Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Tanpa Peran Masyarakat, BNPT Tak Mampu Cegah Radikalisme Pro-Kekerasan

Tanpa Peran Masyarakat, BNPT Tak Mampu Cegah Radikalisme Pro-Kekerasan

bnp

Sketsanews.com – Direktur Kerjasama Regional and Multilateral Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Herry Sudradjat pihaknya menyadari betul memiliki keterbatasan untuk menangkal berkembangnya paham radikalisme pro-kekerasan tanpa melibatkan masyarakat.

Oleh karenanya pada kesempatan di Medan ini Rabu (11/05/2016) BNPT mengajak masyarakat khususnya pemuda berperan aktif dalam meningkatkan ketahanan masyarakat dari pengaruh paham radikalisme pro kekerasan.

“Itu kan terbukti dengan banyaknya warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS. Yang terpengaruh, dan itu memang terdektesi banyak sekali dan sangat mengkhawatirkan. Artinya kalau hanya BNPT yang bergerak sendiri tidak mungkin. Tentunya juga peran media dan masyarakat itu yang akan kita berdayakanlah. Mudah-mudahan ini akan berhasil. Minimal masyarakat itu bisa tahanlah terhadap pengaruh radikalisme pro kekerasan itu,” ujar Herry disela-sela kegiatan berupa workshop melibatkan pemuda dan lembaga kemasyarakatan dengan harapan pelatihan ini mampu.

Lanjut Herry ketahanan masyarakat tersebut merupakan modal utama. Ketahanan masyarakat ini bisa dilihat dari bagaimana mereka bisa memperkuat budaya-budaya lokal termasuk sikap toleransi. Selain itu, lanjut Herry tidak hanya memerlukan masyarakat yang tahan selanjutnya juga diperlukan masyarakat yang aktif.

Menurutnya lagi, penindakan terorisme tidaklah cukup untuk menyelesaikan permasalahan terorisme. Namun, diperlukan peran seluruh elemen masyarakat dalam memberantas terorisme.  “Tidak hanya Indonesia, negara yang sudah kuat intelijennya seperti Belgia, Perancis juga kebobolan. Makanya kita tidak bisa mengandalkan penindakan saja, tetapi pencegahan radikalisme itu tadi.

Sumut Rawan Disusupi Paham Radikalisme Pro Kekerasan

Direktur Kerjasama Regional and Multilateral BNPT Herry Sudradjat mengakui, Sumut mempunyai modal yang cukup besar mencegah terorisme. Sebab, Sumut memiliki masyarakat yang multi culture dan toleransi yang sudah mengakar. Tapi di lain pihak, dengan berkembangnya teknologi informasi maka sangat mudah sekali memperoleh informasi  sehingga paham radikal dari luar juga bisa lebih mudah masuk untuk kalangan muda dan orang-orang yang merasa terpinggirkan.

“Inikan kota besar dan yang terlibat terorisme itu memang ada. Artinya bukan berarti Sumut aman dari terorisme, justru tantangannya cukup besar apalagi jumlah pengguna media sosial di Sumut cukup besar, sehingga paham radikalisme yang merupakan cikal bakal terorisme lebih mudah masuk,” kata Herry kepada wartawan usai membuka Workshop Coutering Violent Extremism untuk penanggulangan terorisme, di Medan, Rabu (11/05/2016).

Dengan adanya internet dan media sosial, maka untuk mengajak atau mendorong seseorang untuk melakukan tindakan radikalisme yang dibarengi kekerasan tidak harus bertatap muka. “Untuk mendoktrin paham radikalisme kepada masyarakat yang rentan terikut atau terpengaruh secara sosial tidak harus berjumpa,  tetapi bisa melalui internet atau media sosial apalagi ada sosial media yang sulit dilacak atau tidak terdeteksi,” ungkapnya.

Selain Herry Sudrajat, hadir sebagai narasumber Ichsan Malik dari Institute Titian Perdamaian UI, Solahuddin Hartman Kepala Peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik UI, Amit Mathur dari United States Embassy.

(Bz/beritasumut)

%d blogger menyukai ini: