Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines Pancasila, Nasibmu Kini

Pancasila, Nasibmu Kini

 

BPWI9wzCIAMpUgK.jpg large

Sketsanews.com – Dunia pendidikan kita sudah keluar dari jalur. Bangsa Indonesia mempunyai dasar Negara bernama Pancasila. Namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya justru telah ditinggalkannya. Sesungguhnya penanaman nilai Pancasila itu paling efektif dilakukan di sekolah. Kondisi yang memprihatinkan terkait nasionalisme dan kebangsaan saat ini, khususnya menyangkut dasar negara tersebut. Seharusnya materi dasar negara dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Apalagi saat ini muncul sekolah internasional (global) yang belum tentu sesuai dengan bangsa Indonesia itu sendiri,

Hilangnya kebanggaan terhadap negeri sendiri semakin terlihat, seiring dengan hilangnya Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai salah satu mata pelajaran yang ada disekolah. Siswa akan merasa memiliki semangat perjuangan dan terlibat dalam perjuangan mempertahankan negara dari naungan para penjajah. Mata pelajaran tersebut dirasa sangat punya andil dalam memberikan pengetahuan dan pembelajaran terhadap sikap toleransi antar sesama warga negara dan sikap bela negara sebagai aplikasi dari sila-sila dalam Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Kala itu, siswa akan berhenti dari semua aktifitasnya ketika mendengarkan lagu kebangsaan, terlebih lagu Indonesia Raya. Polisi dan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) ketika itu pun akan marah dan memberi hukuman push up, jika mengetahui orang beraktifitas pada saat ada pengibaran bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya. Tetapi keadaan sekarang menjadi terbalik, sikap patriotisme tidak dimiliki oleh generasi sekarang, sang merah putih bukan lagi menjadi hal yang disakralkan, mental individualis cenderung dominan, yang sebenarnya bukan cerminan sikap bangsa Indonesia.

Sekolah sebagai pusat pembelajaran dan pelatihan tidak lagi menyentuh materi yang demikian. Pendidikan Moral Pancasila (PMP) tak lagi menjadi bagian dari pendidikan, lagu kebangsaan sudah tidak ”sakral” untuk didengar. Apakah ini adalah awal dari kehancuran bangsa ini?

11123740_440976646083688_802823308_n

Lunturnya Pancasila dari kehidupan Bangsa Indonesia, membawa dampak yang semakin parah karena pada saat yang bersamaan, globalisasi menyerang dengan sangat masif, hingga ke pelosok terpencil negeri ini. Selain itu juga menjadi penyebab munculnya perilaku menyimpang, kejahatan, bahkan kemerosotan moral bangsa ini yang tidak mencerminkan moral Pancasila. Justru banyak dilakukan sebagai pengaruh, beralihnya budaya barat dan pesatnya teknologi informasi yang tidak disikapi dengan positif.

Anak akan meniru atau moncontoh dari apa yang dilihat, kecenderungan anak akan meniru sesuatu yang menurut persepsinya baik. Dia juga akan memvisualisasikan kegelisahan dan melampiaskan dalam bentuk tingkah laku yang didapat dari berbagai media. Banyaknya kasus kejahatan yang akhir-akhir ini menghiasai layar pemberitaan, pelecehan seksual, intimidasi, penguasaan hak, pembunuhan, penerapan hukum yang tidak seimbang adalah merupakan dampak dari hilangnya pendidikan moral Pancasila.

Pendidikan Moral Pancasila (PMP) tak lagi menjadi bagian dari pendidikan, lagu kebangsaan sudah tidak ”sakral” untuk didengar

Mereka termakan mode, penjajahan moral bangsa yang tidak pernah disadari, hingga hari ini belum ada solusi untuk mencegahnya. Kebanggaan menggunakan budaya bangsa lain merupakan bahaya laten yang harus dihilangkan. Betapa sulitnya Bangsa Indonesia mendapatkan pengakuan dari bangsa-bangsa didunia, sebagai bangsa yang besar. Namun, lebih sulit lagi mempertahankan pengakuan sebagai bangsa yang bermartabat Haruskah pergerakan nasional dilakukan kembali seperti awal munculnya pergerakan nasional kala itu?

Pergerakan nasional sebagai awal kebangkitan nasional yang seharusnya memacu kita untuk lebih kompak dalam mempertahankan budaya bangsa, agar tidak terjadi pergeseran sikap patriotis dan cinta terhadap tanah air. Keteladanan dari generasi terdahulu termasuk guru harus semakin ditingkatkan. Yang muda harus mau belajar untuk meneruskan cita-cita perjuangan bangsa. Pendidikan Moral Pancasila seharusnya menjadi motor penggerak pergerakan nasional, yang mampu memunculkan pejuang-pejuang kecil melalui lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal.

Dengan perubahan politik di tanah air, maka tujuan pendidikan nasional dalam sistem pembentukan manusia yang dicita-citakan, menjadi terombang-ambing dan tidak sesuai. Hal itu disebabkan kurang kokohnya ideologi Pancasila dalam pendidikan nasional. Pada Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1973, memang telah dicanangkan agar pembentukan mental dan moral Pancasila dimasukkan ke dalam kurikulum dan menjadi bagian integral dari  pendidikan nasional.

Kini, dunia pendidikan Indonesia terperosok ke situasi yang tidak jelas. Konsep pendidikan moral yang tidak terkonsep dengan jelas dan tidak terukur. Pancasila yang seharusnya berada pada domain nilai dan sikap. Akhirnya hanya menjadi aspek kognitif dalam teori pendidikan dan bukan pada aspek behavioral, yakni sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Akan kemanakah pendidikan bangsa ini bermuara? Mungkinkah dunia pendidikan Indonesia akan bermuara ke laut yang akhirnya tenggelam atau bahkan ditenggelamkan? (Vi)

%d blogger menyukai ini: