Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News Pemerkosaan Yang Berujung Kematian

Pemerkosaan Yang Berujung Kematian

Rekonstruksi dilakukan oleh 12 tersangka kasus pemerkosaan dan pembunuhan siswi SMP Yuyun di Mapolres Rejang Lebong, Bengkulu.
Rekonstruksi dilakukan oleh 12 tersangka kasus pemerkosaan dan pembunuhan siswi SMP Yuyun di Mapolres Rejang Lebong, Bengkulu.

Sketsanews.com – Pemerkosaan disertai pembunuhan yang menimpa pelajar SMP bernama Yuyun (14), warga Dusun 5 Desa Kasie Kasubun Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT), Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu akan terus terulang selama negara tidak tegas melarang produksi, distribusi, dan konsumsi Miras (Minuman Keras).

Pengaruh Miras diyakini memicu ke-14 pelaku melakukan tindakan yang luar biasa biadab, di luar akal sehat, dan menginjak-injak rasa kemanusian kita. Apalagi sebagian pelaku masih di bawah umur.

“Kalau sudah di bawah pengaruh Miras, akal sehat dan nurani hilang. Makanya jangan heran kalau ada anak tega bunuh orang tua atau orang tua tega bunuh anak, karena pengaruh Miras. Bayangkan, di kasus Yuyun ini, ada pelaku anak di bawah umur yang tega memerkosa berkali-kali hingga korbannya meninggal dan mayatnya dibuang ke jurang. Kalau tidak di bawah pengaruh Miras, mereka tidak akan sebiadab itu. Saya tidak tahu, sampai kapan kita semua sadar bahwa Miras itu bencana,” tukas Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Miras (Genam) Fahira Idris, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (03/05/2016).

Menurut Fahira, secara akal sehat, anak di bawah umur tidak akan punya pikiran dan keberanian untuk membunuh, tetapi saat dibawah pengaruh alkohol naluri melakukan kejahatan muncul. Penelitian yang pernah dilakukan Pusat Kajian Kriminologi UI dan Genam tahun 2013 terhadap 43 responden narapidana anak, menemukan fakta bahwa dari 43 responden, 15 diantaranya minum alkohol saat melakukan pembunuhan.

“Untuk kasus Yuyun, jujur saya menyesal karena terlewat dan baru tahu beberapa hari lalu. Kasus ini bukan hanya soal kekerasan terhadap perempuan tetapi juga soal begitu mudahnya Miras di dapat di negeri ini. Perempuan selalu menjadi obyek kekerasan para pemabuk. Itulah salah satu sebab kenapa sekarang Miras dilarang total di Papua,” kata Senator Jakarta ini.

Fahira mengungkapkan, kasus perkosaan anak di bawah umur oleh pelaku di bawah pengaruh alkohol sudah berkali-kali terjadi. Bahkan ada korban yang dicecoki Miras dulu oleh pelaku sebelum diperkosa dan harus meregang nyawa akibat terlalu banyak Miras yang masuk ke tubuhnya.

“Kalau kasus Yuyun ini tidak bisa membuka mata DPR dan Pemerintah untuk segera menuntaskan RUU Larang Miras, kita tidak mengerti lagi harus menyadarkan dengan cara apa. Saya mendesak Pansus segera rampungkan RUU Larangan Miras pada Juni 2016 ini sesuai tenggat yang mereka janjikan. Jangan sampai ada Yuyun-Yuyun lain,” ujar Wakil Ketua Komite III DPD ini.

Komite III DPD tugasnya mengawasi kerja pemerintah terhadap perlindungan anak akan mengawal persidangan kasus Yuyun hingga tuntas. Pengawalan kasus ini untuk memastikan semua pelaku mendapat hukuman yang setimpal sesuai dengan perbuatan biadab yang mereka lakukan.

“Komite III DPD akan memastikan para pelaku dijerat dengan pasal berlapis, baik dijerat Pasal 76 d Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman 15 tahun penjara dan Pasal 338 KUHP tentang menghilangkan nyawa orang, dengan ancaman 15 tahun penjara,” tegas Fahira.

Selain itu, Komite III DPD juga akan mendesak para pengambil kebijakan di Bengkulu mulai dari Gubernur, Bupati Rejang Lebong, dan DPRD-nya segera merumuskan solusi agar kasus Yuyun tidak terjadi lagi dan peredaran Miras bisa dihentikan segera.

“Pimimpin di daerah itu harus tanggungjawab. Ini akibat tidak sensitifnya mereka melihat potensi-potensi penyakit sosial yang ada di daerahnya. Kenapa Miras begitu mudah di dapat di daerah tersebut bahkan di konsumsi anak di bawah umur?,” tanya Fahira.

Sebagaimana diketahui, pelajar SMP bernama Yuyun (14), warga Dusun 5 Desa Kasie Kasubun Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT), Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu diperkosa 14 orang setelah para pelaku ini minum minuman keras jenis tuak.

Sidang lanjutan perkara pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun, siswi SMP di Rejang Lebong, Bengkulu, memasuki tahap pleidoi hari ini, Rabu, 4 Mei 2016.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Rabu (4/5/2016), ketujuh terdakwa akan menyampaikan pembelaan setelah dituntut 10 tahun penjara, yang dibacakan dalam persidangan sebelumnya.

Sementara lima terdakwa lainnya masih menjalani proses pemberkasan. Tuntutan 10 tahun penjara dinilai tidak setimpal dengan perbuatan yang dilakukan para terdakwa.

Keluarga besar, sahabat, dan para guru korban, kecewa dengan tuntutan ini. Karena tak hanya memerkosa, para pelaku juga telah merenggut nyawa korban.

Ketujuh terdakwa bersama lima tersangka lainnya, terlibat pemerkosaan dan pembunuhan seorang siswi SMP di Padang Ulak, Tanding, Rejang Lebong, Bengkulu.

Selain memperkosa dan membunuh korbannya, para pelaku juga membuang jenazah korban ke dasar jurang kebun Dusun Empat, di kawasan Padang Ulak Tanding. Jenazah korban baru ditemukan warga dan keluarga empat hari setelah dilaporkan hilang.

Dalam kasus ini, dua tersangka yang masih buron sudah diketahui identitas dan persembunyiannya. Namun masih dalam perburuan polisi.

 

Terkait tragedi Yuyun tersebut, Sekretaris Nasional Perempuan Mahardhika, Mutiara Ika Pratiwi menyebut akar dari pelecehan yang kerap menimpa perempuan atau anak perempuan terjadi akibat budaya patriarki yang mendarah daging di Indonesia.

Ika menjelaskan, pola pikir masyarakat yang tumbuh dengan budaya tersebut cenderung menganggap perempuan sebagai objek yang tak punya kuasa atas diri sendiri.

“Sumbernya adalah budaya patriarki yang melihat perempuan tidak punya kontrol kuasa atas tubuhnya dan objek seksual,” ucap Ika saat diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 7 Mei 2016.

Ia mengutip data Komisi Nasional Perempuan terkait kasus pelecehan seksual yang terjadi di Indonesia, bahwa setiap tahunnya angka tindak kejahatan tersebut semakin meningkat.

Ika juga menilai pemerintah terlambat untuk menyadari pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak merupakan kejahatan luar biasa. Bahkan, sejauh ini, belum ada upaya konkret pemerintah untuk menyusun strategi pencegahan.

“Kita sebenarnya terlambat menyatakannya pemerkosaan sebagai kejahatan luar biasa baru tahun ini. Catatan Komnas Perempuan, sudah berkali-kali mencatat kasus pemerkosaan dengan banyak orang. Negara masih represif dan catatannya setiap tahun bertambah,” ujar Ika.

Lebih lanjut Ika menerangkan, Perempuan Mahardhika sebagai organisasi pembela hak perempuan sering mengadakan bedah kasus kekerasan seksual dengan melibatkan korbannya. Untuk itu, ia pun menyerukan perlawanan terhadap apa yang menimpa perempuan-perempuan nahas di Tanah Air.

Hal tersebut bertujuan untuk mengajak segenap aktivis perempuan memerangi tindak asusila tersebut.

“Kami dari Perempuan Mahardika melakukan diskusi bedah kasus tentang kekerasan seksual. Saat itu anggota kami bahkan jadi korban kekerasan seksual. Kita sedang membangun relawan Jakarta melawan kejahatan seksual,” kata Sekretaris Nasional Perempuan Mahardhika tersebut.

Analisa

Kasus Pemerkosaan Yuyun yang berujung kematian, ternyata mendapat sorotan berbagai pihak di Tanah Air. Pelakunya berjumlah 14 remaja di bawah umur, yang diduga usai menenggak minuman keras. Mereka kemudian membuang jenazah Yuyun di jurang sedalam lima meter.

Pengaruh Miras diyakini memicu ke-14 pelaku melakukan tindakan yang luar biasa biadab, di luar akal sehat, dan menginjak-injak rasa kemanusian kita. Apalagi sebagian pelaku masih di bawah umur.

Bayangkan, di kasus Yuyun ini, ada pelaku anak di bawah umur yang tega memerkosa berkali-kali hingga korbannya meninggal dan mayatnya dibuang ke jurang. Kalau tidak di bawah pengaruh Miras, mereka tidak akan sebiadab itu.

secara akal sehat, anak di bawah umur tidak akan punya pikiran dan keberanian untuk membunuh, tetapi saat dibawah pengaruh alkohol naluri melakukan kejahatan muncul. Kasus ini bukan hanya soal kekerasan terhadap perempuan tetapi juga soal begitu mudahnya Miras di dapat di negeri ini. Perempuan selalu menjadi obyek kekerasan para pemabuk.

Kasus perkosaan anak di bawah umur oleh pelaku yang terpengaruh alkohol sudah berkali-kali terjadi. Bahkan ada korban yang dicecoki Miras dulu oleh pelaku sebelum diperkosa dan harus meregang nyawa akibat terlalu banyak Miras yang masuk ke tubuhnya.

Dan sudak waktunya pemerintah melarang peredaran miras untuk menghindari kasus pemerkosaan yang lebih parah lagi dan memberi hukuman yang setimpal untuk para pelaku.

(An)

%d blogger menyukai ini: