Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Bangsa ini Dilecehkan Oleh Pemerkosa

Bangsa ini Dilecehkan Oleh Pemerkosa

PR besar bagi pemerintahan dan  aparat penegak keadilan untuk memangkas habis kasus-kasus pemerkosaan di negeri ini. Sehingga bangsa ini bisa menjadi bangasa yang bermartabat dan menjadi bangsa yang bermoral, karena baik buruknya suatu negara dapat dilihat dari moralnya

pemerkosaan

Sketsanews.com – Hampir seluruh masyarakat kita kini masih fokus dengan kasus pemerkosaan. Menipisnya moral dalam kehidupan saat ini, seolah menunjukkan hilangnya sebuah panutan, patron, dan jati diri bangsa. Makin maraknya kejahatan seksual dengan berbagai motif di Indonesia menjadi pembahasan tersendiri di kalangan untuk mendorong pemerintah mengeluarkan solusi atas permasalahan tersebut.

Tindakan pemerkosaan yang dilayangkan pada anak-anak di bawah umur, tidak hanya merusak masa depan, tetapi juga berpotensi mengganggu kejiwaan dan kehidupan sosialnya. Bisa saja, korban yang merasa dirinya telah ternoda tidak berani berbaur dengan lingkungan karena malu. Selain itu, gunjingan masyarakat sekitar bisa saja mengakibatkan korban semakin terpuruk. Jika hal ini berlangsung terus-menerus, tanpa ada dukungan untuk memicu keberanian korban tampil kembali di depan publik, tidak tertutup kemungkinan korban justru akan mengalami gangguan kejiwaan dan depresi.

Dengan maraknya kasus pemerkosaan yang muncul akhir-akhir ini, menunjukkan kalau pemerintah Indonesia masih harus kerja keras untuk membuat negara menjadi aman bagi perempuan dan anak-anak.

Berikut rangkuman kasus-kasus pemerkosaan yang menjadi sorotan publik beberapa bulan terakhir, pasca kasus YY:

YY, 14 tahun, Bengkulu

Kasus ini merupakan titik tolak pergerakan masyarakat untuk menuntaskan kasus perkosaan. Kejadian bermula saat YY tengah berjalan pulang dari sekolahnya pada Sabtu, 2 April 2016. Di saat yang bersamaan, 14 orang pelaku tengah berkumpul di salah satu titik yang dilalui YY. Mereka mencegat YY di dekat kebun karet milih salah seorang warga. Sempat ada penolakan, ia disekap dan dianiaya hingga pingsan. Para pelaku kemudian mengikat tangan dan kaki korban dan bergantian memerkosanya. Ironisnya, para pelaku ada yang masih seusia YY, bahkan yang paling tua baru berusia 23 tahun. Tubuh YY yang sudah tak bernyawa kemudian dibuang oleh para pelaku ke dalam jurang. Dua hari kemudian ditemukan dalam keadaan sudah berbelatung. Para pelaku bahkan berpura-pura dan sempat terlibat dalam pencarian jasad YY.

Rekontruksi pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun dilakukan oleh 12 tersangka Foto: Ivan/Bengkulu Ekspress/JPG
Rekontruksi pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun dilakukan oleh 12 tersangka Foto: Ivan/Bengkulu Ekspress/JPG

F, 19 tahun, Manado

Belum tuntas kasus YY, ada kasus F, seorang gadis 19 tahun yang diperkosa 15 orang. Ia diduga diperkosa di dua lokasi, yakni Manado dan Gorontalo, pada Januari lalu. Saat itu, ia diajak dua tetangga wanitanya ke daerah Bolangitang, Sulawesi Utara. Di sana, ia dipaksa mengonsumsi narkoba, dan dalam keadaan tak sadar diboyong ke suatu penginapan. Dalam kondisi tersebut, ia diperkosa bergilir. Kasus ini baru terungkap ke publik setelah pada 7 Mei lalu. Orangtua korban menambahkan kalau anaknya mendapat penganiayaan dari pelaku. Bahkan, dua di antaranya diduga merupakan aparat keamanan. Saat ini, sudah ada dua tersangka yang ditetapkan, yakni Y dan M yang merupakan dua tetangga korban. Mereka diduga turut menganiaya korbam.

Bunga, 13 tahun, Surabaya

Dalam kasus ini, Bunga, anak 13 tahun, diperkosa bergilir oleh 8 orang. Ironisnya, para pelaku semuanya masih di bawah umur. Bahkan, ada yang masih duduk di sekolah dasar.

LN, 2,5 tahun, Bogor

Seorang balita ditemukan tewas di belakang rumah seorang warga di Desa Girimulya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menurut polisi, korban diperkosa dan dibekap mulutnya hingga kehabisan nafas. Mereka juga menemukan beberapa bekas luka di tubuhnya. Polisi cepat meringkuk pelaku, yakni tetangga korban, Budiansyah. Berdasarkan keterangannya, kejadian berlangsung saat korban bermain bersama keponakan pelaku yang sama-sama 2,5 tahun. Mereka berdua sedang menonton televisi, lalu pelaku mengajak korban di dalam kamarnya. Setelah itu, ia berupaya membujuk untuk membelainya. Namun, karena korban menolak, pelaku menjadi kesal dan melilitkan kain selimut ke tubuh korban. Kejadian ini terjadi pada 11 Mei 2016. Kepada media dan polisi, pelaku mengaku tega memperkosa korban lantaran ingin memiliki kekasih. Orang dewasa biasanya akan langsung menolak dirinya, namun anak-anak, menurutnya, dapat dipaksa jika menolak.

EF, 18 tahun, Tangerang

Seorang perempuan tak berbusana dan tubuh babak belur ditemukan tewas di dalam kamar karyawan Polyta Global Mandiri, di Jalan Raya Perancis Pergudangan 8 Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang. Pada bagian kemaluan korban, tertancap sebuah cangkul. Polisi kemudian meringkus tiga orang pelaku, di mana salah satunya masih berusia 15 tahun. “Sebelum tewas, pelaku sempat memerkosa korban,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang, AKBP Sutarmo. Pertama, pelaku membekap korban dengan bantal hingga lemas, lalu memerkosanya bergantian. Setelah itu, mereka berencana menghabisi korban dengan pisau; namun tak dapat menemukannya. Akhirnya, pacul yang berada di sekitar kamar korbanlah yang digunakan untuk membunuh. Pukulan pertama dilayangkan ke bagian kepala yang masih tertutup bantal, lalu untuk memastikan nyawanya melayang, pelaku juga menghujamkannya ke kemaluan korban.

Inilah yang menjadi PR besar bagi pemerintahan dan  aparat penegak keadilan untuk memangkas habis kasus-kasus pemerkosaan di negeri ini. Sehingga bangsa ini bisa menjadi bangasa yang bermartabat dan menjadi bangsa yang bermoral, karena baik buruknya suatu negara dapat dilihat dari moralnya. (Vi)

%d blogger menyukai ini: