itu dulu. Ya, dulu sekali.

Kini, semakin banyak kerisauan masyarakat lantaran seringnya pembunuhan karakter terhadap Islam, pelecehan Nabi, sampai Alquran. Bahkan, mengarah pada pemenjaraan dan pembunuhan aktivis Islam hanya karena diduga teroris. Sudah 121 nyawa meregang sia. Terakhir pembunuhan keji terhadap Siyono.

Tentunya, pedih sekali hati umat Islam ini. Lebih pedih lagi ketika membandingkan perlakuan sikap aparat hukum negeri ini terhadap koruptor hitam kelas kakap yang buron belasan tahun, Samadikun. Sang pencoleng uang rakyat itu justru dijemput, bak tamu agung. Lalu masih banyak lagi kebijakan pusat dan DKI Jakarta yang sungguh menyakitkan masyarakat dan umat Islam negeri ini.

Di DKI, misalnya. Dari gusur menggusur rumah dan masjid, serapan anggaran rendah, kemacetan luar biasa, banjir besar yang berkepanjangan, dan setumpuk masalah lain. Selesainya, cukup menyalahkan anak buah atau kambing hitam lainnya.

Karakter Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau dikenal Ahok ini sangat sering menyalahkan dan berkata kasar. Rasanya hal semacam ini mengingatkan kita pada kutipan esai almarhum Mahbub Djunaidi bertajuk: Kepemimpinan Baru, Nah! yang dirilis Tempo 8 Desember 1973.

”Pimpinan yang dungu, entah setan mana yang mengangkat dia di sana, gemar mencari kesalahan, menghardik dan bergunjing, perutnya sering mulas dan terlibat cekcok dengan istri.”

Belum lagi dugaan kasusnya, sampai-sampai logika hukum dijungkirbalikan dengan alibi mencari niat jahat. Lantas, muncul opini: Pemimpin kafir tidak apa-apa, asal bla bla bla. Saya Muslim, pilih Ahok.

Kemudian, umat dan pribumi dituding SARA dan rasis ketika bersikap resisten menyikapi hal tersebut. Ah, sempurna sekali playing victim itu. Rakyat dan umat diadu. Miris? Pasti! Lalu, apakah kita harus salahkan mereka, Ahok dan pendukungnya serta penyebar tagline pemimpin kafir tadi? Eitss, tunggu dulu. Jangan main salah-salahkan dulu.

Mari simak kutipan Efesus 4:29 – Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia.

Dalam Yohanes 8:44 – Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

Ahok adalah bekas aktivis gereja belasan tahun. Ia juga pernah menjadi ketua majlis gereja selama tiga tahun. Namun, karakter dan kebijakannya bertolak belakang dengan kitab suci agamanya sendiri. Kendati demikian, masih ada yang mendukungnya. Ini artinya masih ada nilai positif dari Ahok yang dilihat pendukungnya.

Sebaliknya, penolakan warga DKI bahkan sejumlah alim ulama tetap tidak bisa melengserkan Ahok. Aparat hukum juga tidak menjebloskannya ke penjara, meski dugaan kasusnya telanjang di depan mata. Terlepas dari itu semua dan tidak berpengaruhnya protes ulama seakan telah menandakan lemahnya power ulama masa kini.

Baru-baru ini bahkan Kapolres Tebing Tinggi AKBP Slamet Loesiono menghina ulama saat coffee morning (18/4/2016). Ia mengkerdilkan peran ulama yang dinilainya hanya pandai ngomong, tak bisa berbuat. Aliansi Umat Islam Kota Tebingtinggi pun mengajukan somasi agar Slamet meminta maaf dan dicopot.

Dalam konteks lain, fatwa-fatwa ulama juga dianggap hanya angin lalu. Ada pula tudingan terkait fatwa pesanan. Sisi lain, pejuang yang kerap berteriak jihad konstitusi juga tidak mampu merealisasikan janji interpelasinya. Baik parlemen DKI atau pusat.

Lebih jauh lagi melihat ke lapangan. Dari perbatasan Kalimantan Utara sampai kaki gunung Ceremai Jawa Barat, teramat mudah kita menyaksikan pelbagai kerusakan sosial. Banyak pula potret kesenjangan menganga yang menguras air mata.

Sebaliknya, masih banyak ustaz atau agamawan yang hidupnya bergelimang harta. Tapi, lisannya mengumandangkan ayat-ayat sederhana. Rangkaian fakta di atas seperti menjadi potret buram bola salju kegagalan strategi dakwah.

Kegagalan dakwah di masyarakat, lembaga hukum, parlemen, kalangan ulama sendiri. Bukan rahasia banyak ulama yang bermain politik. Tergiur popularitas, terlena silaunya harta, lebih membela bendera kelompoknya sendiri.

Disadari atau tidak, ada kesan lupa untuk menengok masalah keumatan. Kurang maksimal merangsek ke ranah sosial, apalagi ke lapis bawah di perbatasan dan pelosok pedesaan. Lihat saja di Jawa Barat, masih bisa kita temukan rumah berdinding bambu dan alas berlapis tanah. Tapi, rumah ustaznya berumah tembok, berkendaraan wah. Seolah dalil hanya di bibir. Ironi.

Maka, jangan salahkan mereka yang melempar opini: lebih baik pemimpin kafir bla bla bla… Barangkali, mereka telah jenuh dengan pemimpin Islam sendiri. Ingatlah: Islam tidak akan rusak difitnah, dihina dan dilecehkan. Tapi Islam akan rusak dengan perilaku umatnya sendiri yang tidak menerapkan kehidupan Islami.

Apalagi bila ulama masih cinta materi, takut mati. Penyakit wahn melanda bangsa ini. Menulari ulama-ulama kita. Tak lagi malu memberi tarif ceramah dari jutaan sampai puluhan juta. Asyik bersolek di media. Tapi sulit ditemui masyarakat kecil yang butuh bantuannya. Kita rindu ulama yang mengayomi, duduk membumi, tapi berani.

Ulama juga tak lagi berada di atas penguasa. Sebaliknya, malah semakin halus dan sopan-santun pada penguasa, bagai tuntutan sang menantu kepada mertua. Andai tegas dan berani, tapi keberaniannya tak diperhitungkan. Penguasa tetap saja dzalim.

Memang, perjalanan sejarah bangsa ini Islam kerap dipinggirkan. Padahal, umat Islam dan peran ulama-lah yang merebut kemerdekaan dan menjadi garda terdepan penjaga NKRI. Dan kondisi hari ini lebih menyedihkan: peran ulama makin tenggelam. Ironinya, justru dari ulama sendiri yang tergiur duniawi. Semua ini sudah sunatullah.

Rasanya inilah salah satu makar Allah di akhir zaman. Namun, bukan berarti ini sebuah alibi bagi kita untuk diam dan hanya menyalahkan. Rasanya lebih elok buat kita memeriksa dari dalam. Memeriksa kualitas tauhid, akhlak dan moral umat. Memeriksa dan menyeleksi ulama akhirat dan ulama suu. Memeriksa strategi dakwah bil hal, bil qalam, bil lisan.

Fenomena sosial, kedzaliman penguasa, dan kepongahan Ahok sejatinya menjadi ibrah bagi bangsa ini. Bukan untuk menjatuhkan. Melainkan bisa dijadikan bahan kontemplasi mendalam merevitalisasi peran ulama dan merumuskan strategi dakwah yang baru demi menjaga keharmonisan dan kemajuan Indonesia kemudian hari.

Semisal menguatkan dakwah bil qalam. Teringat obrolan dengan bekas Pimred Majalah Sabili, Ustaz Herry Nurdi beberapa tahun lalu. ”Seharusnya kita sudah memiliki media Islam besar berskala nasional, tapi gagal.” Peran media sangat vital mencerdaskan umat. Mengembalikan ruh Islam, mereparasi akhlak bangsa ini.

Tauhid, moral, dan akhlak anak-anak bangsa semakin jatuh ke dasar lautan. Umat kehilangan induk. Entah kemana pemimpin Islam. Padahal Indonesia sudah diambang kehancuran.

Umat butuh pemimpin yang kuat, berpengaruh dan menyatukan seluruh elemen. Bukan yang mudah menjatuhkan pihak lain atau klaim kebenaran pihak sendiri. Kita butuh pemimpin Islam yang memiliki akhlak mulia dan tidak mencintai dunia.

Semoga keresahan ulama saat ini tetap seperti dulu, yakni resah terhadap masa depan kualitas umat. Bukan keresahan terhadap kekayaan, anak istri, popularitas, atau masa depan ponpes dan majlisnya. Jika ulama masih memiliki resah terhadap fatamorgana duniawi maka keresahan itu patut untuk ditertawakan.

Mari memeriksa dari dalam, merenungi salah satu wasiat Imam Ghazali: rusaknya masyarakat atau peradaban karena rusaknya ulama. Allahumma badid samlahum. Allahummarham umatan Muhammad. Allahummaslih umatan Muhammad. Allahumma shalli alaa Muhammad. (Zu/Republika)

%d blogger menyukai ini: