Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Yasonna Akui Undang Kosim Alami Kekerasan Tapi Bukan Penyebab Kematiannya

Yasonna Akui Undang Kosim Alami Kekerasan Tapi Bukan Penyebab Kematiannya

Sketsanews.com – Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat, I Wayan Sukerta, mengakui ada bekas kekerasan di tubuh Undang Kosim (54), narapidana yang tewas di sel isolasi Lembaga Pemasyarakatan Banceuy.

Namun menurutnya, kekerasan tersebut bukan penyebab kematian Undang. Kekerasan dilakukan petugas lapas ketika memeriksa Undang setelah ia dicurigai menerima titipan benda yang dicurigai narkoba.

Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly (kiri) berdialog dengan para tahanan saat menyambangi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banceuy di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Jawa Barat pascakerusuhan yang terjadi di lapas tersebut, Sabtu (23/4/2016).
Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly (kiri) berdialog dengan para tahanan saat menyambangi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banceuy di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Jawa Barat pascakerusuhan yang terjadi di lapas tersebut, Sabtu (23/4/2016).

“Ya memang ada kekerasan, di antaranya di paha, tapi itu bukan penyebab meninggal,” ujar Sukerta ketika ditemui di Gedung Ditjen Imigrasi, Jakarta. Seperti dilansir dari Tribunnews, Senin (25/4/2016).

Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly juga mengakui petugas sempat melakukan kekerasan terhadap Undang. Ia memastikan semua pelanggaran petugas lapas akan ditindak tegas.

Pihaknya akan melakukan pemeriksaan internal, setelah petugas lapas menjalani pemeriksaan di kepolisian.

“Saya juga sudah telepon Kapolres (Kopolrestabes Bandung) dan Kapolda (Kapolda Jabar), untuk lakukan (penyelidikan) sesuai prosedur yang benar,” terangnya.

I Wayan Sukerta dan Yasonna untuk sementara meyakini Undang tewas akibat bunuh diri. Menurut Sukerta, pada Jumat (23/4/2016) malam, sekira pukul 22.00 WIB, Undang diketahui masih dalam kondisi sehat.

“Setiap dua jam kan dipantau. Pukul 22.00 dilihat masih ada, pukul 00.00, dicek lagi sudah menggantung,” ujarnya.

Ketika Undang ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, tali mengikat lehernya. Napi tersebut memanfaatkan tali katun di celananya untuk gantung diri. Tali diikatkan ke jeruji di pintu sel.

“Tali celana, semacam celana kolor itu kan ada talinya, panjang. Itu lah yang dipakai untuk gantung diri,” terangnya.

Kaki Undang memang masih menapak di lantai. Namun menurut I Wayan untuk seseorang yang berniat bunuh diri, tali untuk menjerat leher tidak harus diikat di tempat tinggi.

Ia memastikan kasus itu akan ditangani sesuai hukum yang berlaku. Pihaknya mempersilakan polisi untuk menyelidiki tewasnya Undang.

Namun para petugas yang memeriksa Undang belum menjalani pemeriksaan internal. Pasalnya mereka masih menjalani pemeriksaan di kepolisian.

Yasonna Laoly mengaku yakin tewasnya Undang bukan rekayasa.

“Digantung waktu sudah mati dan waktu masih hidup berbeda. Kalau masih hidup air maninya keluar,” kata Yasonna.

Ia mengatakan saat Undang ditemukan tewas tergantung, petugas menemukan sperma di alat kelamimnya. Hal itu lazim ditemukan pada seseorang yang gantung diri.

Ia menduga Undang yang tengah mengurus pembebasan bersyarat (PB) itu frustasi karena tersangkut kasus narkoba. Oleh karena itu ia memutuskan untuk gantung diri di ruang isolasi. (An)

%d blogger menyukai ini: