Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Kapan Teror Mental Ini Berakhir?

Kapan Teror Mental Ini Berakhir?

sex

Sketsanews.com – Beberapa bulan terakhir ini, media banyak disuguhi oleh berita tentang pemerkosaan dan pembunuhan. Sayangnya yang dijadikan korban adalah anak-anak di bawah umur.

Maraknya kasus pemerkosaan tidak akan pernah lepas dari kasus pelecehan seksual, sebagaimana beberapa tahun yang lalu, kasus pelecehan seksual terjadi di sebuah lembaga pendidikan elit yaitu JIS (Jakarta International School).

Masih segar dalam ingatan kita kasus pelecehan seksual ini pun dilakukan oleh seorang yang menjadi panutan oleh para kawula muda yaitu Saiful Jamil. Lantas sebenarnya apa yang dimaksud dengan pelecehan seksual.

Pelecehan seksual terhadap anak adalah suatu bentuk penyiksaan anak di mana orang dewasa atau remaja yang lebih tua menggunakan anak untuk rangsangan seksual. Bentuk pelecehan seksual anak termasuk meminta atau menekan seorang anak untuk melakukan aktivitas seksual (terlepas dari hasilnya), memberikan paparan yang tidak senonoh dari alat kelamin untuk anak, menampilkan pornografi untuk anak, melakukan hubungan seksual terhadap anak-anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak (kecuali dalam konteks non-seksual tertentu seperti pemeriksaan medis), melihat alat kelamin anak tanpa kontak fisik (kecuali dalam konteks non-seksual seperti pemeriksaan medis), atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak.

Dan yang lebih ngerinya hari ini, para pelaku tindak hanya cukup melakukan pelecehan seksual dalam bentuk pemerkosaan tetapi juga dengan melakukan pembunuhan. Pelaku tidak hanya satu orang namun mereka melakukan secara beramai-ramai. Sebagaimana apa yang menimpa terhadap seorang gadis bernama Yuyun.

Kasus pemerkosaan yang menimpa siswi SMP di Bengkulu ini telah memberikan pukulan yang berat bagi banyak pihak. Pihak kepolisian yang menangani kasus ini sendiri pun masih terus melakukan pengembangan. Dalam kasus ini, para tersangka yang mana sudah didakwa berjumlah 14 orang.

Serupa dengan kasus Yuyun, seorang gadis Manado berinisial SC diperkosa secara brutal 19 pria. Kasus pemerkosaan gadis Manado ini berawal saat dia dijemput dua teman perempuannya Y dan M. Keduanya merupakan teman sejak kecil.

Di Gorontalo, kasus pemerkosaan yang menimpa SC juga membuat Polda Gorontalo perlu melakukan klarifikasi. Sebab beredar kabar bahwa dari 19 orang yang dilaporkan, dua di antaranya disebut oknum anggota Polda Gorontalo. Sehingga, kasus yang sebelumnya sudah ditangani Polda Sulawesi Utara (Sulut) dilimpahkan ke Polda Gorontalo.

Seperti dikutip Gorontalo Post, Kepala Bidang Humas Polda Gorontalo AKBP S Bagus Santoso mengemukakan, pihaknya sudah mengkonfirmasi ke bagian PPA Dit Reskrimum berkaitan informasi dugaan pemerkosaan oleh oknum anggota Polda Gorontalo.

“Sesuai informasi dari Dit Reskrimum Polda Gorontalo, sampai saat ini kami belum pernah menerima laporan dari korban atau pihak-pihak tertentu. Dan juga belum pernah menerima pelimpahan kasus tersebut dari Polda Sulut,” tegas Bagus Santoso.

Dengan banyaknya kasus pemerkosaan dan pembunuhan ini telah mampu menyita perhatian public, pertanyaan yang muncul adalah apa yang mendasari atau melatarbelakangi para pelaku ini melakukan pemerkosaan yang sekaligus dengan aksi pembunuhan.

Hal itu telah menjadi perdebatan oleh para ahli dalam menyikapi faktor yang menyebabkan para pelaku melakukan aksi sadis tersebut. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol Agus Rianto, yang hadir dalam program acara talkshow di salah satu radio swasta di Jakarta, Sabtu (7/5/2016), memaparkan soal pengaruh minuman keras dalam kasus ini. “Faktor yang utama minuman keras. Minuman keras itu bukan dari pabrik. Minuman itu sejenis tuak. Itulah faktor pemicu utama (tindak kejahatan ini),” ungkap Agus Rianto.

Berbeda halnya dengan Ketua Umum Serikat Sarjana Komunikasi Indonesia, Yuliandre Darwis, pun turut menyampaikan sejumlah pandangannya terkait kasus ini. Berbicara di sebuah acara talkshow salah satu radio swasta, Yuliandre terutama menekankan keberadaan unsur pornografi yang mendorong adanya niat jahat para tersangka. “Kasus Yuyun bukan hanya (karena faktor) minuman keras, namun ada unsur video pornografi,” kata Yuliandre, Sabtu (7/5/2016), di Jakarta.

Ahli Neuropsikologi atau psikologi syaraf, Ihsan Gumilang, mengungkapkan pandangannya soal kekerasan seksual disertai pembunuhan terhadap seorang siswi SMP bernama Yuyun (14). Menurut Ihsan, perbuatan keji ke-14 pelaku itu bukan disebabkan faktor minuman keras semata. Menurutnya justru, otak ke-14 pemuda tersebut sebelumnya sudah kerap diisi konten-konten porno (pornografi).

“Dalam pemberitaan banyak yang mengatakan dari minuman keras (pemicunya). Coba kita tanya masing-masing pelaku, pasti banyak yang mengakses situs porno. Mereka seperti kecanduan sehingga berkeinginan untuk melampiaskannya. Miras jadi faktor sekunder. Kalau dilihat dari kacamata psikologi, orang kecanduan nonton pornografi, dia pasti cenderung melampiaskannya,” papar Ihsan, dalam diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (7/5/2016).

Sebenarnya faktor pemicu mereka melakukan aksi pemerkosaan dan pembunuhan selain apa yang disampaikan oleh para ahli tersebut, ada beberapa faktor yang penting dan paling mendasar yaitu ketidakadilannya pemerintah dan lemahnya hokum yang ada.

Sebagaimana yang tercantum dalam Undang undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 3 yang berbunyi Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Apabila pemerintah betul-betul menjalankan apa yang tercantum dalam undang undang dasarnya maka kemakmuran rakyat akan tercukupi sehingga tidak memunculkan masalah baru yakni pengangguran. Bagaimana tidak, berapa kekayaan alam yang ada di Indonesia misalnya Freeport. Jika pemerintah bisa mengambil alih kekayaan Freeport tersebut pasti bisa mencukupi kebutuhan warganya.

Sedang faktor berikutnya adalah lemahnya hokum yang ada sehingga mereka dengan leluasa melakukan pelanggaran terhadap hokum tersebut, sebagai contoh apa yang menimpa gadis Menado yang ternyata pelaku adalah oknum polisi. Apabila pemerintah tidak tegas dalam masalah hokum ini maka kasus semacam ini akan terus bermunculan.

Lantas sampai kapan ini akan berakhir, padahal kasus ini telah menimbulkan efek yang berat bagi para orang tua yang memiliki anak gadis, mereka tidak akan pernah tenang jangan-jangan akan menimpa pada anaknya. Dan ini merupakan terror yang berat bahkan lebih berat dibanding dengan apa yang dituduhkan oleh para polisi kepada para terduga teroris.

Sadarlah wahai para penguasa, ini adalah bentuk terror baru yang harus segera diatasi.

(Bz)

%d blogger menyukai ini: