Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Lima Negara Ini Paling Berbahaya bagi Jurnalis

Lima Negara Ini Paling Berbahaya bagi Jurnalis

395540_620

Sketsanews.com – Hari Kebebasan Pers Dunia boleh saja dirayakan dengan gegap gempita di hampir seluruh penjuru bumi setelah berhasil memperjuangkan kebebasan media dan perlindungan terhadap para jurnalis. Namun masih ada di beberapa bagian dunia yang membatasi kebebasan tersebut.

Data yang dirilis Reporters Without Borders atau dikenal dengan sebutan Reporters Sans Frontieres (RSF), pada 20 April 2016, berdasarkan bukti-bukti yang dimiliki World Press Freedom Index, menunjukkan sejumlah negara tersebut masih mengekang tugas para jurnalis. Negara-negara itu antara lain:

Rusia
Rusia menempati urutan ke-148. Negara ini melakukan kontrol kuat terhadap tugas jurnalistik, bahkan pernah menyerang jurnalis dalam beberapa tahun terakhir. Igor Domnikov, editor untuk koran Rusia, Novaya Gazeta, diserang dan belakangan tewas akibat luka-luka pada 2002.

Pada Maret 2016, menurut laporan BBC, sekelompok wartawan dilaporkan dipukuli saat melakukan perjalanan jurnalistik ke Chechnya.

Turki
Negeri ini menempati posisi ke-151 dalam daftar. Otoritas Turki telah menuntut lebih dari 1.000 jurnalis ke pengadilan karena dituding menghina presiden. Selain itu, kata RSF, Turki menahan lebih dari 100 wartawan.

Contoh cara Turki membungkam kebebasan pers adalah dengan ancaman polisi terhadap para jurnalis. Mereka menyerbu kantor kelompok media tersebut lantaran dituding sebagai oposisi terhadap Presiden Tayyip Recep Erdogan pada Oktober 2015, menjelang pemilihan umum.

Menurut RSF, penyerbuan itu juga terkait dengan dugaan keuangan kelompok teroris, propaganda, dan terorisme kepada pemerintah.

“Kaum jurnalis dilecehkan, banyak yang dituduh menghina presiden dan jaringan Internet disensor oleh otoritas,” kata RSF.

Mesir
Negeri Piramida ini menempati urutan ke-159 dalam daftar. Mesir memiliki sejarah panjang dalam pelecehan dan penahanan jurnalis. Menurut Komite Perlindungan Jurnalis, Mesir adalah negara paling buruk kedua di dunia dalam hal penahanan jurnalis.

“Di bawah kepemimpinan Jenderal Abdel Fattah el-Sisi, negeri ini memperketat kebebasan pers dan dukungan terhadap gerakan organisasi terlarang Al-Ikhwan al-Muslimun,” tulis RSF.

Beberapa wartawan Aljazeera juga pernah ditahan pada 2014 karena dituding membantu aktivis Al-Ikhwan. Sebab, organisasi ini dianggap sebagai sarang teroris oleh pemerintahan El-Sisi.

Cina
Cina memiliki skor tinggi dalam penyiksaan jurnalis. Negeri ini menempati posisi ke-176 dalam daftar. “Cina banyak membuat pelarangan terhadap tugas jurnalis,” ujar RSF. Beberapa pelarangan atau setidaknya pembungkaman kebebasan itu di antaranya dalam bentuk kontrol penulisan di akun Twitter.

Eritrea
Negara di Afrika Timur ini menempati peringkat terendah, 180, dalam delapan tahun terakhir. Sedikitnya 15 wartawan ditahan dan diisolasi tanpa dapat berkomunikasi dengan siapa pun. Reporters Without Borders menjuluki Presiden Eritera Issayas Afeworki sebagai predator kebebasan pers di negaranya.

Jurnalis Swedia berdarah Eritrea, Dawit Issak, ditahan dan sama sekali tidak dapat berkomunikasi dengan siapa pun. Parahnya lagi, ia ditahan sejak 2001 tanpa ada proses hukum. Dia bahkan tidak diberi pengacara dan tidak bertemu dengan keluarganya selama 13 tahun.

Satu-satunya opsi bagi rakyat Eritrea mendapatkan informasi adalah dari televisi milik pemerintah, Eri-Tv. Tak ada tempat bagi munculnya berita dari luar negeri.  (Br/Tempo)

%d blogger menyukai ini: