Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Cerita di Balik Bebasnya Adlun Fiqri

Cerita di Balik Bebasnya Adlun Fiqri

Cerita di Balik Bebasnya Adlun Fiqri

Pengacara dan polisi sempat berdebat mengenai buku dan kaus yang disita dari Adlun.

Sketsanews.com – Penahanan Adlun Fiqri telah ditangguhkan sejak Minggu pukul 23:00 malam. Kini aktivis literasi dan rekannya Supriyadi Sawai kembali menghirup udara segar untuk sementara. Maklum, status tersangka masih melekat padanya.

Ia ditetapkan sebagai tersangka pada Jumat, 13 Mei, dengan tuduhan menyebarkan ajaran komunisme, Marxisme, dan Leninisme melalui media sosial. Setelah diciduk petugas Markas Kodim 150 di kantor Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Maluku Utara, pada Selasa malam, 10 Mei, Adlun selalu ditemani oleh Yahya Mahmud dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ternate.

Yahya Mahmud menuturkan perjuangan untuk membebaskan Adlun dilakukan sejak Rabu pagi, 11 Mei. Tepatnya pukul 08:00, Yahya dan tim Perhimpunan Pembela Masyarakat Adat Nusantara (PPMAN) bertemu dengan Adlun.

Pertemuan pertama antara Yahya dan Adlun berlangsung delapan jam hingga pukul 16:00 sore. “Mereka menceritakan pada kami bagaimana sampai mereka berada di Polres Ternate,” katanya kepada Rappler, Senin, 16 Mei.

Menurut Adlun, pada malam itu sekitar pukul 23:00 malam waktu Indonesia Bagian Timur di rumah AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara), ia dijemput oleh dua orang tentara berpakaian sipil.

Kemudian empat orang anggota intel Komando Distrik Militer (Kodim) 1501 yang juga berpakaian sipil ternyata menyusul. Mereka dipimpin oleh Dan Unit Intel Kodim Letda INF Andri Gusti Wijaya. Tanpa basa-basi, tentara-tentara tersebut langsung melakukan penggeledahan dan memeriksa semua barang-barang di kantor AMAN Maluku Utara.

Dari penggeledahan itu, Unit Intel Kodim mengamankan beberapa buku, satu buah laptop dan kaus yang menurut mereka mengandung paham komunis.

Buku-buku yang diamankan termasuk Nalar yang memberontak, Kekerasan Budaya Pasca 1965, kumpulan cerpen Penjagal itu telah mati, Orang yang di persimpangan Kiri Jalan, Bekerja dan Berkarya Jangan Berharap pada Negara, dan bahkan buku investigasi Majalah Tempo berjudul Lekra dan Geger 1965.

Selain itu, juga disita kaus bergambang cangkir Pecinta Kopi Indonesia (PKI), kaus warna hitam bertuliskan 1965 masalah-masalah yang tak selesai-selesai, dan kaus Munir Melawan Lupa.

Selanjutnya, Rabu, pukul 04:00 pagi, keduanya mengaku dipaksa menandatangani surat pernyataan yang berbunyi bahwa mereka tidak akan lagi mengunakan atribut-atribut Pencinta Kopi Indonesia (PKI) dan bahan-bahan lain yang mengarah ke paham komunis.

Setelah menemani Adlun selama delapan jam, kondisi kesehatan Yahya menurun. Ia pamit, dan meminta rekannya, Ubaidi, untuk menggantikannya.

Dua hari berselang, tepatnya pada Jumat, 13 Mei, polisi menetapkan Adlun sebagai tersangka. “Karena sudah ditingkatkan menjadi tersangka, maka kami buat surat kuasa,” ujarnya.

Malam harinya, di hari yang sama saat keduanya ditetapkan sebagai tersangka dan dimintai keterangan untuk Berita Acara Pemeriksaan (BAP), penasehat hukum Adlun dan polisi berdebat tentang buku yang disita dari aktivis literasi tersebut.

“Kalau di pihak kita, buku yang mereka baca adalah buku umum, dan penjualan kaus tersebut hanya untuk alasan ekonomis belaka, tidak ada tujuan lain,” ujar Yahya.

Setelah BAP disusun, pengacara masih keberatan dengan isi berita. Karena itu, polisi mengeluarkan berita acara penolakan status tersangka untuk Adlun.

Di saat yang sama, pengacara juga meminta penangguhan penahanan, mengingat Adlun masih duduk di bangku kuliah dan memiliki tanggungan sebagai pengajar di jalanan.

Sehari-hari, Adlun, 20 tahun, adalah mahasiswa Universitas Ternate jurusan Antropologi Sosial dan aktivis sebagai pengajar untuk anak jalanan.

Dengan kedua pertimbangan tersebut, akhirnya Polres Ternate setuju untuk menangguhkan penahanan Adlun dan rekannya.

“Akhirnya Kapolres mengabulkan permohonan penanggguhan penahanan tadi malam sekitar pukul 22:00 mereka dikeluarkan dari Polres Ternate,” ujarnya. (Zu/Rappler)

%d blogger menyukai ini: